
Pagi harinya Kasih membuka matanya, ia menatap pria yang tengah memeluknya. biasanya Kasih melepaskan pelukan itu namun sekarang berbeda, Kasih malah mendekap pria itu.
"Jam berapa sekarang?"
Kasih menggeleng mendapat pertanyaan dari Zidan, Kasih memang tak tahu sekarang jam berapa.
"Bangun terus mandi, kamu harus sarapan."
"Aku masih ngantuk, Mas Zidan aja."
Zidan mengeryitkan dahi.
"Gak papa kan?"
Zidan tersenyum lalu mengangguk, ia suka dengan nama panggilan baru nya.
"Kamu gak sekolah?"
Kasih menggeleng.
"Kenapa?"
"Udah masuk libur panjang."
"Oh ya?"
Kasih mengangguk.
"Masa libur panjang dirumah aja, gak mau keluar?"
Kasih menggeleng, ia jadi trauma keluar rumah ia takut mengetahui yang seharusnya tidak ia ketahui.
"Hari ini saya masih kerja, mau ikut kekantor?"
Kasih menatap Zidan, kemudian mengangguk.
"Siap-siap,"
Kasih beranjak dan masuk kamar mandi, Kasih keluar dengan handuk kimono putih. Zidan kemudian masuk kamar mandi dan keluar setelah beberapa saat.
"Aku gak ada rok..."
"Pake aja yang ada."
"Gak ada, semuanya celana. gak ada rok span, masa kekantor pake celana?"
"Gak papa, kamu kan gak kerja. Cuma duduk aja, pake apa aja cocok."
Kasih tersenyum simpul Zidan juga bersiap memakai kemeja dasi dan jas, tentu saja tidak dibantu Kasih karena Kasih masih sungkan untuk berdekatan.
"Udah?"
Kasih mengangguk mereka keluar rumah dan menuju bagasi untuk berangkat kekantor, Kasih memakai celana pendek diatas lutut dengan baju kaos putih dan kunciran khas bocil.
"Semalem kenapa nangis nya hebat banget?"
Kasih menoleh, ia menatap Zidan yang tengah pokus menyetir.
"Gak papa."
"Jujur aja, saya pinter jaga rahasia kok."
"Ceritanya panjang."
"Gimana kalo kamu ceritainnya dari belakang, terus kedepan."
"Gimana caranya?"
Zidan mendekati Kasih, tapi tangannya masih pokus mengendalikan kemudi.
Chup!
"Astaga.."
__ADS_1
Kasih menunduk, kenapa Zidan jadi makin kesini makin berani ya sama si Kasih.
"Hukuman karna kamu belum seutuhnya percaya sama saya."
"Kevin selingkuh."
Brak!
"Sduh!"
Zidan merem mendadak, membuat kepala Kasih kepentok.
"Maaf, maksud kamu gimana?"
"Kevin selingkuh."
Zidan tertawa tak percaya, bagaimana bisa Zidan percaya terlihat jika Kasih ini bucin betul pada Kevin.
"Maksudnya gimana?
"Budek apa gimana sih, aku bilang Kevin selingkuh!"
"Hah? gak salah denger?"
"Gak!"
"Kok bisa sih?"
"tau, tanya sendiri sama dia."
Zidanc tertawa namun hatinya mengiba, Kasih cemberut tak suka dengan tingkah suaminya. Jingga sampai perkiran Kasih enggan untuk turun.
"Kenapa?"
"Aku malu, masa pake celana."
"Kamu kan ostri saya Kasih, gak bakal ada yang marahin."
"Masa, emang Mas Zidan disini siapa?"
Kasih akhirnya mengalah, ia menepis rasa malu dan berjalan masuk kegedung itu.
"Pak.."
Kasih menatap wanita dengan pakain formal itu, sepertinya dia pegawai disini. Tapi bisakah jangan ganjen sama suami orang, ih menyebalkan!
"Kamu duduk aja, jangan ganggu."
"Jadi maksudnya Mas Zidan ajak aku kesini buat duduk aja?"
"Ya mau ngapain lagi?"
"Ih nyebelin dong!"
Zidan tak peduli, ia mulai memainkan laptopnya dan mulai bekerja. Membuat Kasih yang duduk disoffa beranjak karna bosan, ia mendekati jendela itu dan menatap kebawah yang sudah membuat lutut lemes.
"Kenapa Kasih?"
Kasih menoleh, Zidan memeluk Kasih dari belakang. Kasih melepaskan pulakan Zidan namun Zidan malah memeluk perut Kasih.
"Lepas."
"Kamu jangan sampe ada pikiran buat bvnvh diri ya, itu gak baik. Dosa Kasih , gak boleh."
"Siapa yang mau bvnvh diri?"
"Kamu ngapain liat itu kebawah?"
"Sstaga, aku cuma liat aja. Pemandangannya bagus, lepasin balik sana kerja."
"Beneran?"
"Ia.."
__ADS_1
Zidan melepaskan pelukannya dan kembali kekursi kepemilikannya, Kasih menatap Zidan yang tampak serius bekerja.
'Kalo aku bahagia sama Zidan, Kevin pasti kebakaran jenggot.'
Kasih tersenyum, ia harus membuat Zidan cinta padanya. Jika Zidan sudah bucin, Kasih ingin melihat apakah Zidan seg*bl*k dirinya.
"Mas Zi.."
"Hem?"
Kasih menatap Zidan, tapi Zidan masih pokus bekerja.
"Disini ada CCTV?"
Zidan mengangguk.
"Gak asik."
"Kenapa?"
Kasih mendekati Zidan, ia meraih tangannya dan duduk dipangkuan Zidan.
"Kasih, jangan ganggu.."
"Aku gak ganggu, aku cuma mau duduk."
"Duduk disoffa, jangan disini."
"Gak mau, aku mau disini."
Zidan acuh, ia mulai lagi bekerja dengan keadaan Kasih dipangkuannya dan menghadap dirinya.
"Mas Zi..."
"Apa sih Ka, saya disini."
Kasih mengerucutkan bibirnya, dan memainkan bibir Zidan.
"Jangan ganggu, astaga."
"Siapa yang ganggu."
"Ngapain pegang-pegang."
"Gak boleh?"
"Yaudah." Lanjut Kasih yang diam melipat tangannya didada.
Zidan menggelengkan kepalanya, ia menarik tangan Kasih lagi dan menyimpannya dibibirnya.
"Jangan ganggu."
Kasih tersenyum, gampang ternyata buat si Zidan takluk.
Chup!
Zidan masih belum merespon kecupan yang Kasih berikan barusan.
Chup!
Kasih mendelik, masa sepokus itu Zidan kerja sampai tidak merespon kecupan manisnya dibibirnya barusan.
Chup!
"Ehmmm.."
Zidan menekan kepala Kasih agar semakin mendekat, Kasih terhenyak karna ternyata ci*man Zidan begitu hebat hingga Kasih tak bisa mengimbangi.
"Huuuuh.."
Kasih melotot setelah ci*man itu berhenti, namun Zidan dengan santai melap bibirnya dan kembali bekerja.
"Makanya, jangan suka goda-goda orang."
__ADS_1
Kasih cemberut, tak ia sangka jika pria didepannya ini siluman singa berkepala kucing yang berati kadang-kadang ganas kadang-kadang lembut.
'kalo kaya gini, bisa aku yang baper.'