
"Mas kapan pulang?"
[ini mau pulang, kenapa?]
"gak papa."
[mau apa?]
"gak papa."
[bilang aja]
"Mas gak mungkin turutin."
[mau apa?]
"nggak."
Tut!
Kasih tersenyum kecut sembari mendekap ponselnya, ia hanya ingin mengerjai Zidan.
Ting!
@Zidan
[mau apa?]
Kasih tertawa, ternyata Zidan membujuk Kasih.
@Kasih
[gak usah, Mas pasti gak turutin]
@Zidan
[saya mau pulang, sekalian]
@Kasih
[gak usah, Mas pulang aja. aku yakin Mas gak akan turutin kemauan aku]
@Zidan
[bilang aja apa susahnya sih]
@Kasih
[aku mandi dulu ya Mas, bye..]
Zidan menggaruk kepalanya, ia menatap ponsel nya kemudian meremasnya. Zidan tau jika Zidan pulang tanpa membawa permintaan Kasih itu, Kasih pasti merajuk.
"ribet!"
Zidan tak mau harus berdebat dengan Kasih, mau besar mau kecil Zidan tak mau itu. Zidan bahagia dekat dengan Kasih, Zidan tak mau jauh-jauh dari Kasih.
"mau apa ya Kasih..."
Zidan malajukan mobilnya, ia berhenti disebuah minimarket dan memborong snack favorit Kasih.
"ini? ah tapi kayaknya Kasih gak lagi pengen jajan."
Bruk!
Zidan melempar snack seplastik besar itu, ia melajukan lagi mobilnya dan berhenti ditoko boneka.
"dulu Kasih bilang mau boneka beruang, siapa tau dia pengen ini."
Zidan masuk dan membeli dua boneka beruang lucu pilihannya. ia masuk lagi ke dalam mobil dan menatap dua boneka itu, Zidan memutar itu dan melempar lagi ke jok belakang supaya bergabung bersama snack itu.
"gak, gak mungkin Kasih mau boneka. dia bilang itu 2 minggu lalu, huh mau apa dong dia?"
Zidan melajukan lagi mobilnya, kali ini ia berhenti didepan gerbang rumahnya. ia klakson kuat-kuat dan pintu segera terbuka, Zidan kemudian masuk kepekarangan rumahnya dan keluar mobil.
"Mas udah pulang?"
"hem."
__ADS_1
"titipan aku mana?"
"kamu nitip apa?"
"aku kan bilang, aku nitip snack!"
"ada tuh di mobil."
Kasih membulatkan matanya, kenapa Zidan
bisa memenuhi keinginannya itu.
"bukan cuam snakc Mas, aku mau boneka beruang yang aku mau itu."
"ada dimobil, ambil aja."
Zidan masuk dengan gagah dan sombongnya, Kasih meraih kedua tongkatnya dan berjalan kearah Zidan yang hendak masuk kamar mandi.
"Mas tunggu."
"apa?"
"aaaa aduh aduh!"
Hap!
Zidan menangkap Kasih yang tersenggol dirinya dan mengakibatkan Kasih kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh.
"hati-hati apa gak bisa Kasih?"
"maaf,.."
Zidan mendudukan Kasih diranjang, ia menyenderkan tongkat Kasih agar saat Kasih kemana-mana tak kerepotan.
"Mas kok tau aku mau itu?"
"tugas kamu cuma nerima dan gak usah kepo."
"aku mau tau, aku kan istri kamu!"
"apa?"
"kamu istri saya?"
"iyalah, dan Mas suami aku!"
"tugas istri sama suami apa?"
"nurut."
"selain itu?"
"melayani suami."
"pintar, sebentar saya mandi dulu. setelah itu, baru kamu mulai tugas kamu sebagai istri."
"Mas, bukan itu!"
"nananana nanana~"
"dasar m3sum!"
*
"hem.."
Zidan terbangun tepat jam 02:13 dini hari. ia menatap Kasih yang sedang tertidur sembari memeluknya, Zidan beranjak dan masuk toilet.
Bruk!
Zidan kembali merebahkan diri dan memeluk Kasih, ia menatap wanita itu dalam sekali. sedalam palung mariana, ups canda.
"Kasih
.."
"hem?"
__ADS_1
"bangun."
"aku ngantuk Mas..."
"bangun."
"nggak."
"bangun!"
"gak.."
Zidan menggoyangkan tubuh Kasih, namun Kasih tak kunjung bangun. ia memainkan hidung minimalis Kasih, namun tak juga bangun ini kebo.
"makan yuk?"
"ayo."
Zidan tertawa, Kasih membuka matanya dan menatap Zidan.
"kalo soal makan aja, langsung!"
Zidan memeluk Kasih, Kasih melepaskan pelukan itu dengan kasar. ia kesal karna tidurnya telah di ganggu, dasar Zidan.
"Ih kenapa?" Zidan meraihnya lagi.
"jangan harap!"
Zidan tertawa dan menarik Kasih kepelukannya, Zidan membungkus kepala Kasih yang kecil kedalam selimut.
"Mas ih!"
"abisnya sih, punya kepala kaya biji rambutan."
"enak aja!"
Kasih cemberut namun detik kemudian ia tersenyum, mereka saling tatap dan membuat Kasih canggung. namun Zidan dengan segera menarik Kasih kepelukannya, agar canggung itu sirna.
Chup!
Zidan mengecup kepala Kasih, Kasih bisa merasakan dada Zidan yang bidang juga perutnya yang seperti roti sobek.
"Kasih.."
Kasih mendongak, ia menatap Zidan yang masih mencium rambutnya. detik kemudian, Zidan turun kearah perut Kiana.
"jadilah satu untukku.."
Kasih melotot, Zidan ternyata masih mendambakan Kasih hamil.
"Kasih.."
"hem?"
"sekarang kamu tidur, baru jam dua."
Kasih mengangguk patuh, ia melepaskan pelukannya dan akan membelik namun Zidan mencegahnya.
"mau kemana?"
Kasih tidak menjawab, ia menatap mata Zidan yang tajam. Kasih mulai menyadari jika Zidan masih tampan, bahkan bangun tidur sekalipun.
"kenapa?"
Kasih menggeleng, Zidan memeluk Kasih erat sekali ia seakan gemas dengan wanita didepannya.
"Kasih.."
"apa?"
"kamu cinta kan sama saya?"
Kasih melepaskan pelukan itu dan menatap mata Zidan, karna tak tahu harus apa akhirnya Kasih mengangguk saja.
"really?"
Kasih mengangguk saja, ia tak mau salah bicara barang sebentar saja.
__ADS_1
"good night babe."
Kasih mengangguk, Zidan mengeratkan pelukan semakin erat. Kasih ingin protes, tpi jika di pikir-pikir lumayan juga.