
Sore harinya Kasih dan Zidan hanya menonton televisi, mereka bingung harus apa. seperti tak ada kerjaan, dan semuanya membosankan.
Gruyuk! Gruyuk!
Kasih menatap perut Zidan, Kasih seketika mengingat saat Zidan tidak mengenakan baju semalam. Tato ditangan kirinya membuat Kasih meremang, Kasih ingat betul bagaimana bentuk tubuh Zidan.
"Saya laper,.."
Kasih kembali sadar saat lirihan Zidan terdengar.
"Mau makan?"
Zidan mengangguk, ia memeluk perut Kasih.
"Mau makan apa mau tidur?"
"Dua-duanya.."
Kasih menggeleng, ia melepaskan tangan berurat itu dari perutnya. Ia jadi sedikit ngeri jika berdekatan dengan Zidan, hahaha trauma lah tuh.
"Jadi satu untuk saya.."
Kasih menunduk, menatap Zidan yang sedang memeluk perutnya. Kasih tau pasti yang barusan Zidan ucapkan adalah, Kasih hamil.
"Mau makan apa Mas?"
Zidan menggeleng, ia mengangkat baju Kasih.
"Mas!"
Zidan mendongak, ia menatap wajah bete Kasih. Zidan memainkan pusat tubuh Kasih membuat Kasih geli bukan main.
"Mas ih!"
"Saya mau makan sop, kamu bikinin ya?"
Kasih mengangguk, ia bisa jika disuruh masak. Asal jangan disuruh hitung-menghitung ah sudah Kasih meledak!
"Yaudah awas!"
Zidan beranjak, Kasih meninggalkan kamar dan berjalan menuju dapur. Zidan mengikuti Kasih, niatnya sih untuk usil.
Kasih sibuk mengambil bahan-bahan di kulkas, untung semuanya ada. Kasih kemudian mulai memotong wortel setelah dikikir dahulu.
"Mas mau apa kesini?"
Zidan berdiri dibelakang Kasih, memeluk wanita yang tengah bergulat dengan pisau itu. mencium leher Kasih sesekali, namun Kasih tak peduli ia anggap saja angin lalu.
"Kamu beneran bisa masak?"
"Bisa dong.
Zidan duduk dikursi dan menopang dagunya dengan tangan, Kasih masih asyik memotong sayur campuran sayur sop.
Srek!
"Sduh!"
Zidan berdiri, ia menatap jari telunjuk Kasih yang berdarah karna teriris pisau. Zidan menatap darah itu, sesaat setelah itu meneriaki bodygard.
"Ada apa tuan?"
"Panggil dokter!"
"Baik."
"Ini gak pa-"
Bodygard sudah berlalu sembari menempelkan ponsel ditelinganya.
"Mas!"
"Kamu gak papa? pusing?"
"Apasih, orang cuma keiris doang. lebay, ih!"
"Dokter nya mana Ilham?"
"Menuju kesini tuan."
"Jangan lama, nanti infeksi."
Kasih menggeleng, ia tak paham dengan watak Zidan yang seperti kerasukan. Terlalu overprotektif, Kasih juga tak bisa mengelak.
"Dimana yang sakit?" Ujar dokter wanita yang baru sampai.
Zidan menyodorkan telunjuk Kasih yang teriris sedikit, Kasih menutup matanya karna malu. Ia sungguh malu dengan sikap suaminya ini, aduh kelebihan sayang...
"Cepetan dok, kenapa diem?"
"Baik baik, saya beri obat merah saja ya."
"Dok ini parah, keluar darah. Kasih bisa kekurangan darah. Tolong yang bener dong kerjanya, nanti istri saya kenapa-kenapa."
Dokter menahan tawanya, Kasih melotot dan mencoba menghentikan Zidan yang lebay.
__ADS_1
"Ini tidak apa-apa tuan, hanya teriris dan tidak berbahaya." Ujar dokter wanita yang tampak menahan tawa.
"Gak bahaya gimana, kalo istri saya infeksi gimana. Cepet obatin, nanti dia demam dokter!"
"Mas udah, ini cuma keiris doang kenapa di ributin sih."
"Diem, saya gak ngomong sama kamu!"
Kasih mendelik dan tersenyum maklum pada dokter, dokter tak bisa berbuat banyak selain menuruti ucapan Zidan.
"Kok cuma plaster sih, kalo lukanya kegores gimana dokter?"
"Mas.."
"Diem Kasih!"
"ini tidak apa-apa tuan, percaya sama saya."
"Balut, kalo Kasih kenapa-kenapa saya gak mau!"
Dokter menurut lagi, hanya keiris biasa padahal. Bisa dikasih plaster pun sembuh, namun Zidan keras kepala.
"Makasih dokter, maaf karna suami saya kerasukan dedemit."
"Gak papa bu, saya juga terimakasih karna telah di percaya untuk mengobati luka ibu."
"Maaf ya dok sekali lagi, dia emang gitu."
"Gak papa bu, saya ngerti. Namanya suami pasti ingin yang terbaik untuk istrinya, saya permisi."
Kasih tersenyum, dokter wanita itu menghilang dibalik tembok. Zidan meniup luka Kasih yang sekarang sudah dibalut kain kasa, ntahlah ia tak mengerti.
"Mas udahlah jangan kaya gini terus, aku gak papa!"
"Kasih, kamu itu istri saya. Saya itu suami kamu, dan kamu itu udah tanggung jawab. Saya gak mau papa kamu kecewa karna liat putri kesayangannya menderita sama saya, kamu diem aja!"
"Tapi Mas terlalu berlebihan, aku gak nyaman."
"Diem, jangan ngebantah terus!"
Kasih menggeram, tak bisa memang melawan Zidan dengan marah sekalipun. Karna yang ada nanti Zidan yang lebih marah, Kasih sendiri tak mengerti.
Malam harinya pukul 19:45.
"Pake selimutnya Kasih!"
Kasih mendelik, ia memakai selimbut tebal itu.
"Mas emang biasa sama cewek gini ya?"
"Overprotektif banget."
"Gak."
"Terus kenapa sama aku?"
"Kamu beda."
"Apa?"
"Udah jangan banyak nanya, tidur. Besok mau pulang apa netep disini?"
"Terserah."
"Kok terserah sih?"
"Ya aku ikut suamiku aja..."
Zidan tersenyum, ia memeluk Kasih erat. Detik kemudian Zidan mengecup kepala Kasih, Kasih tak keberatan ia sudah biasa.
Drttttt! Drttttt!
"Sipa sih ganggu aja!"
Zidan mendengus, Kasih menggeleng dan mengambil ponselnya. Zidan sebal karna ci**an panasnya harus ditunda karna dering panggilan, haduh sabar dong..
"Siapa Ka?"
"Mama kamu."
Zidan mengeryitkan dahi, kemudian mendekati Kasih.
"Ia ma, kenapa?"
[kamu sama Zidan gak Ka, mama udah telpon dia. Hp nya mati atau gimana sih?]
"Iya ma, hp Kenzo mati. Ada apa Ma?"
[mama ada perlu sama Zidan, kasih hp nya ya]
"Oh iya ma."
Kasih mengoper ponselnya, Zidan dengan wajah bingung menerima ponsel itu.
"Kenapa Ma?"
__ADS_1
[mama mau bicara, Kasih jangan sampe denger]
Zidan menatap Kasih, jika mama seperti ini pasti mama ingin bicara serius.
"Saya pinjem hp nya, mama mau bicara."
Kasih mengangguk.
"Sebentar Ma."
Zidan keluar kamar dan duduk disoffa ruang tengah, mulai mendengarkan seksama ucapan mama.
"Kenapa Ma?"
[Raisa kesini, dia kerumah dan cari kamu. mama bilang kamu sudah menikah, dia malah nangis kejer tadi]
"Apa ma?"
[kamu ini kok ceroboh banget sih Zi, kalo mau nikah ya tuntasin dulu hubungan sama dia]
"Dia baru balik dari paris Ma, aku gak ada waktu buat bicara sama dia."
[masa bodoh, itu urusan kamu. awas kalo Kasih sampai sakit hati, mama gak redo!]
"Ia ma, nanti aku urus."
Tut!
Zidan mengacak rambut prustasi, untung Kasih dan dirinya sedang disini. Kalo Raisa tau Zidan disini bersama istrinya, bisa gagal maning.
"Udah Mas?"
"Udah,"
"Bicarain apa sih kok serius banget."
"Oh itu mama bilang-"
Drttttt! Drtttttt!
Kasih menatap lagi ponselnya, ada nomor tidak kenal menelponnya.
"Siapa?"
"Gak tau, belum aku save."
"Sini biar saya yang angkat."
Ponsel Zidan rebut, kemudian mulai menerima panggilan itu.
[Kasih, ini aku Kasih. Aku mau ketemu kamu Kiana, aku kangen sama kamu]
"Gak ada kapok-kapoknya lo!"
[Gue gak bakal kapok sebelum istri lo balik lagi sama gue]
"Lo yang buang dan lo yang pungut, Kasih sekarang jadi milik gue."
[oh oh oh, gak bisa. Kasih itu cintanya sama gue, bukan sama lo]
"oh ya?"
[Kasih, aku mau ngomong sama kamu Kasih]
"Brisik, Kasih udah tidur!"
Tut!
Kasih tertawa Zidan dengan kesal menyimpan ponsel dibawah bantal, ia selalu saja diganggu oleh dering panggilan telpon.
"Udahlah Mas jangan dibawa pusing, Kevin orangnya emang pemaksa. Aku tau sifat dia kaya apa, capek kalo diladenin."
"Dimana kamu bisa ketemu cowok modelan kaya gitu, udah matre sok kecakepan lagi. lebih baik sama saya, tampan."
Kasih tertawa, ia memukul paha Zidan dengan keras.
"Di bus, waktu itu dia nyelametin aku dari c0pet."
"Kaya gitu doang dia bisa dapetin cewek secantik kamu?"
Kasih menggelengkan kepala, Zidan mendekati Kasih. Kasih tahu pasti Zidan mau modus, Kasih segera menjauh membuat Zidan mengkerutkan kening.
"Sini Kasih..."
"Gak mau, pasti mau modus!"
Zidan menarik paksa Kasih, membuat Kasih menubruk tubuh Zidan.
..."Tidur, biar bangun pagi."...
Kasih mengangguk, ia memejamkan mata. namun kembali melotot karna Zidan memeluknya, tidak hanya memeluk tangan berurat itu masuk kedalam baju piyama Kasih.
"Mas geli tau!"
Zidan tak menjawab, Kasih menoleh kebelakang. Zidan sudah terpejam, Kasih berusaha tak peduli meskipun rasanya geli.
__ADS_1