
Jam 08:50 Zidan dan Kasih sampai dipuncak, ia berangkat saat langit masih gelap. Zidan tak mau harus berlama-lama dijalan, ya biasa macet.
"Villanya kamu suka?"
Kasih mengangguk, ia memang begitu menyukai vila ini. Tak terlalu mewah, namun nyaman.
"Saya udah jaga bodugard didepan kalo kamu butuh apa-apa tinggal bilang sama mereka."
"Hem iya.."
Kasih masuk kamar dan merebahkan tubuhnya diranjang dengan seprai putih dan selimbut tebal putih, Kasih memejamkan mata merasakan lelah yang menggerogotinya.
"Mas Zi?"
"Hem?"
Kasih bangun, ia menatap Zidan yang sedang membelakanginya.
"Masalah Raisa gimana?"
Kanzo duduk dikursi balkon dibalkon, ia menatap keluar dengan tatapan kosong. suasana puncak memang tak pernah salah, jam segini mungkin dikota akan panas namun beda jika dipuncak.
"Mas!"
"iya apa?"
"Raisa gimana? Kamu ninggalin dia?"
"Jangan bahas Raisa, saya gak suka."
"kenapa gak suka, bukannya kamu sayang sama dia?"
"Saya niat kesini buat liburan, bukan ributin Raisa Kasih!"
Kasih mengalah, ia merebahkan lagi tubuhnya. Melawan Zidan memang tak akan menang walaupun kalian nyerocos kaya kereta api juga.
Kasih keluar kamar, Zidan menatap kepergian Kasih. Ia ingin menyusul namun takut Kasih ingin menenangkan diri.
"Wah bunganya cantik banget.."
Kasih melihat-lihat pinggir rumah, terdapat kolam renang dan juga tanaman bunga yang cantik. Kasih suka, Kasih suka!
Kasih berjalan mendekati bunga kuning itu, ia memetiknya dan mencium bau nya. Sungguh wangi, Kasih duduk dikursi kayu yang dicat coklat dan dibawah pohon mangga yang rindang.
Kasih berjalan lagi, namun kakinya tak sengaja menginjak baju besar hingga batu itu mental dan menjatuhkan Kasih.
Bruk! Byur!
"Aaaaaaak~"
Kasih berteriak, kakinya kram dan dia tercebur kekolam. Zidan yang mendengar berhamburan kesana, tapi karna villa nya berlantai dua membuat Zidan tak cepat sampai sana.
"Kasih!"
Kasih pingsan saat Zidan bawa kedaratan, Zidan memeriksa tubuh Kasih. Ia menekan dada Kasih dan memberinya nafas buatan, namun Kasih tak kunjung bangun.
"Panggil dokter, suruh dia kesini tepat waktu!"
Pria berbaju hitam mengangguk patuh, Kasih yang sudah basah kuyup itu dipangku oleh Zidan untuk masuk kedalam.
Kasih ditidurkan disoffa, ia tak peduli nanti soffa ini basah atau tidak. Ia sungguh tak peduli.
"Mana dokternya, Kasih masih pingsan!"
"Diperjalanan tuan, sebentar sampai."
Uhuk! Uhuk!
Kasih bangun, ia batuk dan tersedak kemudian mulutnya mengerluarkan air.
"Kasih, kamu gak papa?"
Kasih menggeleng, ia menatap dirinya yang basah kuyup.
__ADS_1
"Kamu tadi kecebut dikolam, saya kan udah bilang kalo mau apa-apa bilang sama mereka. jangan keras kepala, Kasih!"
"Ia maaf, aku cuma mau liat-liat aja."
"Sekarang ganti baju terus mandi air anget."
"hemm.."
Kasih beranjak, ia menaiki tangga dengan pelan-pelan karna Zidan sedari tadi menatapnya dan mengawasinya.
"Dokternya sudah datang tuan.."
"Kasih udah sadar, gak perlu."
Zidan meninggalkan bodygardnya dengan perasaan bingung, ia kemudian kembali keluar untuk berjaga dan menyuruh dokter untuk kembali.
Zidan masuk kamar, ia mendengar suara air shower berjatuhan. Karna Zidan takut Kasih berbohong, ia masuk dengan ceroboh.
"Kasih!"
Kasih jongkok dan menutupi segalanya, Zidan mengangguk karna air itu mengepul. Ia sama sekali tidak melihat jika Kasih tengah tela**ng bulat.
"Mandi yang bersih."
Zidan kembali lagi dan menutup pintu, Kasih mengatur degup jantungnya karna ia sungguh terkejut kedatangan Zidan.
Malam harinya sekitar jam 20:19
"Ini pake.."
Kasih melotot karna di sodori selimbut dan juga kain panjang terbuat dari benang wol, Kasih tak menghiraukan karna ia pikir itu tidak benar.
"Pake Kasih.."
Zidan melilitkan kain wol itu keleher Kasih, kemudian menyelimbuti seluruh tubuh Kasih dengan selimbut bulu yang hangat.
"Buat apa?"
"Kok buat apa, kamu lupa kalo kamu baru aja nyebur. Disini itu dingin, kalo kamu gak pake selimbut kamu bisa flu. Udah nurut aja, ini demi kebaikan kamu."
Ting!
Kasih menatap ponsel Zidan yang sedari tadi ia dekap, Zidan pun sama. Melihat mata Kasih yang sudah memancarkan cemburu, buru-buru Zidan melempar ponsel itu.
"Chek sendiri aja."
Kasih tersenyum, kemudian ia membuka ponsel Zidan.
@Raisa
[sayang, kapan bisa ketemu aku kangen tau....]
Kasih mengatupkan bibirnya, ia sungguh sebal membaca pesan yang dikirim Raisa.
"Raisa kangen."
Zidan menoleh kearah Kasih sebentar, kemudian acuh lagi.
"Mas Zi gak denger?"
"Denger apa?"
"Aku bilang Raisa kangen!"
"Oh..
Kasih memalingkan wajahnya, kenapa Zidan tampak tenang menghadapi dua wanita ini.
"Kenapa?"
"Gak."
Zidan mengangguk lagi.
__ADS_1
"Kalo aku jadi Raisa, aku datengin kesini dan marah-marah."
"Karna itu Kasih, bukan Raisa."
Kasih sebal, ia tak senang.
"Demi kebaikan bersama, saya gak akan pegang hp itu sampe liburan selesai. Niat saya kesini ya buat liburan, bukan ributin Raisa."
"Raisa?"
Zidan menatap Kasih, Kasih jadi salah tingkah. Ia akan memalingkan wajah namun Zidan sudah menangkap dagu Kasih untuk ia sentuh.
Chup!
Kasih mendapatkan ciuman manis, namun tidak Kasih balas. Hal itu membuat Zidan kesal dan menggigit bibirnya sedikit, tentu saja Kasih mengaduh.
"Ah sakit tau.."
Zidan menatap Kasih yang memegangi bibirnya, ia mendekati lagi Kasih dan..
Drtttttt! Drtttttt!
Ci**an panas itu terhentikan karna dering panggilan ponsel Kasih, Kasih langsung beralih menatap ponselnya. Ia tak berani memandang wajah Zidan ia malu, hihihihi.
"Siapa?" tanya Zidan.
"Mama.."
"Yaudah angkat."
Kasih mengangguk, ia menggeser tombol hijau untuk menerima.
"Iya ma?"
[kamu dimana Ka, besok pagi antar mama shoping yu?]
"Aku dipuncak ma, sama Zidan."
[hemmm beneran?]
"Iya, aku serius."
[yaudah, maaf mama ganggu. lanjutin, semoga cepet jadi.]
Tut!
Kasih tersenyum kesal kearah mamanya, dasar mama. Kasih niat kesini liburan, bukan hanimoon ma!
Kasih menyimpan ponselnya, kemudian menatap televisi yang menayangkan sinetron. tapi detik berikutnya, Zidan ganti.
Kasih melotot, Zidan sungguh gila.
"Mas!"
"Hem?"
"ngapain liat orang ci*man kaya gini?"
"Emangnya kenapa?"
"Gak papa.."
Kasih meraih ponselnya untuk menghilangkan rasa canggung, tapi keburu Zidan sadari dan meraih dagu kecil itu.
"Mau ngapain?"
Zidan menyerang leher Kasih, Kasih bergerak brutal untuk melepaskan.
"Lepasin!"
Zidan memeluk Kasih, ia dekap gadis itu hingga dirinya merasakan hangat yang benar-benar.
Brugh!
__ADS_1
"ZIDAN SI4LAN!!"
KASIH Putri Siregar telah dinobatkan sebagai menantu keluarga Davidson, dan semoga mereka cepet-cepet punya dede bayi ya gays ya.