Isteri Kecil Tuan Zidan

Isteri Kecil Tuan Zidan
Pekara Game


__ADS_3

2 minggu telah berlalu, kini Kasih sudah pulih dan bisa berjalan dengan lancar tampa menggunakan tongkat.


"wikeednya ngebosenin gak sih Mas, cuma duduk-duduk aja."


"b aja."


Kasih menggaruk kepala tak gatal, sedangkan Zidan pokus menatap layar karna ia sedang bermain game.


"Mas!"


"ha?"


"kapan selesainya?"


"sebentar."


"dari tadi sebentar mulu!"


"iya sebentar."


Kasih menjengah lagi, membosankan juga menemani pria bermain game. rasanya seperti kacang garing, diabaikan!


"Mas.."


"sebentar, kamu bisa gak diem dulu. tanggung nih, ck!"


Kasih terpana, ia tak menyangka Zidan telah membentaknya barusan.


"oke, kalo game kebahagian kamu aku juga mau cari kebahagiaan aku."


Kasih berjalan cepat keanak tangga, ia menginjak tangga dengan cepat. Zidan memukul soffa dengan kesal, ia tak bisa diganggu jika sedang bermain.


"Kasih!"


Kasih membanting pintu keras, Zidan mengejat karna suaranya terdengar kelantai bawah. Zidan dengan segenap kekesalannya menyusul Kasih, ia tak bisa membiarkan Kasih merajuk seperti itu.


"eh mau kemana?"


"bukan urusan kamu!"


"its oke, i'm sorry!"


Kasih membawa tasnya keluar kamar, Zidan mencekal tangan Kasih. ia mencegah Kasih untuk tak pergi, masa iya sih mengizinkan.


"mau kemana Kasih?"


"lepasin, aku mau cari kehabagiaan aku!"


"aku minta maaf."


"gak peduli."


Kasih menepis tangan Zidan, Zidan dengan kesal memangku Kasih masuk kembali kekamarnya.


"lepasin, aku mau cari kebahagiaan aku!"


"iya iya aku minta maaf, jangan kemana-mana."


"Mas itu curang, aku juga kan punya kebahagiaan aku sendiri. gimana sih?"


"iya maaf sayang, aku salah."


"bagus kalo nyadar!"


Zidan mengusap sekilas kepala Kasih, ia keluar kamar lagi. ia ingin menyelesaikan permainannya tadi, masalah Kasih kan sudah beres.


"ah akhirnya..."


Zidan duduk di soffa lagi, Kasih keluar kamar dan menatap murka Zidan yang malah melanjutkan.


"Mas kok malah lanjut sih, Mas itu emang gak peka. aku marah sama Mas, aku ngambek bukannya di bujuk malah lanjut main. emang ya cowo itu sama aja!"


Zidan mengusap wajahnya, ia.menatap Kasih yang sedang ngomel-ngomel bak ibu-ibu kekurangan uang belanja.


"syut, sini."


"gak!"


"sini dulu."


"gak mau, lanjut aja. aku benci sama Mas, dasar cowo sama aja."


"sini dulu sayang.."


Kasih memang memaki Zidan, namun kakinya melangkah mendekati pria itu.


"sini coba."


"mau apa?"


"sini duduk."


"gak."


"sini dulu, marah-marah mulu."


Kasih mendelik, namun ia tetap duduk di samping Zidan.

__ADS_1


"bukan disini, tapi disini..."


Kasih dipangku untuk duduk dipangkuan Zidan, kini Kasih dan Zidan begitu dekat. Kasih merasa, jantungnya akan copot sebentar lagi.


"kamu boleh mainin apa aja, asal jangan ganggu."


Kasih menatap mata Zidan yang pokus lagi pada layar, Kasih menggigit bibir bawahnya dan sedikit setuju. jika berhadapan seperti ini, Zidan malah tambah ganteng.


"Mas.."


"hem?"


"pantesan Raisa gak mau lepasin kamu, orang Mas nya aja kaya gini."


"jangan bahas Raisa."


Kasih memilin jakun Zidan yang naik turun, Zidan tegang karna ia tengah bermain game dan harus pokus semaksimal mungkin.


"Mas.."


"hem?"


"Mas cinta kan sama aku?"


"iya."


"iya apa?"


"iya tadi."


"tadi apa?"


"iya cinta sama kamu."


"apa buktinya?"


"bukti apa?"


"bukti kalo kamu cinta sama aku."


"ngapain harus pake bukti."


"biar jelas."


"nanti aja."


Kasih cemberut, ia ingin beranjak dari pangkuan Zidan. Zidan dengan sikap cool nya menahan tubuh Kasih, namun matanya masih pokus pada layar.


Chup!


"Mas!"


Kasih menahan senyumnya, ia menatap Zidan yang yang seakan masih asyik memainkan game tersebut.


"Mas.."


"apa?"


"Mas kalo punya anak mau berapa?"


"ngapain nanya itu?"


"jawab aja!"


"2."


"beneran?"


"iya, kenapa?"


"kembar?"


"bukan."


"terus?"


"cowo cewe."


"anak pertama apa?"


"cowo lah, buat penerus."


"ooh gitu."


"kenapa?"


"gak papa."


Zidan tak menjawab ia pokus pada permainannya, Kazih yang tadinya bosen mememani suami ngegame sekarang malah seru juga.


"Mas.."


"apalagi?"


Kasih menghembuskan nafas tak senang, ia sama sekali tidak senang karna jawaban Zidan.


"Mas gak suka aku nanya-nanya?"

__ADS_1


"suka."


"terus kenapa tadi bilang apalagi, kalo gak suka ya udah. aku mau keluar aja, cari angin."


"saya gak bilang gitu."


Kasih beranjak, Zidan mengunci punggung Kasih dengan tangannya. Kasih kembali nubruk tubuh Zidan, wajahnya bahkan menabr4k leher Zidan.


"curang banget sih, kamu pikir gak bosen nungguin orang main game kaya gini."


"terus mau nya kaya gimana?"


"udah main nya, hari-hari biasa kan Mas kerja. hari wikeend masa game, terus hari apa sama aku?"


"sama kamu kan tiap malem."


Kasih memukul dada Zidan yang, permbicaraan apapun itu pasti jalan Zidan kesana.


"apaansih!"


Kasih memeluk Zidan, menggelitik pria itu agar sudah bermainnya. namun Zidan bukan tipecal orang geli-an jadi tak ada juga gunanya.


"seharusnya hari wikeend kita itu habisin waktu bersama, bukan malah sibuk sama game!"


Zidan tak menjawab, ia mendekap Kasih dan mengelusnya sebentar. Kasih jadi mengantuk diperlakukan seperti itu, pantes Raisa nempel banget yaaaa.


"hoam.."


Kasih memeluk Zidan, ia terlelap didada pria itu. Zidan mengelusnya meskipun ia masih pokus pada game nya, Kasih tidur itu lebih bagus karna tak ada yang ganggu.


*


"Kasih.. bangun."


Kasih kebo tak kunjung bangun, Zidan sebenarnya belum menyelesaikan game nya. tapi Zidan khawatir Kasih bisa sengklek karna tidur dengan cara seperti ini.


"heh bangun.."


"hem?"


"bangun, pindah gih."


"Mas udah selesai?"


"belum."


"ish!"


Kasih beranjak, ia berjalan dengan kesal dan masuk kamar. Zidan menatap sebentar, kemudian ia pokus lagi pada permainannya.


"harus bales ini, gak bisa di biarin!"


Kasih mundar mandir mencari ide, ia menjentikan tangannya kala inde pintarnya masuk.


Plak! Plak! Plak!


Kasih menghentakan langkahnya, hal itu membuat Zidan menoleh.


"mau kemana?"


"kerumah mama!"


"mau ngapain?"


"mau cari kebahagiaan!"


"iya iya oke oke, sini."


"gak, aku mau kerumah mama. mau ngadu, mau nginep."


"kenapa harus nginep?"


"prioritas Mas kan game, bukan aku!"


Zidan mematikan permainannya, ia berjalan kearah Kasih yang sedang menyimpan tangannya dipinggang.


"mau kamu apa sekarang?"


"gak mau apa-apa."


Zidan memangku Kasih, ia membawa Kasih kekamar. mengunci pintu dan tiduran.


"udah kan? mau kamu apa?"


"Mas itu aku kan bosen, kemana-mana gak boleh. dirumah dikacangin, gimana ada yang betah?"


"jangan ngomel-ngomel mulu, gak baik buat bumil cantik kaya kamu."


"Mas aku gak hamil."


Zidan terkekeh, ia menarik Kasih dan memeluk wanita itu. Kasih sedikit tersenyum meskipun segera di hilangkan saat Zidan menatapnya.


"karna kamu udah buat saya keganggu main game, gimana kalo kita sama-sama main game."


"aku gak bisa."


"semalam lancar."

__ADS_1


"Mas!"


__ADS_2