
Pagi harinya Kasih terbangun karna kicauan burung, Kasih sangat menyukai suasana disini. Selain sejuk dan adem, disini juga hanya ada mereka berdua.
"Hemmmm..."
Kasih meregangkan otot, melihat kebelakang kok tidak ada Zidan ya, Kasih bangun dan duduk. Menatap pintu kamar mandi yang terbuka, itu tandanya Zidan tidak ada disana.
"Udah bangun sayang?"
Kasih menoleh kepintu, Zidan datang membawa secangkir kopi dan duduk dikursi kecil yang ada dibalkon kamar ini.
"Dari mana Mas?"
Zidan melihatkan Kasih kopi itu, Kasih menyusul dan duduk dikursi kecil disana. hanya terdapat satu buah meja dan kursi kayu kecil.
"Mama bilang, Raisa kemarin kerumah mama. dia nanyain saya, mama kasih tau kalo saya udah nikah. Dia nangis kejer, sampe mama gak tau harus apa."
Kasih menatap Zidan yang tengah menyuruput kopi hangat, tidak tahu ini jam berapa intinya suasananya seperti jam enam pagi.
"Terus gimana?"
"Gimana apanya?"
"Raisa?"
"Gak tau, saya juga bingung."
"Udah, jangan di pikirin. kita kesini kan buat liburan, jangan bawa-bawa masalah."
Zidan mengangguk, ia tersenyum miris pada Kasih. Kasih menatap Zidan yang tengah memainkan laptopnya, Kasih beranjak untuk meninggalkan Zidan.
"Mau kemana?"
"Mandi..."
"Jangan dulu, temenin saya kerja.."
"Kok kerja? Bukannya libur?"
"Tanggung, semalem dikirim file yang harus saya kerjakan. Tapi gak saya kerjain, baru sekarang."
"Oh gitu ya?
Zidan menggenggam tangan Kasih, Zidan benar-benar menepati janjinya. Yaitu tidak memainkan ponselnya selama liburan, hal itu karna tak ingin membuat Kasih cemburu.
"Mas, kita kapan pulang?"
Zidan menatap Kasih, kemudian menggeleng.
"Mau nya kapan?"
"Aku mau hari ini pulang.."
"Yaudah, siang ini kita pulang."
Kasih mengangguk senang, ia menemani Zidan bekerja sembari mengobrol penghilang jenuh.
"Kasih.."
Kasih yang tengah tertidur pulas mendengar lirihan pria, ia yang masih belum sepenuhnya sadar segera menepis itu semua dan lanjut tidur.
"Kasih bangun, kita sudah sampai sayang.."
Kasih membuka matanya sedikit, yang pertama ia lihat adalah atap mobil. Kasih terperejat, ia menarap Zidan yang menggeleng.
"Kamu bisa jalan? Mau saya gendong?"
Kasih menggeleng, dan keluar dari mobil. dihadapannya sudah ada rumah mewah bertingkah dua dan beberapa penjaga, itu rumah Zidan dan Kasih.
"Tolong turunin kopernya, terus bawa kekamar."
"Siap tuan."
Kasih dipapah oleh Zidan masuk kedalam rumah, Kasih yang masih linglung dan pusing duduk disoffa kemudian menyender dan memejamkan mata.
"Kasih, tidur dikamar sayang.."
Kasih membuka matanya, ia baru mendengar Zidan mengatakan 'sayang.'
"Apa Mas?"
__ADS_1
"Tidur dikamar, ini udah sore lho."
Kasih mengangguk, Zidan menuntun Kasih sampai kamar. Dikamar Kasih langsung ambruk diranjang, Zidan menggelengkan kepala melihat tingkah Kasih.
Tok! Tok! Tok!
Zidan membuka pintu, nampak dua penjaga membawa koper miliknya dan milik Kasih.
Zidan membawa koper itu masuk, ia membuka semua bajunya karna rasa panas yang menggangunya.
"Kasih, kamu gak mandi?"
"Mas duluan."
Zidan masuk kamar mandi, Kasih membuka satu matanya. Ia masuk selimbut karna melihat tubuh Zidan yang amat-amat dahsyat tattonya.
Terdengar air berjatuhan dari sower, Kasih mulai membayangkan bagaimana tubuh Zidan yang berurat dan berorot juga bertatto itu mengenai air sower yang gemercik.
"Pikiran apa ini Ka, hapus!"
Zidan keluar kamar mandi, rambut dan tubuhnya basah. Kasih mengatur degup jantungnya agar ia tetap bernafas.
"Mandi sana, Kasih."
"Iya tunggu."
Zidan masuk ruang ganti, Kasih masih anteng menanti suaminya kembali. Kasih terkejut karna Zidan keluar hanya memakai boxer saja dan singlet putih.
"M-mas ke-kenapa gak pa-pake baju?"
Zidan duduk disamping Kasih, Kasih bergeser. Zidan ikut bergeser, Kasih bergeser lagi. Zidan menarik Kasih, membuat wanita itu menabrak dadanya.
"Sduh.."
"Saranku Mas pake baju."
"Saya gerah Kiana,"
"Sama aku juga gerah."
"Makanya mandi."
Kasih masuk selimut, Kasih salah tingkah dengan pemandangan yang ia lihat secara terbuka.
"Oh ya?"
Zidan menarik tangan Kasih untuk ia raih, Kasih keluar dari selimut. Ia menatap Zidan dengan tatapan yang aneh, entahlah.
"Me obsesi you?"
Kasih mengangkat halisnya, ia tak paham dengan pertanyaan Zidan.
"Yes i'm."
Kasih menepuk paha Zidan, itu sudah kebiasaan cewek kalo ketawa. Membuat Zidan melotot dan menggeram, Kasih lupa jika paha besar itu tidak dialasi.
"Ma-maaf.."
Kasih beranjak dari kasur, ia berniat mandi. tapi tangan Zidan menarik Kasih, Kasih menutup matanya.
'Mampus aku...' batin Kasih.
"Mau kemana sayang?"
"Ma-mandi, kan tad-tadi di sur-suruh kan?"
"Sebelum kamu mandi, ayo main kotor-kotoran dulu sama saya."
Kasih berlari, ia tidak memperdulikan teriakan dan tawaan dari suaminya.
"Kasih, Kasih.. kamu lucu,"
Kasih masuk kamar mandi, ia mandi dan menghilangkan pikiran buruknya.
Tok! Tok! Tok!
Zidan menoleh kearah pintu, terdengar ketukan. Zidan buru-buru memasukan kakinya kedalam selimut, ia cukup waras harus bert**jang dan keluar.
"Masuk."
__ADS_1
Pelayan paruh baya masuk, ia menunduk sebentar.
"Ada wanita yang mencari tuan, dia memaksa ingin bertemu."
"siapa?"
"Saya lupa menanyai namanya tuan."
Zidan bercecak, pikirannya menerawang.
"Yaudah, makasih bi."
"Saya permisi tuan."
Zidan mengangguk, ia menatap pelayan yang sudah keluar itu. ZIdan a beranjak dari ranjang kemudian mengambil salah satu celana pendek, warna hitam.
Zidan turun dari lantai atas, ia menoleh sebentar kebawah. Ada wanita yang tengah ditahan untuk masuk, Zidan semakin mempercepat langkahnya.
"Zi-"
Grep!
Zidan mematung, wanita itu memeluk Zidan dengan serakah. Zidan sampai kewalahan dan tidak bisa melepaskan, Wow!
"Raisa, kenapa kamu disini?"
Iya, dia Raisa. Pacar Zidan, ya mereka belum sah putus kan?
"Kamu jahat Zi, kenapa kamu nikah sama orang lain?"
"Kenapa kamu disini, jangan gegabah Raisa. aku minta kamu buat pulang sekarang!"
"Aku masih kangen, kamu gak kangen sama aku?"
"Raisa, kamu sudah tau kan aku sudah nikah Raisa."
"Kamu lupa Zi, kalo kamu udah ambil khormatan aku. Aku gak akan lupa itu, dan kamu harus tanggung jawab."
Bruk!
Terdengar barang jatuh, Zidan memutar kepalanya. Kasih yang sudah siap dengan piyama dan majalah dibuat terkejut, Zidan melotot.
"Kasih!"
Kasih menaiki anak tangga karna ketahuan menguping, Zidan melepaskan cekalan Raisa.
"Zidan!"
"Diem disini, aku gak pernah ngerasa merebut kehormatan kamu. Raisa!"
"Kamu lupa Zi, kejadian itu dirumah aku. kamu yang maksa aku Zi, kamu lupa semua itu Zidan?
"Tutup mulut kamu, bawa dia keluar pak!"
Zidan mendorong Raisa, Raisa dibangunkan oleh penjaga. Membawa Raisa yang meraung-raung keluar.
"Sialan kamu ZidanZ, persetan!"
Brugh!
Raisa didorong keluar gerbang, penjaga menepuk tangan seakan jijik telah menyentuh wanita cantik ini.
"Jangan berani-beraninya kamu kesini lagi, awas kamu!"
Raisa beranjak, ia mengumpat kesal kemudian meninggalkan rumah impian Raisa dan Zidan itu. Disisi lain, Kasih tengah membereskan selimut tampa melihat Zidan ada diambang pintu.
"Kamu denger semuanya Kasih?"
"Gak, aku gak denger apa-apa."
"Raisa bener, aku pernah melaku-"
"sudah Mas, aku ngantuk. Aku mau tidur, tolong tutup pintu dan matiin lampu."
Zidan bengong, ini yang sangat Zidan kagumi dari Kasih. Kasih termasuk cewek yang susah diajak ribut, jika itu masalah besar dan Kasih memilih tidur untuk menuntaskan kekesalannya.
"Kasih, kita perlu bicara.."
"Aku ngantuk, tolong pesanku tadi."
__ADS_1
Zidan menutup pintu, Kasih membelakangi Zidan dan memejamkan matanya. meskipun rasanya berat membawa masalah itu kealam mimpi, namun Kasih senantiasa akan berusaha.