
"Ini ya Mas?"
"Ambil."
Kasih memakan permen kapas berwarna pink muda, tetapi tangan lainnya memegang satu plastik berisi telur gulung basreng dan sempol.
"Mas pegang ini, aku mau itu."
Zidan dengan pasrah memegang permen kapas sempol telur gulung dan basreng itu, Kasih sudah berlari kearah sana untuk membeli es krim.
"Udah Mas, bayar sana!"
Zidan menggelengkan kepala, ia berjalan menjauhi Kasih untuk sampai tukang es krim. oh iya, mereka ada di pasar malam dan tentunya disini tukang jajan itu banyak ya.
"Enak juga punya suami, aku jajan gak perlu keluar uang."
"Tapi kan harus di bayar sayang, dan bayarannya itu beda dari apapun...."
Kasih bergidik ngeri, ia tahu pasti pikiran Zidan kearah lain. Zidan tertawa melihat raut Kasih yang seakan tahu, hahaha.
"Dasar mes*m!"
Zidan mengikuti langkah kecil Kasih, suasana di pasar malam ramai sekali. Itu menjadi kesenangan bagi Kasih, apalagi sudah malam.
"Mas itu~"
"apa?"
"Topoki."
"Yaudah.."
Kasih menyerahkan es krim itu ke Zidan, Zidan melahapnya dan seakan tidak jijik padahal itu ada bekas Kasih.
"Satu ya pak!"
Zidan berlari kearah Kasih, ia menatap olahan seperti seblak itu.
"apa ini Kasih?"
"Dasar pikun, ini namanya topoki. Populer lho di korea sana, Mas mau?"
"Kok merah?"
"eee-"
"Enggak ah, jangan pak! gak jadi."
Zidan menarik Kasih untuk menjauhi tukang topoki itu, musnah dan sirna harapannya untuk makan topoki.
"Mas ih!"
"apa?!"
"mau itu."
"pedes!"
"Nggak,"
"Nggak gimana, orang itu merah gitu!"
"Itu bubuk cabe, gak pedes kok."
"Bubuk cabe?"
Kasih mengangguk.
"Cabe pedes?"
"eee iya sih, ta-"
"Udah, gak usah tapi-tapian. Sekarang kita pulang, udah malem!"
"topoki nya?"
"Kamu itu susah di bilangin, kamu punya asam lambung dan harus di jaga. Malah makan pedes, udah pulang ayo!"
"Gak mau, aku mau topoki. Walaupun aku gak ke korea, makanannya pun gak papa."
"Tapi kan pedes Kasih."
"nggak, makanan korea itu gak pedes kaya makanan indo. ya ya ya?"
Kasih memasang wajah memelas, jika begini Zidan tak tahan.
"Yaudah!"
"YEAY!"
Kasih berlari kembali ketukang topoki itu, Zidan menghembuskan nafas jengah. Rasanya sungguh luar biasa, seperti menjaga satu anak ayam
"makasih..."
Zidan mengangguk, ia masuk mobil dan melajukannya. Kasih didalam mobil mengunyah topoki dengan imutnya, Zidan pusing melihatnya.
" Kasih.."
Sampai rumah Kasih masuk kamar cuci kaki muka dan tangan, ia berganti baju dan langng tidur. iya, langsung tidur!
"Dasar kebo, kerjaanmu cuma tidur makan main."
Zidan juga mengikuti aktivitas Kasih, ia cuci kaki tangan muka dan tidur.
"Mau bareng Ka?"
Kasih menoleh, sudah berapa kali ini Lio selalu rutin mengajak Kasih untuk pulang bersamanya.
"Aku, aku tunggu Om Ken aja. Takutnya dia jemput, makasih."
"Dia Om lo atau pacar lo sih sebenernya, gue kok gak ngerasa ya dia Om lo?"
"Om yang mana Na?"
Kasih menatap Niken, aduh bisa brabe nih.
"Om Zi katanya." sahut Lio.
"Om Zi yang mana sih Na?"
Kasih menggaruk kepalanya, ia berharap Zidan datang sekarang!
"Oh si Zidan?"
__ADS_1
Kasih menggerakan matanya untuk tidak mengatakan apapun, tapi Niken tak paham.
"Si Zidan bukan Om nya kali, tapi sua-"
"Ahahaha, Niken. Besok keluar lagi gak? gue teraktir deh."
"Boleh, beneran ya?"
Kasih mengangguk, Lio menatap kedua wanita itu heran. Bagaimana tak heran, wajah Kasih terlihat panik.
"Gue duluan ya, hati-hati Ka.."
"iya iya!"
Lio berlalu dengan motir kawasaki hitamnya, Kasih segera memukul keras lengan Niken.
"Ah, sakit!"
"Lo bisa gak sih, tutup mulutnya!"
"Tutup mulut apa?"
"Kenapa lo bilang Zidan suami gue, bisa kacau!"
"Emang seisi sekolah gak tau?"
Kasih menggeleng, Niken menutup mulutnya.
"hehe, maaf ya."
Kasih mendelik, Niken tertawa kecil.
"Udah gue pulang dulu!"
"suami lo gak jemput?"
"Niken!"
"Iya iya, si Zidan gak jemput?"
"Gak tau, lagi banyak kerjaan kayaknya."
"Yaudah deh, babay."
Kasih berdiri disebrang sekolah untuk menghentikan taksi, pucuk dicinta ulat pun tiba. taksi datang, dan Kasih segera masuk.
"mau kemana neng?"
"ke kompleks ******"
"Waduh gak bisa neng, saya mau langsung pulang."
"Hah terus gimana?"
"Turun disini aja, nunggu taksi lain."
"Hem yaudah deh."
Kasih turun, itu sebenarnya uang terkhir Kasih. Kasih tak punya uang lagi, dan kekompleksnya masih jauh.
"Gimana nih, masa jalan kaki."
Kasih meraku saku nya, ia menghidupkan ponselnya. Namun ternyata habis baterai, sial sekali.
Kasih terpaksa jalan kaki, ia lapar dan rasanya lemas.
Tit! Tit!
Kasih menginggir, ia melotot melihat siapa itu?
"Kasih, kenapa jalan kaki?"
"Bukan urusan kamu."
Kasih berjalan tapi mobil Kevin mengejar dan menghadang Kasih.
"Aku anter mau?"
"Apaansih!"
Kasih menepis tangan Kevin yang memegangnya, Kevin memaksa Kasih untuk masuk mobilnya. namun, Kasih tetap tak mau.
"Jangan macem-macem kamu Kevin, lepasin gak!"
"Aku gak akan lepasin sebelum kamu mau aku ajak main Kasih."
"Kamu gila apa, kalo Zidan tau bisa kena tonjok kamu."
"Kamu gak cinta sama dia kan?"
"Apaansih, lepas!"
"Jawab Kasih!"
"Dasar gak waras, lepasin aku!"
"Masuk!"
"Aku gak mau, jangan paksa aku!"
Kevin memangku Kasih, ia membuka pintu mobil dan memasukan Kasih secara paksa.
"Kevin, kita mau kemana. Aku mau pulang, turunin aku!"
"Diam, atau aku bunuh kamu sekarang!"
Aku gak mau, aku gak mau sama kamu Kevin!"
"Terus teriak, gak akan ada yang menyelamatkan kamu sekarang."
Kasih menangis, tangannya Kevin ikat dengan dasi nya. Oh iya, Kevin itu berusia 24 tahun. Dan sudah bekerja di salah satu perusahaan yang lumayan popoler, tapi hanya sebagai meneger biasa.
'Zidan, bantu aku~'
Disisi lain....
"Ini kamu aja yang urus, saya harus jemput Kasih kesekolah. Udah telat,"
"Pak tapi, meeting akan dimulai sebentar lagi."
"Kamu urus emang gak bisa, saya udah telat nih!"
"Tapi klaen ingin bapak sendiri yang datang dan menjumpai mereka."
__ADS_1
"Kan biasanya kamu yang handle, udah saya buru-buru."
"Tapi pak-"
"Idah, saya permisi."
Zidan mengambil jas nya, ia tau Kasih pasti menunggu nya. Apalagi ia sudah seminggu ini rutin menjemput Kasih, ia juga takut Kasih malah pulang bersama Lio.
"Hai babe!"
Zidan menoleh, terlihat Raisa yang sudah elegant dengan dres mini nya.
"Raisa, ngapain kamu kesini?"
"Dia klaen yang mau bapak temui, Queenzel Raisa Dirgantara. Dia putri dari keluarga Dirgantara, saya permisi pak."
Tangan kanan Zidan meninggalkan mereka berdua, Raisa langsung bergelayut dilengan Zidan.
"Apaansih!"
"Aku rekan kerja kamu lho Zi, kamu harus profesional dong!"
"Gak ada rekan kerja kaya gini, lepasin!"
"Kamu jangan galak-galak dong, aku kan butuh kamu..."
"Saya sibuk, kalo mau meeting sama Rehan."
"Zidan, aku kan mau ketemu kamu."
"Brisik, saya mau jemput Kasih."
"Ih emang dia itu siapa, kamu kan gak cinta dia Mas. Yang kamu cinta itu aku, tetep aku!"
"Berisik!"
Zidan memakai jas dan meninggalkan Raisa, namun Raisa dengan cepat mengejar Zidan.
"Zidan, tunggu aku."
"Kamu mau ngapain sih?"
"Aku ikut ya ya ya?"
"Kamu kesini kan buat meeting, ngapain ikut-ikut aku?"
"ya gak papa."
Raisa menggelayut lagi, Zidan dengan kasar menepis tangan Raisa.
"Aduh, aduh sakit..."
Zidan menatap wanita cantik itu, ia dengan seksama. Zidan menghembuskan nafas kesal, kemudian menghampiri Raisa.
"Sakit Zi..."
"Kamu itu mau ngapain sih, aku ada perlu!"
"Aku ikut ya~"
"Mau ngapain? kalo Kasih liat bisa brabe, Rehan urus Raisa!"
Rehan berjalan cepat, Rehan adalah tangan kanan Zidan. YANG amat Zidan percaya.
"Aku gak mau Zi, aku mau kamu~"
"REHAN!"
"Baik pak!"
Raisa ditarik keluar, Zidan berjalan sembari membenarkan jas nya. Ia beberapakali memeriksa ponselnya, berharap Kasih mengirim pesan jika ia sudah pulang tapi itu tak juga didapat.
"Udah sepi? Berati Kasih udah pulang?"
Zidan melajukan mobilnya, ia menatap ponsel dan beberapa kali mengirim pesan dan menelpon Kasih.
"Roy, istri saya udah di rumah?"
[belum, tuan]
Zidan mematikan sambungan telpon, Roy adalah satpam dirumah Zidan dan Kasih, Zidan menggaruk kepalanya, ia selalu meratapi dirinya.
"Kasih kamu dimana.."
Zidan memilih untuk kerumah mama mertuanya, siapa tahu Kasih rindu mereka dan kesana.
"Ada apa Ken, tumben kesini? dan, dimana Kasih?"
"Jadi Kasih tidak disini ma?"
"Tidak, memangnya kenapa Kasih?"
"Kasih belum sampai rumah, Zidan mau jemput tapi disekolahnya udah sepi."
"Apa keluar mungkin sama Niken?"
"Zidan gak tau, Zidan minta tolong buat hubungin Niken ya ma."
"Ia iya, sebentar."
Mama mengambil ponsel genggamnya, ia menekan no tujuannya dan dering panggilan dengan cepat terdengar.
"Niken, Kasih sama kamu kan?"
[nggak tan, Kasih udah pulang tadi naik taksi]
"oh begitu ya, makasih sebelumnya."
[iya tante, sama-sama]
Tut!
Zidan menatap mama, ia memberi kode apa jawaban Niken.
"Kasih sudah pulang tadi, naik taksi katanya."
"naik taksi?"
"Niken bilang begitu, kamu udah coba telpon Kasih?"
"Udah, tapi kayaknya habis batre."
"Aduh, kemana itu orang."
__ADS_1
Mama dan Zidan terus berpikir agar mendapatkan kabar dari Kasih, mereka tidak tahu jika Kasih tengah melawan mantan pacar gila nya itu!