Isteri Kecil Tuan Zidan

Isteri Kecil Tuan Zidan
Siuman


__ADS_3

"Silahkan pak jika ingin melihat pasien."


Zidan nyelonong masuk, ia duduk dikursi sebelah ranjang tempat tidur Kasih yang sedang terbaring lemah disana.


"Kasih..."


Zidan menarik tangan Kasih, ia kecup sebentar dan tatap mata yang telat menutup sempurna itu. Kening kecilnya yang selalu Zidan jitak pun sudah dibalut kain, rasanya Zidan sakit hati ingin rasanya Zidan menghabisi Kevin sekarang juga.


"Heg.."


"Kasih! Kasih.."


Kasih menganggat dadanya, Zidan melepaskan genggaman itu dan berlari keluar.


"Dokter! Dokter!"


"Kenapa Zi? Kasih kenapa?" tanya mama Kasih.


"Kasih-"


"Ada apa pak?"


"Istri saya..."


"Baik, kami periksa dulu. Sus tolong bawa pelaratannya.."


"Baik dok."


Dokter masuk begitupun dengan suster, Zidan ingin masuk namun segera ditahan suster. mama Zidan yang melihat itu pun langsung menarik anaknya untuk tenang, Zidan begitu ketakutan Kasih kenapa-kenapa.


"Sabar Zi, dokter pasti selamatin Kasih."


Zidan masih anteng berdiri didepan pintu kaca, langit sudah gelap namun dokter belum juga keluar. Itu yang membuat Zidan semakin takut.


Ceklek~


"Dokter, Istri saya.."


"Pasien drop, kesehatannya memburuk. tolong beri istirahat pasien."


"Tapi saya mau liat dok!"


"Boleh, tapi harus satu-persatu tidak boleh bebarengan."


Zidan masuk ia duduk lagi dikursi tadi, ia menatap Kasih yang masih anteng menutup mata.


"Kasih.


"Pak.. bangun."


Zidan mengerjap, ia menatap suster yang sudah ada didepannya.


"Kenapa sus?"


"Ini sudah pagi pak, pasien akan kami periksa dulu."


"Oh iya maaf.."


Zidan beranjak ia keluar dari kursi dan keluar ruangan.


Drttttttt! Drtttttt!


"Kenapa?"

__ADS_1


[kamu gak kekantor ya Zi?]


"gak."


[kenapa? kamu sakit? kata Rehan kamu gak cuti hari ini, aku temuin kamu ya?]


"Brisik!"


Tut!


Zidan memakan roti sandwich dari kantin rumah sakit, meskipun tak biasa Zidan harus membiasakan.


"Ah, ini gak enak."


Zidan masuk lagi ruang inap Kasih," ia mengecup pipi yang terlintas selang oksigen. Zidan ingin pulang dulu karna harus mandi dan membawa baju ganti untuk Kasih.


"Kamu tunggu disini sayang..."


Zidan menyentuh tangan Kasih sebentar, ia mulai menjauhi ranjang Kasih.


"M-Mas.."


Zidan berbalik, ia menatap Kasih yang matanya mulai membuka namun tak sempurna.


"Kasih!"


Zidan duduk dengan cepat, ia mengecup pipi Kasih lagi. Kasih mengelak namun ia tak bisa berbuat banyak, karna tubuhnya terasa sakit semua.


"Kasih, kamu bangun sayang?"


Zidan mendekap tangan kecil Kasih, Kasih berusaha untuk melepaskan. Tapi Zidan tak membiarkan itu, Zidan merindukan omelan khas Kasih.


"Mas, sakit..."


"maafin saya Kasih."


Kasih diam, ia sejujurnya tak ingat semuanya. pusing, pening, penat itu yang Kasih rasakan.


"Mas, aku laper..."


Zidan tertawa sedikit, ia kemudian mengangguk paham.


"Sebentar, saya lapor dulu sama dokter. Kamu tunggu disini ya?"


Kasih mengangguk, Zidan tersenyum iba pada wanitanya. Ia meninggalkan ruangan dan kembali dengan membawa suster.


"Ini pak untuk makan siang bu Kasih, kami permisi dulu ya."


"Terimakasih."


Kasih di sodorkan bubur toping goreng bawang goreng, Kasih meringis melihat itu. ada juga buah-buah segar lain yang suda dipotong-potong, dan tak lupa air putih segelas.


"Buisa bangun gak? kalo gak bisa yaudah gitu aja."


"Aku bisa."


Kasih mengangkat tubuhnya, tapi ia tak cukup tenaga dan kembali ambruk.


"Sayang, hati-hati."


"Aku bisa Mas."


Zidan meletakan mangkuk dan memberikan peluang untuk Kasih bangun sendiri, dan akhirnya berhasil.

__ADS_1


"Minum dulu.."


Kasih mengangguk, Zidan memberikan gelas itu dan Kasih segera minum.


"Aku kenapa bisa disini Mas?"


"Kamu itu keserempet mobil, kelapa kamu Kebentur aspal. Kaki kamu juga nabrak mobil dan memar parah, jadi jangan kecapean dulu." ujar Zidan menjelaskan sembari menyuapi Kasih.


"Terus aku sekolah gimana Mas?"


"Homeschooling aja."


"Bosen Mas, gak ada temen."


"Gak usah ngebantah, tugas kamu cuma nurut."


Kasih mengunyah sembari melototi Zidan, Kasih senang karna Zidan tak marah lagi ya meskipun Kasih harus tragis seperti ini.


"Oh iya Mas, mama gak kesini?"


"Udah, tapi pulang dulu."


"Oh gitu, Lala kesini?"


"Gak bisa, Lala kan sekolah."


"Oh iya ya, kamu udah makan?"


"Belum,"


"Ke-"


"Bisa gak, gak usah tanya-tanya terus. Kamu harus banyak istirahat, makan yang banyak. kalo nanya terus kapan makannya selesai, kamu juga harus minum obat biat cepet sembuh."


Kasih tertawa ia mengangguk patuh, tapi Zidan terlihat kesal karna ulah Kasih. Kasih hanya merindukan omelan Zidan, makannya terus memancing agar marah.


"Iya iya Mas Zidannn."


Zidan menyuapi lagi Kasih, Kasih terus memandang wajah tampan Zidan yang membuat Zidan ingin menampar wajah Kasih.


"Kenapa?"


"Kamu tambah ganteng,"


Zidan menggelengkan kepalanya, ia menatap Kasih yang dalam sekali.


"Kamu itu lagi sakit begini masih aja sempet-sempetnya gombal?"


"Ini gak gombal Mas, ini beneran!"


"Iya-iya, terserah."


Kasih tertawa lagi, Zidan rasanya ingin menelan Kasih sekarang juga.


"Abis ini saya mau pulang, mau ambil baju ganti makan dan mandi dulu. Kamu sendirian gak papa kan?"


"hem.."


"jawab, jangan ham hem ham hem."


"iya Mas, silahkan suami ku.."


"lebay!"

__ADS_1


Zidan menghilang dibalik pintu, melihat itu Kasih meringis dan merasakan sakit kening yang sedari tadi ia tahan.


__ADS_2