
"Ayo La pulang, kamu gak boleh lama-lama dirumah sakit."
"Lala mau disini ma, mau sama kak Zidan."
"Zidan, mama harus pulang nih. udah sore begini, gimana dong?"
"Yaudah mama pulang aja, nanti Lala biar aku bawa aja kerumah."
"Lala besok harus sekolah."
"Aku bolos satu hari aja ya Ma... pliss."
"Gak, gak ada."
"mama, sehari aja!"
"Ia iya sehari."
Lala berjingkrak senang, Kasih melihat itu tertawa. Lala seperti dirinya yang selalu memaksa jika tak ingin sekolah, duh Lala.
"Yaudah mama pulang dulu, Lala jangan ngerepotin kak Zi sama kak Kasih ya."
"iya Ma, siap laksanakan!"
Mama pergi dan Lala duduk seranjang dengan Kasih, Lala yang comel menatap polos Kasih yang kepalanya dibalit dan lututnya juga.
"Kak Na kok bisa gini sih kak Zi?"
"Kak Kasih keserempet mobil, tapi sekarang udah membaik kok."
"Kapan pulang Kak Na?"
"malam nanti, kamu nanti jagain kak Na ya kalo kakak gak ada."
"siap!"
Zidan keluar sebentar karna katanya ingin merokok, Kasih tak kesepian karna ada Lala dengan segenap tingkah randomnya.
"akhirnya aku bisa nginep lagi dirumah kaka Zi."
"Lala seneng banget?"
"Seneng kak Kasih, kak Zi kan baik. Suka teraktir jajan, hehehehe."
Kasih tertawa, wanita tetaplah wanita mau besar mau kecil tetap saja jajan yang utama dan itu adalah cara pria membahagiakan wanita.
"Kak Kasih, kak Zi itu sebenernya galak tapi kok kak Kasih gak takut ya?"
"Kak Kasih a lebih galak La."
Lala membulatkan matanya, Zidan sudah berdiri diambang pintu. Kasih tertawa, Lala cemberut melihat Zidan berjalan kearah mereka.
"yaaaaah, ngerumpinya udah dulu kak Na. ketauan orangnya, gak asik!"
Lala memang biasa memanggil Kasih dengan sebutan kak Na, karna Lala tidak suka yang ribet katanya jika menyebut semua nama nya itu akan membuat lidah lelah.
"Kamu udah makan belum La?" kali ini Kasih angkat bicara.
"Udah tadi sebelum kesini, kak Na kapan pulang sih?"
"Gak tau, kata dokter sih malam ini bisa pulang."
"Yaudah yuk pulang, aku jenuh disini..."
"Tunggu konfirmasi dari dokter, nanti kita pulang kok."
Lala mengangguk, ia memainkan ponsel milik Zidan karna katanya ingin melihat c0c0 m3l0n di YoUtUbE.
"Masih sakit? masih pusing? ada yang lebih sakit?" tanya Zidan.
"Aku udah membaik, cuma lutut doang rsanya ngilu banget kalo di gerakin."
"Itu memar, nanti juga kalo udah sembuh nggak. Kamu mau pulang kapan?"
"kapan aja boleh, aku udah membaik kok. dirumah juga udah baik-baik aja, aku kasian sama Lala dia kayaknya jenuh."
Kata dokter malem nanti kita bisa pulang, nanti saya tanya lagi."
"hem iya."
"Kamu istirahat aja, tidur dulu biar ada tenaga lagi."
"iya Mas."
"Yaudah kamu tidur ya, kalo mau pulang nanti saya bangunin."
Kasih mengangguk, Zidan menyibak gorden untuk menutupi karna takutnya bocil yang sedang anteng duduk disoffa melihat mereka.
__ADS_1
"Mas.."
"hem kenapa?"
"Mas lupa sesuatu?"
"hem, apa?"
"masa lupa sih?"
"apa?"
Kasih memalingkan wajahnya, Zidan terkekeh kecil. ia baru ingat, aduh Kasih
"iya iya maaf.."
Chup!
"Udah sana tidur, saya mau tanya dokter dulu."
Kasih mengangguk, Zidan menyibakkan gorden dan meninggalkan Kasih. Zidan bercakap sebentar dengan Lala kemudia suara pintu menutup terdengar.
"La bangun udah sampe.."
Lala tertidur dengan polosnya, Kasih menoel Zidan kode memberitahu jika Lala tidur.
"Mas, Lala tidur."
"iya sebentar."
Zidan keluar mobil, mengeluarkan kursi roda dan mendudukan Kasih.
"Gung itu Lala bawa masuk, tidurin dikamar tamu dan jangan sampe bangun. kalo sampe bangun, kamu saya..."
"Siap tuan!"
Zidan mendorong kursi roda sampai tangga, Kasih dipangku ala brydle style dan ditidurkan diranjang.
"Aku sebenernya gak papa lho Mas, aku bisa jalan sedikit-sedikit. Aku gak harus pake kursi roda dan dipangku Mas kaya gini, aku udah membaik kok."
"Kasih"
"ya tapi aku gak papa, aku bisa kalo cuma jalan doang."
"tugas ka-"
Zidan membuka kaos nya, ia masuk kamar mandi dan tidak memedulikan ucapan Kasih yang nyerocos bagaikan kaleng rombeng.
"Mas ih, aku belum selesai bicara tau!"
Zidan dengan tubuh setengah telanjang itu masuk kamar mandi, terdengar nyanyian didalam sana. Kasih menjadi sebal, oh sepertinya Zidan senang jika Kiana marah.
"ZIDAN DAVIDSON!"
"apa?"
Kasih melotot, kapan Kenzo sudah keluar kamar mandi.
"Mas udah beres?"
"kayaknya terlalu kejam kalo saya hukum kamu disaat kaki kamu lagi luka."
"maksud Mas?"
"Tunggu disini kamu, berani manggil nama saya kaya gitu?"
"Ka-kapan?"
Zidan masuk keruang ganti dengan tawanya yang menyeramkan, Kasih yang duduk buru-buru rebahan dan menutup wajahnya menggunakan selimbut.
"dasar g1la!"
Kasih mendengar suara pintu itu terbuka, Zidan datang ia menyikabkan selimbut yang Kasih gunakan untuk menutupi dirinya.
"Ampun Mas, aku janji gak bakal ngomong kaya gitu lagi."
"apa sih, mana tega saya hukum kamu. yang ada nanti kamu gak ngelawan, gak seru."
Kasih mendelik, Zidan memangku Kasih dan membawanya turun kebawah.
"Mas mau kemana?"
"kemana aja."
"turunin aku, aku bisa jalan sendiri."
"tugas kamu cuma nurut sayang.."
__ADS_1
Kasih tak dapat lagi membantah, Kasih didudukan dikursi meja makan. dan Zidan mulai makan, namun Kasih tak ditawari.
"Besok kalo saya kerja kamu bisa belajar jalan sama pelayan disini, saya harus kerja."
"Nelajar jalan maksudnya apa? emang aku anak kecil?"
"ya beda tipis."
Kasih menggigit bibir bawahnya, memang senang sebetulnya Zidan sudah mulai menggodanya. Tapi kadang Kasih sebal juga, huh Kasih serba salah.
"apa senyum-senyum?"
"siapa yang senyum-senyum."
"yang nanya."
Kasih menghempit bibirnya agar idak tertawa, tapi itu justru membuat Zidan tak tahan.
"Agung, mana pesanan saya."
Kasih menoleh, Agung sang penjaga kaligus kepercayaan Zidan dirumah mendekat. ia membawa paverbag kertas ditangannya, Kasih mendekat untuk melihat.
"apa itu Mas?"
"ini hp baru buat kamu, udah ada kartu sim nya dan kamu siap pake."
"tapi kenapa dibeliin, hp aku masih bagus. masih berguna, buang-buang uang aja."
"ini cuma ada no saya, mama saya, papa saya, mama kamu, dan kak Kiano, no Niken kamu mintalah sendiri. inget ini no privat, kamu gak boleh punya no siapapun lagi."
"tapi kenapa, Mas belum jawab."
"saya gak mau Kevin tau no kamu lagi, yang ada di ganti-ganti terus pake no baru."
"oh gitu, tapi jangan curang dong. masa aku aja, Mas nggak?"
Zidan melihatkan ponsel pada Kasih, Kasih merampas ponsel itu dan membukanya.
"ahaha, buat apa baru kalo dikasih pin. gak berguna, lebih baik pake hp yang lama tuh. sama aja!"
Zidan menggelengkan kepalanya, ia meneguk air putih setelah itu maju karna Kasih duduk disebrang sana.
"pin nya ulang tahun kamu."
Kasih mengangkat sudut bibirnya, ia jujur tak percaya.
"Gak percaya?"
Kasih menggeleng.
"kalo saya bohong saya tidur diluar tapi kalo saya bener kamu yang tidur diluar."
"hah, gak gak mau!"
Zidan tertawa, ia cubit pipi yang mengembung itu.
"ya udah, coba aja."
Kasih menatap Zidan yang sedang tertawa remeh, Kasih jadi takut pada pria ini. Jika di pikir-pikir, ucapan Zidan itu semuanya betul-betul-betul.
"Oke, tapi kalo Mas bohong 3 hari aku gak mau tidur bareng."
"tapi kalo bener?" Zidan menanyakan itu, matanya mengedip genit.
"7 hari gak tidur bareng!"
Zidan tertawa lagi, Kasih meringis karna tak tahu harus bagaimana. ingin mencoba pun takut, ucapan Zidan tak pernah salah.
'Bulan november tanggal 19..' pikir Kasih.
"Kan, udah saya bilangin."
"Dari mana Mas tau, kan aku gak pernah bilang."
"Ada lah, jangan kepo!"
Kasih mendelik tak sedap, Zidan merampas lagi ponselnya.
"Udah, sekarang kita tidur."
Kasih dipangku lagi dan dibawa kekamarnya, saat perjalanan tadi Kasih dibuat geli pasalnya Zidan mengendus tubuh Kasih kuat-kuat.
"Dasar m*sum, udah tau aku lagi sakit. masih aja punya pikiran kaya gitu, dasar nyebelin!"
"Pikiran tetep pikiran, kamu sakit ya sakit."
Kasih menggeplak tangan Zidan, memang puas rasanya menggoda sang istri. Apalagi Kasih itu menggemaskan, salah satu yang Zidan suka dari Kasih.
__ADS_1