
"Kasih sudah berangkat?"
"Sudah tuan."
Zidan sarapan, setelah itu berangkat kekantor. Sampai kantor ternyata ja*ang gatal sudah menunggunya dengan pakaian tak kalah gatal lah tu.
"Kenapa cewek itu bisa masuk?"
"Dia maksa tuan, kami tidak berbuat apa."
"Lain kali kalo datang, usir saja."
"Baik!"
Zidan berjalan kearah ruangannya, Raisa tentu saja senang. Ia sampai tersenyum manis, namun Zidan malah melewati begitu saja.
"Ih Zidan!"
"Apa?"
"Gimana? kamu udah gugat cerai?"
"Aku belum ada pikiran kesana, kamu sebaiknya pulang. Aku kesini kerja, dan kamu apa?"
"Nemenin kamu kerja."
"Raisa, statusku sudah beristri. Apa pantas melihat seorang suami berduaan dengan wanita diruangan tertutup seperti ini?"
"Tak apa, ini karma untuk Kasih. wanita itu juga kan kemarin berduaan dengan Kevin, iya kan Zi?"
"Kevin? kamu tau namanya?"
Raisa melotot, alamak bah keceplosan.
Aku gak sengaja denger pas Kasih bilang namanya."
"Yaudah, kamu pulang aja. Gak ada artinya kamu kesini, aku mau kerja bukan mau ketemu kamu."
"Kamu kenapa sih Zi, aku jauh-jauh kesini ya buat ketemu kamu."
"Rehan!"
"Siap pak!"
Raisa dibawa pergi secara paksa, mulai terbesit rasa penasaran yang membuat Zidan ingin mengopek dulu masalah yang menimpa Kasih.
"Suami lo jemput gak Ka?"
"Nggak kayaknya, gue ikut lo ya?"
"Serius?"
"Ia, yuk."
"Nanti kalo si Zidan dateng?"
__ADS_1
"Gak akan."
Kasih menaiki motor matic Niken, Kasih gatal mulut ingin bercerita namun rasanya itu tidak pas.
"Hey berhenti."
Kasih menoleh kebelakang, siapa itu?
"Siapa Na?"
"Kevin."
"Hah?"
"Gue mohon jangan berenti, Ni."
"iya iya!"
Motor Niken semakin cepat membelah jalanan, namun Kevin lebih cepat.
"Berenti, Kasih!"
Set!
Motor Niken dihadang motor Kevin, Niken berusaha nyalip namun Kasih melarang. Ia tak mau sahabatnya harus menaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan Kasih
"udah Ken udah, gue turun disini aja."
"Kasih!"
Kasih menggangguk, Niken dengan pasrah menghetikan motornya. Kasih turun, begitupun dengan Kevin.
"Kasih.,"
"Kamu belum puas buat aku sama Zidan retak? Sekarang, aku gak di percaya sama Zidan. Kalo sampe aku cerai, papa pasti gak akan tenang disana. Ketenangan papa ya aku menikah dan menjadi istri dari Zidan, tapi setelah kami berusaha membuka hati kamu malah menggangu Kevin. Mau kamu apa sekarang? kamu belum puas juga?"
"Kasih, sebelum kamu kembali itu gak akan buat aku puas!"
"Dasar gak waras!"
Kevin mendekati Kasih, Kasih menjauh namun lengannya Kevin tarik.
"aku mohon, ceraikan cowok itu Kasih.."
Kasih meninggalkan Kevin, Kasih berdiri dipinggir jalan yang sedikit ramai tapi tak juga sepi.
"Kasih!"
"apa?"
"Aku antar ya?"
"Gak usah, aku gak mau nambah salah paham diantara aku dan Zidan. Tolong lah Kevin jangan kaya gini, aku gak nyaman!"
Kevin menarik tangan Kasih, Kasih yang tak siap dengan itu hampir terjatuh namun Kevin segera menyangga nya.
__ADS_1
"KIANA!"
Kasih menoleh, Kevin memeluk Kasih. Kasih berusaha melepaskan namun pelukan itu erat sangat, membuat Kasih tak kuat.
"Lepasin istri saya!"
Kasih ditarik kasar oleh Zidan untuk melepaskan pelukan Kevin. Kasih tentu saja terlempar lumayan jauh, kepalanya bahkan terbentur pembatas jalan.
"ah!"
"Kasih!"
Kevin berlari kearah Kasih yang kepalanya sudah mengucurkan darah, namun Zidan segera menghajar Kevin hingga Zidan lah yang sampai duluan kearah Kasih.
"Kasih..."
"Mas awas!"
Bruk!
Kasih abruk, Zidan beranjak dari semak-semak karna terdorong oleh Kasih. Kasih tertabrak mobil, Zidan segera berlari kearah Kasih dengan kesesalan didalam hatinya.
"Kasih, kamu-..."
"Ak-aku ga-gak pa-pa Mas, te-tenang aj-aja.."
Kasih ambruk, kakinya mengucurkan banyak darah begitupun dengan kepalanya. Zidan meluk wanita itu, bahkan seragamnya sudah banjir oleh darah.
"Kasih, kamu harus bertahan Kasih..."
"Kenapa Kasih, Zidan?"
"Kasih keserempet mobil Ma, dan ini salah Zidan. Kasih-"
"Syut udah, kita tunggu dokter keluar."
Mama Zidan duduk diruang tunggu, begitupun dengan mama mertuanya. Zidan mundar-mandir didepan pintu menunggu sang dokter keluar, namun dokter tak juga keluar.
Ceklek~
"Dokter, istri saya gak papa kan? kepalanya gimana? kakinya? dia gak papa kan dok?"
"Zidan.."
Zidan menunduk, ia sudah pusing dengan masalah ini ditambah Kasih kenapa harus keserempet mobil.
"Pasien mengalami benturan keras dengan dua kali lipat kerasnya, ditambah kakinya yang luka dan memar. membuat pasien harus istirahat pull dan kepalanya-"
"Kenapa dok, jangan setengah-setengah dong!"
"Zidan.."
"Saya mau liat istri saya dok, bisa kan?"
Zidan membuka pintu kaca, namun tangannya kembali ditarik oleh dokter.
__ADS_1
"Pak tolong tunggu sebentar, pasien masih dalam keadaan pingsan. Tolong beri waktu untuk dia istirahat,"
Zidan duduk di kursi ruang tunggu dengan kesal, Mama mertua dan mama nya hanya bisa menggelengkan kepala. Pasalnya, Zidan seperti anak kecil.