
"Heghh..."
Kasih terbangun karna suara kicauan burung, Kasih membuka matanya. ia menguceknya sebentar, kemudian mulai sadar.
"Astaga.."
Kasih menatap dirinya yang sudah bert**jang bulat namun tertutup oleh selimbut tebal.
"Kamu gila Ka kamu gila, bisa-bisa nya kamu nyerahin harta berharga kamu!"
Kasih memukul kepalanya, ia meratapi nasibnya yang sudah kepalang tanggung.
"Kasih kamu kenapa?"
Kasih menatap Zidan yang baru bangun, ia menangis kala mengingat kejadian semalam yang bisa Kasih lihat Zidan itu macho sekali.
"Hey, kenapa? Kenapa nangis?"
"Jangan pegang-pegang aku!"
Kasih mengambil handuk putih dinakas kemudian memakaikannya, Zidan yang tak mengerti ingin menyusul Kasih namun saat selimut disingkap Zidan mengerti kenapa Kiana seperti itu.
"Astaga Zidan!"
Zidan memukul kasur dengan kesal, ia menyesali perbuatannya yang tak bisa dikontrol. Zidan memakai handuk kimono dan menunggu Kasih keluar kamar mandi, ia menjadi gelisah.
Ceklek!
Kasih keluar dengan handuk putih yang ia tadi pakai, Zidan memalingkan wajah karna leher Kasih begitu banyak tanda merah.
"Sa-saya minta maaf, saya gak bermaksud. saya gak sadar, maafin saya Kasih.."
"Kenapa harus minta maaf?"
"Saya tau pernikahan kita bukan karna cinta, tapi saya bodoh dan gak bisa ngontrol diri saya. Saya menyesal, saya minta maaf."
"Udahlah Mas, gak ada yang harus disesali lagi sekarang."
"Kamu gak marah?"
Kasih menatap Zidan, wajah pria itu tulus jika ia sedang meminta maaf.
"Nggak."
Zidan mengkerutkan kening.
"Kok?"
"Aku mau jalan-jalan, bukan ributin masalah ini."
Zidan sempat mematung, detik berikutnya ia sadar dan masuk kamar mandi. Kasih menatap pintu kamar mandi, rasanya sedih sekali harus memberikan harta yang paling berharga kepada pria yang belum sepenuhnya ia cintai.
"Semalam, saya minta maaf."
"Stop minta maaf terus, aku fine!"
"Tapi, kenapa kamu gak marah. Aku tau kamu pertama kalinya, kenapa? Kamu kecewa sama saya?"
Zidan memilin jari telunjuk Kasih, memang pertama kalinya untuk Kasih tapi Kasih salut pada Zidan yang membuat Kasih menikmati perlahan.
"Bukan urusan Mas."
"Kenapa Ka? Kenapa kamu gak marah? Kamu bisa t4mpar saya, atau kamu pukul saya. Itu boleh, semuanya boleh. Jangan dipendem!"
Kasih menatap Zidan, ia menyimpan sendoknya sebentar.
"Apa bisa dengan marah harta yang udah aku jaga dengan baik kembali seperti semula? apa bisa dengan marah aku lari dari kenyataan? Gak bisa kan? Itu buang-buang tenaga aja."
Kasih kembali memakan sarapannya, Zidan tersentak saat Kasih mengatakan itu. Tidak seperti Raisa, dulu saat pertama kalinya menyentuh Raisa Zidan di4ncam habis-habisan oleh Raisa.
"kalo aku sampe hamil, pokoknya kamu harus tanggung jawab!"
"aku gak pernah ngelakuin ini sebelumnya Zidan!"
Itu kalimat yang Zidan ingat saat Raisa mengancamnya, Zidan pria ia tahu jika Raisa bukan wanita suci seperti Kasih. Raisa pasti sudah pernah dijamah pria, itu sebabnya Zidan berani.
"Beresin makannya, kita jalan-jalan."
Kasih mengangguk, kemudian dia mempercepat sarapannya dan bersiap untuk jalan-jalan.
"Udara disini seger banget ya Mas."
"Tapi kalo kelamaan kita tinggal disini, saya bisa setiap hari dikerokin."
"Kok bisa?"
"Masuk angin terus lah."
__ADS_1
Kasih tertawa, Zidan pun sama. mereka menyusuri jalan bebatuan yang masih penuh dengan lumpur.
Kasih memakai leging hitam dengan sendal kokop hitam juga hodie berwarna abu dipadukan dengan kunciran khas nya.
Hachih!
Kasih bersin, Zidan dengan sigap menggenggam tangan kecil Kasih agar Kasih hangat.
"Pulang yuk, dingin.."
"Baru aja lho.."
"Tapi kamu bersin."
"Gak papa, aku cuma belum terbiasa aja."
Zidan menurut saja, ia juga harus menebus rasa bersalahnya. Kasih mesem-mesem sendiri karna telah diperhatikan oleh pria setampan Zidan, aduh jantung..
"Disana yuk?"
Kasih mengangguk, Zidan dan Kasih duduk dikayu panjang yang biasa orang untuk pakai duduk. Jika duduk disini, semua hamparan teh yang hijau juga kabut yang gelap terlihat jelas.
"Pak teh anget nya dua ya," ujar Zidan pada pemilik warung.
"Siap!"
Zidan menggenggam tangan kecil Kasih, ia kecup sebentar kemudian kembali menatap hamparan kebun teh itu.
"Ini jang, dua teh manis anget!"
"Makasih pak."
Sih bapak pemilik warung tersenyum, Kasih menyeruput teh anget itu dan rasanya luar biasa. Memang teh nya tetap sama, namun suasananya berbeda.
"Dinginnya..."
Zidan mengangguk, ia beranjak untuk membeli snack dan memberikannya kepada Kasih.
"Pak itu ya satu," ucap Kasih dan menunjuk salah satu pop mi.
"Siap neng."
Zidan menggelengkan kepalanya, padahal sebelum kesini Kasih sudah sarapan tapi Kasih malah ingin mie kemasan gelas.
"Mau?"
"Hemm enak banget..."
"Kaya gak pernah makan aja."
"Ini beda Mas, coba in."
"Gak, saya gak biasa makan mie kaya gitu."
"Ini enak, cobain dulu."
Zidan menurut, Kasih menyuapi baby besar itu dan Zidan menyeruput mie nya.
"Enak?"
Zidan diam, tapi ia merebut mie itu.
"Enak banget Ka.."
Kasih tertawa, susah sih di bilangin.
"Kapan kita balik kekota Mas?"
"Gak tau, libur nya kan masih panjang. saya juga masih betah,"
"Masih betah apa masih mau modus?"
Zidan berhenti sejenak.
"Dua-duanya.."
Kasih menggeleng, ia memeluk gelas muk berisi teh manis hangat itu. Zidan beberapa kali menyuapi mie itu kemulut Kasih.
"Pulang yuk Ka, saya ngantuk."
Kasih mengangguk, ia beranjak dari papan itu dan berjalan mendahului Zidan. Karna Zidan yang membayar, Kasih berjalan sembari menunggu.
"Kasih tunggu.."
Kasih menoleh, Zidan tampak sudah jauh padahal Kasih berjalan bisa saja.
"Jangan cepet-cepet!"
__ADS_1
Kasih berhenti, Zidan kemudian meraih tangan Kasih untuk ia gandeng.
'Modus aja terus!' batin Kiana.
Sampai villa Kasih dan Zidan langsung ambruk di ranjang karna tadi perjalanan lumayan jauh membuat kedua orang itu kelelahan.
Drttttttt! Drttttttt!
Kasih menatap ponselnya, karna Kasih tak kunjung menerima panggilan membuat Zidan curiga.
"Siapa?"
Kasih memperlihatkan nama diponselnya, Zidan tak kalah terkejut.
"Kevin? Mau apa dia?"
Kasih menggeleng dan menyimpan ponselnya.
"Angkat aja dulu, siapa tau penting."
"Mau ngapain, aku sakit hati sama dia."
"Gimana kalo saya yang angkat?"
"Gak, biar aku aja."
Kasih langsung mengambil ponselnya dan menggeser tombol hijau.
"Kenapa?"
[Ka, aku gak nyangka kamu angkat telpon aku]
"Mau apa?"
[kita bisa ketemu? aku mau bilang sesuatu]
"Gak bisa,"
[kenapa? aku minta maaf, aku tau aku salah aku janji bakal berubah. Kamu maafin aku kan, kemarin aku khilaf aku janji aku berubah!]
"Gak usah minta maaf, kamu gak salah."
[jadi, kamu maafin aku?]
"JANGAN HARAP DEH!"
Tut!
Zidan melempar ponsel Kasih ke nakas, Kasih menatap ponselnya yang barusan di lempar. Kasih ingin ngomel, namun bibirnya sudah dikunci oleh Zidan.
"Mas kenapa matiin, aku kan belum jawab."
"Saya gak suka denger kamu ngobrol sama dia."
"Ya kan Mas sendiri yang suruh aku angkat telponnya."
"Pokoknya saya gak mau tau, blok dia sekarang!"
"Kok di blok?"
"Kamu kan istri saya, tugas kamu ya nurut sama saya. Kasih!"
"Iya, aku kan nanya. buat apa di blok?"
"blok aja, sini biar saya aja!"
Zidan mengambil ponsel Kasih, namun segera Kasih rebut.
"Kasih, kamu mau ngebela cowok brengsek kaya dia?"
"Sku gak ngebela, aku kan nanya. kenapa harus di blok, kan bisa di bicarain baik-baik."
"Kalo kalian masih ada kontak, itu tandanya buat kembali gampang. Saya gak suka, Kasih."
"Lo apa kabar sama Mas yang masih kontekan sama Raisa, aku gak masalahin itu."
"Karna kamu gak cinta, saya beda Kasih."
"Bedanya apa?"
"Saya cembu-"
Zidan menggantungkan ucapannya, Kasih yang sudah kepalang emosi malah dibuat bingung.
"Mas-?"
"Ia, saya cemburu. Cepet blok, jangan nunggu hidup dia saya blokir dari dunia!"
__ADS_1
Zidan meninggalkan Kasih ketoilet, Kasih tersenyum malu. Ia sungguh salting, itu tandanya jika cemburu pastilah ada secuil cinta?