
Sore Zidan baru selesai membereskan pekerjaannya, ia beranjak dari kursinya lalu meregangkan ototnya. sungguh tak enak berlama-lama duduk, sungguh.
"Ka-"
Zidan menatap Kasih yang sedang meringkuk disoffa, pantas sedari tadi suaranya lenyap. ternyata gadis ini tertidur pulas disini, Zidan mendekati gadis yang wajahnya bulat itu.
"Kasih, bangun sayang..."
Kasih tak kunjung bangun, Zidan mengusap pipinya.
"Emmm.."
Kasih malah menarik tangan Zidan dan menjadikannya bantal, Zidan menggeleng dan memangku Kasih.
Semua karyawan yang berniat pulang dikejutkan oleh bosnya yang memangku gadis asing dengan ala bridle syle, Kasih masih saja ngebo dan tidak menyadari.
"Hemm.."
Kasih terusik karna Zidan menidurkan Kasih dikursi mobil, namun Zidan dengan cepat menepuk pelan punggung Kasih membuat gadis itu kembali tidur.
Zidan melajukan mobilnya, namun satu tangannya menyangga kepala Kasih yang terus merosot dan menggangu gadis itu terlelap.
"Kasih, kamu gak mau bangun?.."
Kasih masih saja terlelap, ia tak menyadari jika ia sudah dikamar rumah Zidan.
"Kasih..."
Kasih membuka matanya, Zidan tersenyum tipis Kasih menggaruk kepala tak gatal ia duduk dan menyender dikepala ranjang.
"Nyenyak?"
Kasih tersenyum simpul, Zidan menggelengkan kepalanya dan mendekati Kasih.
"Sepkarang jam berapa?"
"Jam 7 malem, kamu mandi terus makan. saya bangunin kamu buat makan, udah makan tidur lagi."
"Hem."
"Yaudah sana mandi."
Kasih nurut, ia masuk kamar mandi dan keluar dengan handuk putih. Zidan berdiri melihat Kasih yang hanya menggunakan handuk, leher dan wajahnya mengucurkan air yang wangi.
Zidan berjalan kearah Kasih, Kasih belum menyadari karna ia masuk pokus mencari baju. Hingga Zidan mendekap gadis itu, barulah Kasih menoleh.
"Mas Zi.."
"Kamu wangi.."
Kasih tersenyum, namun ia berusaha untuk melepaskan pelukan itu.
"Sana pake baju, kalo kelamaan liat kamu kaya gini saya bisa kehilangan kendali."
Kasih terkekeh, Zidan melepaskan pelukan dan keluar kamar. Entahlah, Kasih tak tahu kemana pria itu pergi.
"Zidan, Zidan.."
Kasih memakai piyama maroon dengan baju tangan panjang dan juga celana panjang, Kasih tak berani bersolek ia takut hal yang tak ingin terjadi malah terjadi.
Kasih duduk dimeja makan dengan Zidan yang sudah ada disana, tadi saat Kasih bangun Zidan terlihat sudah segar. Itu tandanya, Zidan sudah mandi sebelum Kasih bangun.
"Makan yang banyak."
Kasih mengangguk, ia bahkan lapar sekali.
"Besok saya udah gak kerja, mau liburan kemana?"
Kasih melotot, ia sungguh tak salah mendengar?
"Mas Zidan ajak aku liburan?"
"Hem."
"Beneran?"
Zidan mengangguk, Kasih tersenyum gembira.
"Jadi, mau kemana?" tanya Zidan.
"Puncak, yaahh?"
"Oke."
Kasih mengunyah dengan menggoyangkan kakinya, ia kesenangan sampai ingin berteriak dan loncat-loncat.
Zidan menatap kaki kecil Kasih yang tak henti-hentinya bergoyang, Zidan terkekeh. Itu lucu, Zidan tak kuat.
"Kapan Mas?"
__ADS_1
"Besok."
"Beneran? Semendadak itu?"
"Iya,"
"Oke!"
Kasih beranjak dari kursi dan berjalan meniki tangga, ia masuk kamar dan mencoba untuk tidur agar cepat-cepet besok.
"Kasih!"
Kasih baru saja terpejam, ia sudah diteriaki.
"Kenapa?"
"Bikinin kopi gih."
Kasih dengan malas beranjak dari ranjang dan berjalan meninggalkan kamar.
"Biasanya suruh bibi, kenapa harus aku?"
Kasih bukannya tak suka disuruh, namun ia baru saja akan tidur.
Ting!
Kasih menoleh kearah ponsel yang tergeletak dimeja makan, ponsel itu Kasih kenali. Itu milik Zidan!
"Tumben.."
Kasih menoleh dulu kesana kemari untuk memastikan tidak ada Zidan, ia kemudian menyimpan secangkir kopi itu dan mengambil ponsel Zidan.
@Raisa
[gimana kabar kamu sayang, aku baru sampe indo.]
Ting!
@Raisa
[besok kamu udah mulai libur kan? kamu kerumah aku aja, aku kangen.]
Kasih menggelengkan kepalanya, ia baru ingat jika Zidan masih punya pacar.
Ting!
@Raisa
Kasih menunduk untuk tetap tegar meskipun rasanya hati Kasih ingin meletus dan menangis.
"Ngapain aku berharap sama Zidan, dia kan punya pacar.."
Kasih dengan sakit hati membawa kopi itu kekamar, ia mencoba untuk mengatur suara agar tidak terdengar mencurigakan.
"Ini kopinya."
"Makasih, kamu liat hp saya gak?"
Kasih menggeleng.
"Kemana ya, pasti lupa simpen."
Zidan terlihat mencari ponselnya, Kasih duduk diranjang dengan tatapan nyalang.
"Sku mau nanya boleh?"
"Nanya apa?"
"Mas Zidan masih punya hubungan sama pacarnya?"
Zidan terhenyak dengan pertanyaan Kasih.
"Kenapa? Tumben nanya itu?"
"Aku nanya jadi Mas Zidan cuma jawab aja, ngerti?"
"Oke oke, ulang."
"Mas Zi masih ada hubungan sama pacarnya?"
"Gak tau, dia lari 2 bulan lalu keparis dan kita udah jarang juga kirim pesan. Mungkin dia udah lupa atau emang punya yang lain, kenapa?"
"Jadi belum pasti kalian pisah?"
"Iya,"
"Dia tau kalo kita udah nikah?"
"Gak tau juga, mungkin nggak."
__ADS_1
"Oke, aku mau tidur."
Zidan mengangguk, ia mematikan lampu dan menyelimbuti Kasih. Ia keluar kamar karna ingin mencari ponselnya, sedangkan Kasih ingin sekali menyuruh Zidan memutuskan pacarnya.
Chup!
Sebelum Kasih terlelap betul ia merasakan ada kecupan dikeningnya, tak ia hiraukan karna itu pasti dari Zidan.
Drttttt! Drttttt!
Kasih terbangun karna panggilan telpon yang masuk pada ponsel Zidan.
"Dari siapa sih, udah malem juga.."
Kasih merampas ponsel Zidan yang ada ditangannya, namun Zidan tak menyadari karna ia ketiduran.
@Raisa
[tadi kenapa read aku sih, aku kan kangen]
@Zidan
[tdi lupa naro hp, kamu udah di indo sekarang?]
@Raisa
[iya, baru sampe tadi sore]
@Zidan
[nanti ketemu kalo aku sempet, tpi gak bisa besok]
@Raisa
[kenapa? kamu udah gak sayang sama aku?]
@Zidan
[aku gak bilang gitu, besok ada kerjaan. jangan ganggu dulu, udah aku mau tidur]
@Raisa
[yaudah deh, good sleep babe!]
Kasih melepaskan ponsel dengan kecewa, kenapa Zidan tidak memberi pin atau kunci lainnya diponselnya. Agar Kasih tidak mudah mengetahui, kalo sudah begini kan hatinya juga terkoyak.
'Sadar Ka, kamu itu cuma istri terpaksa Zidan. kamu gak ada hak untuk Zidan, Zidan cuma milik Raisa seutuhnya!'
Kasih menyimpan kembali ponsel Zidan, ia tak menghiraukan panggilan telpon yang terus memenuhi indra pendengarnya.
"Hemmm...."
Zidan terusik, mungkin panggilan itu membuat Zidan berisik dan terbangun.
"Mau kemana?"
Zidan menatap Kasih, Zidan menatap ponselnya yang sudah ada banyak panggilan tak terjawab dari Raisa.
"Toilet."
"Kenapa bawa hp?"
Zidan menatap ponselnya, ia menjadi bingung harus apa. Antara menjaga mood Raisa atau mengecewakan Kasih.
"Aku tau, angkat aja."
Zidan bengong, ia kemudian melempar ponselya kearah Kasih.
"Kamu aja yang angkat, saya mau ketoilet."
Zidan meninggalkan Kasih dengan perasaan bingung, ia menatap nama Raisa diponsel suaminya.
"Kenapa ada kejadian kaya gini disaat aku udah mau buka hati tuhan.."
Kasih memilih mematikan ponsel Zidan dari pada harus berisik karna ponselnya terus berbunyi.
"Idah?"
Zidan mengangguk, ia menatap ponselnya yang sudah mati.
"Aku matiin hp nya, aku mau lanjut tidur."
"Masalah Raisa saya bereskan nanti, kamu jangan marah."
"Aku gak marah, seharusnya Raisa yang marah sama aku."
"Ka, udah sekarang tidur. Besok harus fresh, kita kan mau kepuncak."
"Raisa?"
__ADS_1
"Raisa masalah saya, jangan nanya-nanya lagi. Cepet tidur!"
Kasih mengangguk, baru kemarin ia dikhianati sang mantan sekarang ia harus menelan pahit jika seseorang yang sudah membuatnya baper ternyata punya pacar.