Isteri Kecil Tuan Zidan

Isteri Kecil Tuan Zidan
Kevin Vs Zidan


__ADS_3

"mau kemana Kasih?"


Kasih menoleh sebentar.


"keluar."


Wajah Kasih benar-benar datar, ia tak seperti biasanya yang selalu mengulas senyum cantiknya.


"Mau saya anter?"


"Gak usah."


Kasih meninggalkan rumah Zidan, Zidan menatap punggung yang mendorong gerbang untuk keluar. Ia ingin mengikuti dan membuntuti, namun Zidan tak mau Kasih semakin marah karnanya.


"Ya terus mau gimana lagi?.."


Kasih menangis, Niken dengan sabar menenangkan Kasih agar temannya ini bisa sabar.


"Dia dia bekas orang lain Ne, sumpah gue gak bakal nyerahin harga diri gue sama cowok kaya Zidan. Gue cape-cape jaga, dan gue dikasih bekas!"


Niken menggelengkan kepala, Kasih masih menangis. Membuat taman bermain itu menjadi haru.


Drttttttt! Drtttttt!


"Iya ma, iya iya aku pulang sekarang."


Niken memasukan ponselnya, ia menatap Kasih yang masih menangis.


"Gue minta maaf, gue harus pulang sekarang Na.."


Kasih mengangguk.


"Lo mau gue anter pulang?"


"Gak usah, gue bisa naik taksi."


"Yaudah, gue pulang ya.."


Kasih mengangguk, Niken pergi meninggalkan taman itu. Sedangkan Kasih meratapi dirinya dan bertahan untuk tidak menangis lagi.


"Kamu harus bisa Kasih!"


Kasih meninggalkan taman, ia berjalan sembari menunggu taksi lewat.


"Kasih!"


Kasih menoleh, ia melotot kala melihat pria yang amat ia benci ada dihadapannya.


"Kamu lagi apa?"


"Kevin,.."


Grep!


"Aku kangen kamu Kasih, aku minta maaf. Aku janji aku berubah, aku gak bakal selingkuh lagi.."


Chup!


Kasih melotot, Kevin sungguh gila ia mencium dan memeluk Kasih dengan serakah. Ia seakan lupa jika didepannya adalah gadis yang telah ia campakan.


"Lepasin!"


Kevin menjauh setelah Kasih mendorong tubuh jangkungnya, Kasih berlari menjauhi Kevin namun pria itu menarik tubuh Kasih.


"Kasih, aku minta maaf.. aku mau kamu balik Ka, aku janji Kasih.."


"Lepasin, atau aku teriak!"

__ADS_1


Kevin tertawa, tempat sepi seperti ini mana ada orang.


"Silahkan.."


"To-"


Chup!


Kasih mendorong dan memukul dada bidang Kevin, Kevin dengan membara mengencup dan mel**t bibir Kasih.


"Kasih!"


Kasih mendorong Kevin, itu kekuatan terakhirnya. Kasih menoleh dan terlihat ada Zidan menatap mereka.


"Apa-apaan kamu hah?"


"Ini, ini gak kaya di pikir-"


Brugh!


"Kamu lagi kamu lagi, dasar cowok sialan. mau apa kamu gangguin hidup Kasih terus?"


"Kasih pacar gue, dan lo yang jadi penghacur dihubungan gue sama Kasih!"


Brugh!


Kasih menatap suami dan mantan pacarnya saling meninju, namun Kevin terlihat kalah jauh. Kasih menarik Zidan untuk menghentikan itu semua.


"STOP! ZIDAN, AKU BENCI SAMA KAMU. KAMU DAN KEVIN ITU SAMA AJA, AKU BENCI KALIAN!"


Kasih meninggalkan Zidan dan Kevin, Kasih menagis sembari menghentikan taksi. Kasih masuk, Zidan dengan putus asa memukul kaca mobil agar Kasih tak pergi.


"Kasih!!!"


Taksi melaju, Zidan menunjuk Kevin sebagai ancaman. Namun Kevin berlari kearah motornya dan mengejar taksi, begitupun dengan Zidan ia berlari kearah mobilnya.


"sialan, Kevin sialan!" teriak Zidan.


"Maaf mbak, ada pengendara motor yang menghadang."


Kasih menoleh, ia menatap Kevin yang melepaskan helm hitamnya.


"Kasih, keluar Kasih."


"saya turun disini pak, ini ongkosnya."


Kasih memberikan uang pada supir itu, ia keluar dengan kesal. Ia tak mau jika Kevin menumbur ini mobil orang.


Brem!


Detik berikutnya Zidan datang, Kasih pusing melihat ini.


"Pulang sama saya Kasih!"


"Aku mohon, kita perlu bicara Kasih."


Tangan kanan Kasih ditarik Zidan namun tangan kirinya ditarik Kevin.


"Lepasin! kalian kekanak-kanankan tau, aku gak mau sama kalian."


Kasih menghempaskan kedua tangannya, Zidan menarik Kasih dan memaksa untuk masuk mobil.


"Aku gak mau, urusin aja Raisa. Aku gak mau liat muka kamu lagi Zidan!"


Kevin menyimak, ia menatap wajah Kasih yang sudah basah air mata.


"Kamu masih punya hutang buat cerita sama saya, kenapa kamu ci*man sama Kevin Kasih."

__ADS_1


"Itu bukan urusan kamu."


"Kasih, kamu itu istri saya!"


"Tapi terpaksa, tidak ada cinta!"


"Kamu, saya ada!"


"Omong kosong, aku benci sama kamu. Dan lepasin!"


Zidan memeluk Kasih, Kasih bergerak brutal untuk melepaskan pelukan itu. Jika saja Kasih tak benar-benar marah, Zidan ingin menindih tubuh Kasih keranjang yang tersedia.


"Lepasin Mas, aku gak mau!"


"Saya minta maaf, saya janji bakal beresin urusan saya sama Raisa. Jangan pernah deketin Kevin lagi Kasih, saya mohon.."


"Aku muak, aku muak sama janji cowok. mereka pasti mengulangi dan mengulanginya lagi, lepasin aku!"


"Saya janji, jangan tinggalin saya Kasih. Saya udah cinta sama kamu, saya mohon.."


Kasih melemah, ia mendengar sesegukan dari Zidan.


"Omong kosong, aku udah gak percaya cinta. Aku muak sama semuanya, aku benci cinta!"


Zidan mengeratkan pelukannya, bisa Kasih rasakan dada Zidan yang bidang menghapit wajahnya.


"Lepasin Zidan, lepasin aku.."


"Aku gak akan ngelepasin kamu, kamu udah jadi milik saya Kasih. Milik saya seutuhnya..."


"Lepasin Mas, kamu harus tanggung jawab sama Raisa."


Zidan melepaskan pelukannya, ia menatap mata Kasih yang sudah berembun sedari tadi.


"Saya pernah melakukan itu sama Raisa, tapi itu bukan pertama kalinya untuk Raisa. Itu juga gak akan pengaruh sama Raisa, karna saya gak sampai."


"Maksud Mas?"


"Saya cukup waras untuk tidak menyebar benih saya diwanita seperti Raisa."


Kasih tertawa, bagaimana bisa Zidan mengatakan itu. Kasih punya mata, Raisa itu cantik dan memiliki wajah hot. Bagaimana bisa Zidan mengatakan tidak menyebar benihnya diwanita seperti Raisa?


"Omong kosong!"


"saya gak bohong, saya cuma mau kamu yang jadi ibu buat anak saya. Kasih.."


Zidan memeluk lagi Kasih, mengecup pucuk kepala Kasih sebentar. Dan membisikan kata-kata romantis untuk Kasih, Kasih menyadarkan diri untuk tiba gampang baper namun Zidan begitu hebat menggodanya.


"Kamu maafin saya?"


"Gak, aku masih kecewa sama Mas!"


"Karna apa?"


"Mas tau aku itu udah jaga baik-baik, karna kata orang jodoh itu cerminan diri. Aku gak nyangka aja kalo Mas itu udah gak perj4ka, nyesel aku nyerahinnya sama Mas. Kalo gitu endingnya, mending aku kasih aja sama mantanku yang dulu-dulu. Biar seimbang, biar Mas tau rasanya!"


Zidan tertawa, Kasih malah mendelik.


"Ih kenapa ketawa?"


"Gak papa, kamu lucu kalo lagi ngomel. Nanti-nanti, kalo kamu kesel ataupun marah. Jangan ditekuk, bilang aja.."


"Gak jelas!"


"Terus gimana sekarang, maafin saya kan?"


"Gak!"

__ADS_1


"Kenapa?"


"Kamu nanyea?"


__ADS_2