
"Mas mau ngapain turun?"
Zidan menutup pimtu mobil dengan keras, menimbulkan suara dentuman yang benar-benar memekikan telinga.
"Saya mau bilang sama wali kelas kamu, biar kamu gak duduk sama cowok sialan itu."
"Aduh, ngapain sih?"
"Kasih, kalo kamu deket-deket sama dia saya gak suka!"
"Aku gak akan ngapa-ngapain Mas, udah masuk sana. kerja!"
"Gak bisa, nanti kamu ke-enakan. Malah ganjen lagi, saya gak suka!"
"Lho itu kan kemauan Mas, kalo aku main akal malah itu buat Mas enak. Bisa modus terus sama aku, gak asik!"
Zidan tertawa, Kasih menyimpan tangannya dipinggang. Kasih terlihat menggemaskan, apalagi jika Zidan memeluknya disini.
"Kenapa ketawa?"
"Gak papa, kamu lucu."
Kasih hendak meninggalkan Zidan, namun kunciran Kasih segera Zidan tarik untuk kembali.
"Ah sakit!"
"Mau kemana?"
"Masuk lah, udah siang."
"Ayo."
"Ayo kemana?"
"Dasar pikun, saya kan tadi bilang saya mau protes sama wali kelas kamu."
"Mau ngapain sih, aku juga tau batasan. Aku gak akan ngapa-ngapain, Mas!"
"Saya gak percaya, kamu itu remaja. Jiwa cari perhatian kamu itu masih ada, bahkan meluap-luap kalo liat cowok ganteng."
"Tau ah, aku berangkat!"
Kasih mengecup punggung tangan berurat Zidan, ia meninggalkan Zidan dan mulai memasuki sekolahnya.
"Hey, kita ketemu lagi."
Kasih menoleh, nampak Lio yang sudah berdiri disampingnya.
"Iya.."
"Yuk bareng."
Kasih mengangguk, Lio dan Kasih hampir berjalan namun teriakan Zidan membuat mereka tak jadi.
"Kasih!"
Zidan menghampiri Kasih, Lio mengeryitkan dahi. Ia masih penasaran siapa pria ini dari kemarin.
"Ngapain berduaan?"
Kasih menepuk tangan Zidan, memberi tanda agar ia tutup mulut.
"Kenapa kesini?"
"Ngapain berduaan?"
"Kita mau kekelas bareng, dia Lio."
"Saya gak nanya namanya siapa."
"Dia siapa Ka?" tanya Lio.
"Saya sua-"
Plak!
"Dia Om aku, namanya Zidan."
Lio mengangguk, Zidan mendelik dan tidak terima dengan jawaban Kasih.
"Kasih!"
"Aku berangkat ya Om, bye.."
Kasih menepuk pelan lengan Zidan dan menarik lengan Lio, Lio dengan bertanya-tanyanya mengikuti langkah Kasih.
"Sialan kamu Kasih, liat aja apa yang bakal saya lakuin sama kamu!"
__ADS_1
Bruk!
"Ah ngapain sih sekarang jadi rajin banget jemput aku Mas, aku biasa naik taksi tau!"
"Tugas kamu cuma nurut sama saya, cukup itu aja!"
Zidan melajukan mobilnya, Kasih menguncir rambutnya. Kasih membelakangi Zidan, ia merasa di kurung kalo begini.
"Ini buat kebaikan kamu Kasih!"
"Kebaikan apa, kalo gini terus gimana aku bisa ada waktu buat Niken Mas!"
"Lo itu disekolah, apa kalo bukan waktu."
"Disekolah itu gak bebas Mas, coba dong kasih aku waktu buat Niken. Niatnya pulang sekolah aku sama Niken mau keluar, Mas ganggu aja!"
"Yaudah, sore!"
"Beneran?"
"Hem."
"Pula-"
"jam 5 udah dirumah!"
Kasih menghilangkan senyumnya, namun ia tak apa. Begitupun sudah membuatnya senang, Kenzo se-overprotektiv itu lho.
"jam 6?"
"gak."
"plis...."
"gak!"
"Ih masa jam 5, kan berangkatnya am 3 Mas."
"Kasih~"
"ya ya ya?"
"jam 5 atau saya berubah pikiran?"
Kasih menjengah, memang ucapan Zidan itu seperti ucapan pak hakim. Tak bisa di ganggu gugat, kan susah.
"Udah turun sana, mandi makan terus tidur siang."
Kasih turun dari mobil Zidan, ia masuk kamar dan langsung mandi dan turun untuk makan.
"makan yang banyak, biar cepet hamil."
"Jngan harap!"
Zidan tertawa, Kasih memang seperti manusia kerasukan. memasukan makanan apapun itu kemulutnya, Zidan dibuat bengong.
"Kamu itu kaya gak makan setaun, Kasih."
"Kenapa?"
"Jangan berlebihan, gak baik."
"Yaudah, aku gak makan aja! biar Mas puas, heh!"
"Bukan gitu, yaudah abisin aja makannya. sampe kamu buncit, biar meledak perutnya."
"Gak lucu!"
Zidan menggelengkan kepala dan terus mengunyah, setelah makan Kasih masuk kamar dan rebahan.
"Kasih, Kasih, kerjaan kamu cuma makan tidur main."
Zidan mengeluarkan majalahnya, ia selonjoran diranjang samping Kasih. Kasih hanya memandang Zidan ia tak berminat menjawab ejekan Zidan.
"Kasih, bangun!"
Kasih malah mendorong tangan Zidan saking kencangnya perut Kasih. Kasih tampa sadar tertidur pulas, ia melupakan bertemu Niken.
"Kasih , katanya mau ketemu Niken.."
Kasih melotot, ia beranjak dari ranjang.
"Mas kok gak bangunin aku sih, jam berapa ini?"
"Dari tadi udah saya bangunin, jam 4."
"Ah aku telat nih, Mas!"
__ADS_1
"Kalem Kalem!"
"Gimana aku bisa kalem sih Mas,"
"Yaudah ketemunya ditunda besok, kan bisa."
"Gak bisa!"
"Chet dulu Nikennya, jangan heboh sendiri kenapa sih."
Kasih dengan kesal mengambil ponselnya, ia berniat untuk menelpon Niken.
"Niken, maaf gue ketiduran. Kita keluarnya besok aja, lo gak papa kan?"
[gak papa, santai. gue juga hari ini ada acara, gue udah chet lo dari tadi tpi gak lo bales-bales]
"hem gitu ya, yaudah sampai ketemu besok sore."
[iya Na, gue tutup telponnya ya]
"Ia Ken."
Tit!
Kasih mendesah, ia menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Puas rasanya mendapat jawaban dari Niken, Zidan menggelengkan kepala melihat tingkah Kasih.
"Lanjut aja tidurnya, saya juga ngantuk."
"Jangan tidur."
"Kenapa?"
"Aku
Mau jadi keluarnya."
"Lo katanya kata Niken gak jadi."
Zidan sudah merebahkan tubuhnya, Kasih menarik tangan besar Zidan untuk bangun kembali.
"Kenapa sih Ka?"
"Ayo keluar..."
"Yaudah sana, kan udah saya izinin."
"Sama Mas!"
"Kok saya?"
"Iyalah, kan Niken gak jadi."
"Besok aja, bareng sama Niken."
"Masa Mas tega sih aku udah cuci muka, udah pake bedak gini gak jadi."
"Ya ngapain pake bedak, kan udah tau gak jadi."
"Mas!"
"Gak ah, saya ngantuk."
"Yaudah, aku aduin mama!"
Zidan merebut ponsel Kasih, bisa gawat kalo bocil satu ini ngadu macem-macem.
"Iya iya, riweh!"
Kasih joget-joget sembari menjulurkan lidahnya, Zidan menggaruk kepalanya belakangnya. Ia sebenernya malas, namun tak ada pilihan.
"Kok pake kolor sih Mas, kalo ketemu temen aku gimana?"
"Ya kan mereka gak tau saya suami kamu, mereka tau nya saya cuma OM kamu!"
Kasih cekikikan, ia baru sadar jika Zidan bete dengan pernyataan itu.
"Jangan marah-marah Mas, nanti cepet tua."
"Brisik kamu, cepet masuk!"
Kasih dengan tawanya yang besar masuk mobil sport hitam Zidan, Zidan sungguhan pakai celana pendek mocca dan baju kaos polos hitam.
"kita mau kemana Mas?"
"Kok tanya saya sih keponakan."
"Apasih Mas!"
__ADS_1
"Iya kan saya cuma OM kamu!"
"Tau ah."