
Ting!
@mama
[Kasih sudah sadar Zi?]
@Zi
[udah ma, aku mau pulang dulu buat ambil baju]
@mama
[Kasih sendiri?]
@Zidan
[iya, aku tinggal sebentar]
@mama
[yaudah cepet balik lagi, mama siang nanti kesana]
@Zidan
[iya ma]
Selesai mandi dan membereskan baju Kasih untuk dibawa kerumah sakit, Zidan bergegas sarapan dulu.
"Ternyata rumah sepi kalo gak ada kamu.."
Zidan makan sembari menerawang, tak bisa Zidan bayangkan jika Kasih meninggalkannya. Zidan akan kesepian, sendirian dan tidak ada hal-hal yang membuat Zidan repot karna Kasih.
"Huh melelahkan..."
Zidan segera kembali kerumah sakit saat semuanya telah selesai, sampai rumah sakit Zidan melihat ada pria yang sedang mengajak ngonrol Kasih.
"Zi-"
Zidan tersenyum, ia pikir tadi itu Kevin namun ternyata abang iparnya.
"bang."
"Tadi mama bilang kalo Kasih kecelakaan, terus sebelum berangkat kekantor mampir sebentar."
Zidan mengangguk, setelah bercakap sebentar Kiano akhirnya berangkat kekantor. tugasnya sekarang menjadi CEO dan itu membuat tanggung jawabnya lebih berat, Kiano tak bisa telat sedikit.
"Saya yakin kalo Kevin tau rumah sakit ini."
Kasih yang sedang memainkan ponselnya dibuat menatap Zidan.
"Aku gak mau bahas Kevin Mas."
Zidan menunduk, Kasih memang muak jika harus membahas Kevin.
"Kenapa?"
"Aku gak mau ribut, kepala aku pusing. pening, berat banget bawaanya."
"Kan tadi udah minum obat, saya panggil dokter ya?"
"Jangan, gak usah. aku pusing kalo ribut sama kamu,"
Zidan menggelengkan kepalanya, Zidan kembali memainkan ponselnya.
"permisi pak, bu, jadwalnya ganti perban."
Zidan mengangguk, ia beranjak dari kursi dan duduk di soffa setelah itu suster mulai mengganti perbannya dan memberesihkan lukanya agar tetap bersih.
"Sudah."
"Terimakasih sus, tapi saya boleh gak jalan-jalan disekitar sini?"
"Mau apa Kasih?" tanya Zidan.
"Mau jalan-jalan."
"Kamu gak liat lutut kamu memar gitu, gimana mau jalan-jalan. Udah kamu duduk disana, saya gak mau kamu makin parah!"
Kasih menggoyangkan mulutnya seiring Zidan bicara, suster tertawa melihat tingkah keduanya. Kasih menghembuskan nafas jengah, Zidan pikir tak bosen apa ya.
"Boleh bu, tapi harus pake kursi roda."
"Beneran?"
Suster tersenyum sembari mengangguk.
"Yasudah sus, bawa kursi roda satu kesini ya."
__ADS_1
"Kasih mau apa sih?!"
"Mas, aku mau jalan-jalan tau!"
"Kamu susah banget di bilangin, kalo kamu tambah sakit gimana?"
"Gak papa, tenang aja. Aku bosen lho disini, ya yya ya ya?"
Zidan menghembuskan nafas berat, Kasih itu Queen Of melas. Zidan tak tahan melihat wajah Kasih yang sedang memelas, rasanya tak tega.
"Teserah kamu!"
Suster menghilang saat dapat jawaban dari Zidan, kembali dengan membawa kursi roda. Kasih Kasih tersenyum gembira, Zidan menatap tak peduli.
"Saya permisi pak bu, ibu bisa jalan-jalan ketaman belakang dan taman depan."
"Makasih ya sus."
"Sama-sama."
Kasih dipangku oleh Zidan untuk duduk dikursi roda, Kasih menatap Zidan dengan tatapan cekikikan. Beda dengan Zidan yang menatap malas Kasih.
"Yuk Mas, let's go!"
Lesga lesgo lesga lesgo!"
Kasih cekikikan, Zidan juga tersenyum namun ia masih terlalu gengsi untuk melihatkan perhatikannya kepada Kasih.
"Bunganya bagus ya Mas."
"Biasa aja."
Kasih mengerucutkan bibirnya, Zidan duduk dikursi panjang yang terbuat dari besi. Kasih sibuk menyentuh bunga-bunga yang bermekaran, tentu saja itu memanjakan mata.
"Udah yuk, balik lagi. Kamu harus istirahat!"
"Mas, ini baru aja lho."
"Kasih..."
"iya ish!"
Zidan mendorong kursi roda Kasih, saat sampai depan pintu tempat Kasih dirawat ada mama Kasih yaitu mertua Zidan.
"Dari tadi Ma?"
Kasih didudukan lagi diranjang, sedangkan Zidan duduk disoffa dan mama duduk di kursi dekat ranjang.
"Kamu jangan banyak gerak Kasih, kamu itu harus total istirahat."
"Hem iya ma."
"Mama bawain nasi goreng kesukaan kamu, mama gak bisa lama disini. Mama mau anterin makan siang buat Kiano, kamu gak papa kan?"
"Iya aku gak papa, ada Zidan kok. Hati-hati ma, dan makasih ya!"
Mama mengangguk, ia membawa bekal untuk anak sulungnya yaitu Kiano.
"mama pamit ya Zi, mama titip Kasih."
"Hati-hati ma."
Mama mengangguk, Kasih membuka kotak bekal itu dan menghirupnya. wangi sekali, apalagi ada telur mata sapi favorit Kasih.
"mau dimakan sekarang?
Kasih menggeleng, perutnya masih kenyang karna tadi makan bubur.
"Yaudah."
Kasih meletakan lagi kotak bekalnya, Kasih dan Zidan dihadapkan dengan rasa canggung. Kasih menatap Zidan yang sedang menatapnya, Kasih jadi salah tingkah.
"Mas ngapain sih liatin gitu?"
"Gak papa."
Zidan menatap lagi Kasih, Kasih merampas ponselnya agar rasa canggung tidak ada diantara mereka. Namun, Zidan malah semakin dalam menatap Kasih.
"Mas!"
"apa?"
"jangan liatin kaya gitu!"
"Kenapa?"
"Aku gak suka!"
__ADS_1
"Kamu gak suka sama saya?"
"bukan gi-"
"Oke!"
Zidan beranjak dari duduknya, Kasih menatap Zidan yang sudah menyekal kenop dan akan keluar.
"Mas mau kemana?"
"Pulang."
"Kok?"
"Tadi katanya gak suka."
"Gak gitu, sini balik lagi."
"Gak."
"Mas.."
"Kamu maksa?"
"Iya, aku maksa!"
"Oke."
Zidan kembali duduk, Kasih tersenyum dan meraih tangan berorot Zidan.
"Ngapain pegang-pegang?"
"Aku kangen."
"Kangen? ini kan udah ketemu."
"Mas..."
"Iya iya!"
Zidan memeluk Kasih, Kasih tersenyum cekikikan dalam hati ia juga mencium dada Zidan yang wangi yang hanya tertutup kaos tipis.
"Udah?" tanya Zidan.
"Belum."
Zidan menggelengkan kepalanya, ia juga menepuk kecil pundak Kasih. Zidan sebenarnya rindu juga tapi ia gengsi, ia takut Kasih mengungkit masalah yang menimpa mereka sebelum Kasih kecelakaan kemarin.
"Udah?" tanya Zidan lagi.
Kasih mengangguk, Zidan lepaskan pelukan itu. Kasih cemberut, Zidan memalingkan wajah karna malu.
"Kenapa cemberut?"
"Masih kangen."
"Tapikan barusan."
"Mas.."
"Kasih, nanti aja dirumah. Kalo suster masuk bisa bahaya, ya?"
Kasih mengangguk, tapi wajahnya masih memancarkan jika ia betmut.
"Jangan ditekuk mukanya,"
"Mas gak ngerti kangen sih, aku udah 3 hari gak dipeluk tau!"
Zidan menggelengkan kepalanya, Kasih bahkan ingat jika mereka bermusuhan selama itu. Pantas rasanya Zidan ingin menghajar Kasih jika sudah sampai rumah, ternyata sudah 3 hari toh.
"Mas!"
"Iya iya, nanti aja sirumah."
"mau nya sekarang."
"Kasih."
"iya!"
Kasih membalikan tubuhnya ia membelakangi Zidan, Zidan dengan gemas membalikan tubuh Kasih agar menghadap nya.
"Nanti dirumah, kita bisa sepuasnya."
"Beneran ya?"
"Hem.."
__ADS_1
Kasih tersenyum, Zidan tidak paham pada wanita. Kenapa ia tidak bisa menahan rindunya barang sebentar saja, Zidan juga kan rindu.