Isteri Kecil Tuan Zidan

Isteri Kecil Tuan Zidan
Kompelik


__ADS_3

"Zidan cari Kasih dulu, nanti Zidan kabari jika Kasih sudah ketemu. Ma,"


"Mama mohon Zidan, cari Kasih.."


"Zidan usahakan ya, Ma."


"Hati-hati Zi..."


Zidan mengangguk, mobil hitam melaju.


"Dimana aku bisa nemuin Kasih, secara hp nya pun gak aktip."


Zidan memijat pelipisnya, ia mulai pusing sekarang. apalagi, langit sudah gelap.


"kemana kamu Kasih...."


Zidan menatap ponselnya, ia sungguh tak terpikirkan harus bagaimana sekarang. Sudah kalang kabut, sudah buntu otaknya.


"Kasih tolong, kamu kenapa kaya gini Kasih.


Zidan berhenti di halte bus, ia harus mengisi perutnya sebentar karna sedari tadi Zidan belum makan apapun. Ia sibuk, ia sibuk mencari Kasih.


"Maaf pak, pernah melihat cewe difoto ini?"


Zidan mengulurkan ponselnya dan melihatkan poto Kasih saat tersenyum, manis sekali. Sih bapak sampai melongo, tapi detik berikutnya ia menggeleng.


"Nggak pak."


Zidan menghembuskan nafas, ia semakin jengkel. Moelaporkan ke polisi pun kasusnya baru beberapa jam, dan itu pasti tidak akan diterima.


"makasih pak."


Si bapak mengangguk, Zidan harus menanyakan lagi kesiapa? malam-malam begini, manusia sudah tidur.


Ting!


Zidan terperejat, ia menatap dirinya yang ternyata tidur di mobil. Segera ia membenarkan posisinya, dan mengecek ponselnya.


"Astaga, kenapa bisa aku tidur di mobil..."


@uknow


[gimana Zidan, kamu sudah bertemu istri cantikmu itu?]


Zidan mengeryit, no siapa ini. Kenapa dia tahu jika dirinya tengah sibuk mencari istrinya, yaitu Kasih.


@Zidan


[siapa kamu, dasar pengecut!]


@uknow


[sabar, istri kamu aman disini]


@Zidan


[dimana dia sekarang, sialan]


@uknow


send a photo.


"Kasih!"


Zidan meremas ponsel dengan kesal, sudah semalaman Zidan mencari Kasih. Ternyata K' tengah tidur nyenyak ditemani sang mantan kekasih, Zidan muak melihatnya.


@uknow


[ups, gak sengaja]

__ADS_1


Zidan membanting ponsel ke jok belakang, hari sudah pagi dan Zidan melajukan mobilnya cepat kerumah.


"Cari Kasih sampai dapat, lihat lokasi pngirim poto ini."


"Baik tuan!"


Suruhan Zidan mengecek semuanya, dan untungnya suruhan Zidan itu pintar-pintar dan termasuk anak IT dan tentu saja mudah melacak ini.


"Sudah ketemu tuan."


"Dimana?"


"Di hotel bintang lima pusat kota, poto ini di ambil jam satu dini hari."


"sialan kamu Kasih!"


"Temani aku kesana, cepat!"


"Baik tuan. Zidan dan anak buahnya dengan tergesa-gesa langsung berangkat kesana, Zidan dengan amarahnya beberapa kali menghembuskan nafas agar tenang.


'Kenapa kamu lakuin ini sama saya Kasih, bukankah kamu udah cinta sama saya? atau jangan-jangan Kasih di paksa? Atau bisa jadi Kasih sendiri yang mau? Itu berati Kasih masih mencintai cowok sialan itu, ya tuhan Kasih kenapa kamu melakukan itu? apa yang sudah kalian lakukan diruangan tertutup seperti itu?' Batin Zidan mulai overthingking.


"Tuan sudah sampai."


Zidan keluar dari mobil ia masuk hotel tampa permisi, ini adalah hotel bintang lima yang amat mahal. Kenapa Kasih bisa disini, mengingatnya saja sudah membuat Zidan sakit.


"Kevin, lepasin sakit!"


Zidan menoleh, ia menatap Kasih yang masih memakai seragam sekolahnya. Ia berlari kearah mereka, Kasih menyadari ada Zidan.


"Mas-"


"Bawak Kasih pulang, saya ada urusan sama cowok sialan ini."


Kasih ditarik keluar, Zidan menarik kerah kemeja Kevin dan menyeretnya keluar hotel.


"Tidak kapok kamu hah, apa yang kamu lakukan sama Kasih?"


"APA?!"


Zidan sudah melayangkan tangannya, namun segera seorang wanita menahannya.


"Zidan, jangan.."


"Raisa, kenapa kamu disini?"


"Aku gak sengaja lewat, kamu kenapa ribut disini?"


"Bukan urusan kamu."


"Hadeh, gue gak paham sama suami jaman sekarang. Dia deket sama cewek, tapi istrinya gak boleh deket sama cowok lain. lagipun, Kasih pacar gue."


"Jaga mulutmu Kevin,"


Brugh!


"Zidan, stop!"


Raisa meraih tangan Zidan, ia menatap lengan besar itu. wajah Zidan sudah memerah menahan amarah, Raisa tau Zidan marah besar.


"Jangan selesaikan urusan dengan kekerasan, coba jelaskan lebih detail sama aku.."


Kevin melambaikan tangannya saat Zidan dipaksa ditarik menjauhi Kevin oleh Raisa.


"Semoga berhasil kamu Raisa..." lirih Kevin.


Zidan dan Raisa duduk dikursi besi dibawah pohon, Zidan masih saja menunduk. ia seakan sakit hati dengan kejadian hari ini, sungguh.


"Kenapa Zi, kamu bisa cerita sama aku.."

__ADS_1


"Ini bukan urusan kamu, aku mau pulang."


"Jangan, jangan pulang dulu. Kamu harus mendinginkan otak kamu dulu, supaya dirumah kalian gak ribut."


Zidan tertekun, ada benarnya juga ucapan Raisa.


"Kenapa Zi, kamu bisa cerita sama aku.."


"kemarin Kasih lenyap begitu saja, hp nya gak aktip. Temannya bilang ia pulang naik taksi, tapi gak sampai rumah. Ternyata, mereka berdua.."


Raisa menarik Zidan, mereka saling berpelukan.


"Sabar, seharusnya tidak seperti ini jika Kasih tau batasan antara mantan dan mantan. Ini tidak seratus persen salah pria itu, Kasih juga yang tak mau melawan."


Zidan mengangguk, ia juga berpikiran seperti itu.


"Sabar ya, kamu harus sabar."


Zidan memeluk Raisa, Raisa tersenyum kecut dan merasa senang. pria dambaannya telah kembali, dasar gatal lah kau!


"Sekarang kamu pulang, ceraikan saja wanita seperti itu. Jika Kasih seperti ini terus, mental kamu yang jadi taruhannya."


"cerai? tapi aku gak kepikiran kesana."


"Zidan, Kasih itu wanita toxic. Bisa saja dia membuat karangan cerita agar tidak diketahui perselingkuhannya, aku kasihan sama kamu Zi. plis, dengerin ucapan aku."


Zidan melepaskan pelukan, memang ucapan Raisa benar. Jika seperti ini terus, mental Zidan lah yang menjadi taruhannya. Tapi tidak dengan bercerai, memikirkannya saja tidak.


"Sku pulang dulu, terimakasih."


Raisa mengangguk, Zidan enyah dihadapan Raisa. Zidan ingin mendengar penjelasan itu dari mulut Kasih langsung, Zidan butuh itu.


"Dimana Kasih?"


"Dikamar tuan,"


Zidan masuk kamar, nampak Kasih yang baru saja mandi. Tampa basa basi, Zidan langsung menarik wanita itu.


"Hem bagus Kasih, bagus. Saya semalaman cari kamu, sampe ketiduran di mobil dan kamu enak-enakan tidur sama cowok itu?"


"Maksud Mas, Kevin?"


"Siapa lagi?!"


"Aku gak ngapa-ngapain, aku dipaksa ikut sama dia. Dia bahkan gak sentuh aku sedikitpun, Mas percaya kan?"


"Percaya kamu bilang? ini apa?!"


Kasih menutup mulutnya, ia sungguh ternganga dengan poto menohok itu.


"Apa ini Mas, sumpah aku gak kaya gini."


"Alah, kamu itu istri gak tau di untung Kasih. saya kan udah bilang, jangan ada hubungan sama cowok itu lagi."


"Tapi aku gak pernah kaya gini Mas, aku berani sumpah!"


"Diem kamu, tutup mulutnya. Kamu sengaja nonaktipkan hp nya biar kamu leluasa buat selingkuh begitu?"


"Mas, apa itu? hp aku habis batre, aku ambil hp aku sekarang. biar Mas percaya,"


"Alah gak usah, keluar kamu dari sini."


"Mas tapi aku-"


"KELUAR!


Kasih didorong keluar kamar oleh tangan besar Zidan, Kasih menangis. Baru kali ini Kasih mendengar suara kasar dan marah Zidan, dan sungguh begitu menyakitkan.


"Mas buka, itu poto hoax Mas. Buka pintu nya, biar aku jelasin dulu!"

__ADS_1


Tak ada jawaban, Kasih melap air matanya dan turun kebawah untuk makan.


__ADS_2