Isteri Kecil Tuan Zidan

Isteri Kecil Tuan Zidan
Posesseiv


__ADS_3

"Zi-"


"Lepasin Raisa, aku mau kita disini aja. Aku mau kita putus, aku udah cinta sama Kasih!"


"Tapi kenapa Zi, kita udah 2 tahun ngejalanin hubungan ini. Kamu juga ud-"


"Aku gak pernah merasa ngambil kehormatan kamu Raisa, disitu kami sama-sama mau. Dan kamu juga sudah tidak prawan kan?"


"Apa kamu bilang Zi, aku gadis. Dan aku gak pernah main gila selain sama kamu,"


"Hahaha, aku tau kamu bohong. Itu alibi kamu


kan supaya aku sama Kasih cerai, itu gak akan terjadi Raisa."


"Zi, aku mau kamu balik lagi sama aku.. Cerai-in wanita itu sekarang Zi, yang kamu cinta itu aku bukan dia!"


"Tau apa kamu, ini balasan buat kamu karna udah tinggalin aku selama 2 bulan tampa kepastian."


"Zi, aku minta maaf.."


"Alah, lepas. Aku gak mau ketemu kamu lagi, cewek gila!"


"Kamu Raisa?"


Raisa yang tengah menangis ditembok panjang menoleh, ada pria tampan yang tak kalah tampan dari Zidan menghampirinya.


"Siapa kamu?"


Pria itu duduk, Raisa menjauh. Ia tak mau harus dekat-dekat pria asing, meskipun didalam hatinya jika pria ini tampan.


"perkenalkan, saya Kevin Alaska. Saya pacar Kasih, namun itu dulu.."


Raisa melotot, ia tak menyangka jika pria tampan didepannya ini pacar gadis yang ia benci.


"Mau apa kau kemari, aku sibuk!"


Raisa beranjak, ia hendak meninggalkan pria itu.


"Tunggu, ada hal yang ingin aku bicarakan."


Raisa duduk lagi, Kevin mendekat.


"Aku tau kamu adalah pacar Zidan, ups maksudku mantan pacarnya. Kamu baru diputuskan sama Zidan baru aja kan?"


"Sialan, tau dari mana kamu?!"


"Itu gak penting, yang terpenting Kasih ku kembali."


"Maksudmu?"


"Begini, Kasih pacarku. Namun aku berselingkuh darinya, aku tidak membutuhkan Kasih lagi karna orang-orang bilang Zidan pria tak mampu. Aku mendekati Kasih karna uangnya, dan dia bodoh."


"Aku ingin mendapatkan Kasih lagi, aku masih


membutuhkan uangnya. Dia akan menjadi ahli waris perusahaan papanya, itu akan menguntungkanku.."


Raisa mendengarkan seksama, ia mulai mengerti maksud Kevin.


"Intinya apa?!" Gerutu Raisa.


"Rebut kembali Zidan, dan aku akan merebut Kasih."


"Dasar bodoh, Zidan sudah mencintai Kasih. dan itu tidak semudah yang kau pikirkan, buang-buang waktu."


"Bagaimana jika membuat mereka salah paham?"


"Caranya?"


Kevin mendekati telinga Raisa, lalu membisikan beberapa kalimat. Raisa mengerti dan paham, hem apa itu?


"Deal?"


"Deal."


"Urusan sama Raisa selesai, kita bisa hidup bahagia sayang.."


Kasih menjauhi Zidan, Zidan bergeser untuk berhampitan dengan Kasih.


"Aku gak percaya."


"Kenapa masih gak percaya, barusan saya ketemu sama dia. Kita bicara 4 mata dan saya udah mutusin dia, dia gak akan ganggu kita lagi Kasih.."


"Aku gak percaya.


"Kenapa gak percaya?"


"Karna kamu cowok."

__ADS_1


"Dan apa alasannya?"


"Karna cowo itu sama aja, sama-sama pembohong!"


"Aku beda. Lalo aku pembohong aku gak mungkin jujur tentang Raisa sama kamu, udahlah aku ini suami idaman kamu Kasih.."


Kasih berdecak, dan meninggalkan Zidan.


"Mau kemana?"


"Bukan urusan kamu."


Zidan beranjak, ia mengikuti langkah Kasih yang ingin kekamar mandi.


Mau ngapain?"


"Ikut~"


Kasih mendorong Zidan. Namun gadis kecil nan manis itu tak seimbang dengan Zidan yang besar dan berotot, Kasih didorong dan Zidan menutup pimtu kamar mandi.


"Dsini hanya ada kamu dan aku, mari~"


"Mari apa? Aku mau mandi, bukan ngeladenin otak m3sum kamu!"


"Itu normal sayang, kita kan suami istri."


"Inget ya, aku masih marah sama kamu. sana keluar, aku mau mandi."


"Alangkah baiknya mandi didepan mataku.."


"hah? dasar g1la!"


"Kenapa? aku sudah melihatnya, dua kali.."


Plak!


Kasih memukul lengan Zidan, Zidan meringis dan tertawa.


"sana keluar!"


"Aku akan menutup mataku."


Zidan menutup wajahnya dengan matanya, detik berikutnya memberi celah jarinya agar ia bisa melihat Kasih


"m3sum!"


Kasih tertawa, namun segera ia tahan kembali. Kasih tak boleh terbawa suasana, ia harus kuat menghadapi pria dengan umur 26 tahun ini.


Kasih mengangguk, hari pun sudah sore. ia ingin membersihkan tubuh, sebelum tidur.


"yaudah, silahkan."


"kamu keluar, ngerti gak sih?"


"ngapain harus keluar?"


"aku mau mandi."


"kenapa harus keluar, padahal cuma mandi."


Zidan duduk di kloset, Kasih menggaruk kepalanya. Ia sungguh tak mengerti dengan suaminya, haduh Zidan.


"Mas~"


"apa?"


"keluar.."


"Kalo mau mandi ya mandi, saya juga udah liat semuanya. Ngapain malu, santai~"


"Santai-santai pala lu peang, keluar!"


Zidan menggeleng, Kasih dengan kekesalan di hatinya berdiri didepan Zidan.


"Mas mau sesuatu?"


"Sesuatu? apa itu?"


Kasih membawa Zidan untuk berdiri, menuntun Zidan kepintu dan membukanya. setelah itu mendorong Zidan keluar dan dengan cepat ia menutup pintu, tak lupa menguncinya.


"Kasih!!"


"hahahaha, rasain. Enak aja mau liat-liat, dipikir aku badut sirkus apa!"


Kasih tersenyum menang, ia mulai mandi dengan tenang sedangkan Zidan sakit hati merasa di kecewakan dan tidak bisa menonton Kasih mandi.


Selesai mandi Kasih keluar kamar mandi dengan handuk putih nya, tubuhnya yang kecil dan putih meneteskan air perlahan. rambutnya tak ia basahi karna tak tahu, dan sengaja menggelung berantakan.

__ADS_1


"Udah?"


Kasih tidak menjawab, ia masuk ruang ganti dan memilih celana piyama yang pendek sepaha. Baju nya juga hanya berlengan seutas tali, Kasih keluar ruang ganti dengan gaya sok cantiknya.


"Tumben pake celana pendek."


"Pengen aja."


"Pengen aku rayu-rayu?"


"Gak usah ge'er, aku pake celana dan baju ini karna keinginan aku. Kamu understand?"


"Oooooooooh begitu?"


Kasih menyisir rambutnya. Ia memakai skincare rutinan malam dan menyemprotkan minyak wangi dilehernya, Kasih duduk diranjang sebelah Zidan.


"Wawangian kaya gini niat banget goda saya.."


"Apasih ge'er, ini keinginan aku. Kamu know?"


Zidan menarik Kasih, ia memeluk erat wanita itu. Wanita yang ia cintai karna pertemuan 2 minggu lamanya, dan secepat itu mereka mencintai.


"Apaansih Mas!"


Drtttttt! Drtttttt!


Zidan menatap ponselnya, ia menerima panggilan telpon itu.


[dimana Ken, katanya janji mau ketemu. kita udah disini dari tadi, nungguin lo]


"gue otw gue otw, lupa.."


[jangan lupa bawa istri, kita juga bawa]


"oke."


Tut!


Kasih menatap Zidan, menarik Kasih keruang ganti.


"mau apaansih."


"saya ada janji, kamu harus ikut. Ganti baju cepet, jangan pake yang terbuka. Nanti masuk angin, kita pulang pasti malem."


"aku gak ikut deh."


"gak ada, semuanya bawa istri."


Kasih Kasih akhirnya menurut, ia memakai dres hitam yang bagian tulang dadanya terlihat. Namun buah dadanya tak nampak, rambutnya digerai biasa karna kepepet.


"Udah Kasih?"


"udah Mas."


Zidan menuntun Kasih yang memakai heels itu, ia membawa Kasih kerestoran yang sudah banyak orang disana.


"Mas, aku malu."


"Gak papa, santai."


Kasih mengeratkan pegangannya, Zidan juga tak melepaskan tangan Kasih walau sekejap saja.


"kalo bawa istri, aura lo beda Zi."


Kasih duduk disamping Zidan dan istri temannya, Zidan dan Kasih memakai baju senada. yaitu black stelan, mereka duduk dimeja makan yang cantik sekali.


"Kasih~"


"Anita~"


Kasih mengangguk, saat teman Zidan mengulurkan tangan untuk bersalaman pada Kasih. Zidan segera menahan tangan Kasih, membuat temannya tersenyum paham.


"gak papa, gue paham!"


Zidan tersenyum, Kasih menatap Zidan tak paham. padahal cuma salaman kan, kenapa Zidan seposesiv itu?


'aneh..' batin Kasih.


Acara makan malam berjalan lancar, Kasih dan Anita tampak cocok. Zidan dan temannya yaitu Prans tengah berbicara tentang perusahaan, Kasih tak paham.


"mau kemana?"


Zidan menatap Kasih yang beranjak, namun tangannya Zidan tarik lagi agar Kasih duduk lagi.


"toilet."


"jangan lama."

__ADS_1


"iya~"


Zidan menatap gadis dengan balutan res hitam itu, ia begitu tidak rela jika Kasih harus meninggalkan nya walau hanya sebentar...


__ADS_2