
Selesai dari toilet Kasih kembali kekursinya, Zidan dengan agresif menarik tangan Kasih dan menggenggam tangan kecil itu. menyimpan nya dipahanya, Kasih tak bisa berkata-kata.
"Gue pulang ya bro, hati-hati."
Zidan mengangguk, Kasih tersenyum namun ia tak bisa memberi salaman perpisahan karna Zidan begitu tak memberi celah untuk melepaskan genggaman itu.
"Ngapain tadi liatin Pras, suka?"
Kasih tersenyum tak paham, kemudian membelakangi Zidan. Posisinya mereka sedang didalam mobil Zidan dan akan menuju pulang, namun mobil belum melaju.
"Kasih, saya nanya!"
"Apa?"
"Mgapain tadi liatin Pras, kamu juga ngapain duduknya tadi sok banget. Mau cari perhatian? inget, Pras itu udah punya istri."
"Aku tau, dan aku gak cari perhatian."
"Ini, ini ngapain pake baju kaya gini sih?!"
Zidan menarik baju Kasih bagian dada nya, Kasih melotot karna baju ini cantik dan Zidan dengan tampa dosa menarik bagian dadanya karna menampakan tulang dadanya.
"Mas!"
"Apa? kamu itu gak boleh pake baju kaya gini Kasih, pake ini."
Zidan melempar jas nya, Kasih dengan gelengan kepalanya menerima. Meskipun rasanya, haduh.
"Kenapa? Kenapa gak boleh, Raisa juga kan sering pake baju model kaya gini?"
"Saya gak suka orang lain liat milik saya!"
"ya iyalah, terserah!"
Kasih memakai jas hitam itu, Zidan melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Kasih sampai menjerit, ia ketakutan.
"Mas ih!"
"Ini hukuman buat kamu, suruh siapa cari perhatian."
"Aku gak cari perhatian Mas."
"Terus ngapain tadi duduknya gitu? Paha kamu keliatan, ke-ekpos Kasih!"
"ya gimana lagi, kan model baju nya begini."
"Iya terus terus, sama suami emang kamu itu jawab terus!"
Kasih berdecak, ia tak paham. Ia tak mengerti dengan sikap Zidan yang seperti kerasukan, haha gak deng canda.
Sampai rumah Kasih turun dengan cepat, ia tidak memperdulikan bungkukan dari pelayan. Kasih masuk kamar dengan kesal, tidak lupa pintunya ia kunci.
"Kasih ~"
"Kenapa dikunci?"
"Aku gak suka di curigain, apalagi dibilang cari perhatian!"
"Saya kan bener, kamu emang cari perhatian sama Prans!"
"Tuhkan, aku gak cari perhatian sama temen kamu Zidan Davidzon!"
"Oh udah berani kamu manggil saya pake nama hah?"
"Gak berani kenapa, ZIDAN DAVIDSON."
ZIDAN memukul pintu keras, Kasih menjulurkan lidahnya kepintu. meskipun tak di lihat Zidan, namun Kasih ingin meledek pria itu.
"Ah kamu bakal saya hukum Kasih!"
"masa bodoh, gak takut!"
Zidan memukul pimtu sekali lagi, ia berlari menuruni tangga. berjalan cepet menuju dapur, nampak ada pelayan tengah membereskan dapur.
"Bik kunci cadangan kamar saya mana?"
"Digantungan dekat gudang tuan, mari saya ambil."
Zidan mengikuti langkah pelayan, pelayan itu berjalan kelorong belakang dan mengambil kunci cadangan setiap ruangan dirumah besar ini.
"Ini tuan."
Zidan tampa mengucapkan terimakasih membawa kunci itu, ia berlari menaiki tangga dan berhenti didepan pintu kamarnya.
Ceklek~
Kasih melotot melihat pria itu berhasil membuka pintunya, Kasih mundur dan Zidan dengan cepat mengunci lagi pintu.
"ko-kok bis-bisa?"
Zidan mendekati Kasih, Kasih mulai takut.
"Hmm gimana tadi sayang, kamu gak takut?"
"Ahahaha, kapan aku bilang gitu."
Kasih mengelak setiap kali Zidan ingin menyentuh dirinya, Zidan semakin menangtang diri Kasih.
"Mau apaan sih Mas, aku mau cuci muka. mau tidur, kamu gak ngantuk?"
"Nggak,"
__ADS_1
Kasih mendorong Zidan, namun Zidan kan itu besar badannya. Jelaslah Kasih kalah, bigboy ges.
"Sini sayang~"
"Gak mau,"
"Sini."
"Aku gak mau, jangan dipaksa!"
"Harus dipaksa, kalo gak dipaksa ya gak mau."
"Mas Zi!"
"Apa?"
Zidan menjilat bibir bawahnya, hal itu membuat Kasih tambah takut dan ngeri. bagaimana gak takut, tatapan Zidan itu dalem dan penuh arti sekali.
"Mas!"
"Aku disini, kenapa manggilnya kenceng terus?"
"Lepasin, jangan peluk-peluk aku!"
"Kamu kan istri saya, dan saya suami kamu. sayang~"
"Jangan kaya gitu, aku gak suka."
"Tapi saya suka."
"Dasar gila!"
"Ia saya gila, tergila-gila kamu."
Brugh!
Semuanya seperti semula, libur panjang itu telah usai dan diganti dengan keseharian Kasih yang sekolah dan Zidan yang bekerja.
Bruk!
"Aduh maaf, sorry sorry.."
Kasih memunguti bukunya, ia terus meminta maaf karna baru saja menubruk seseorang.
"Gak papa."
Kasih melotot, siapa dia? kenapa dia tampan sekali, ia baru kenal.
"Gue mau nanya, ruang guru dimana ya?"
"Ooh itu, ayo aku anter."
"Boleh deh."
'Oh anak baru, pantes baru liat.' Batin Kasih.
Kasih sampai didepan ruang guru yang pintunya hampir menutup, pria itu mengetuk pintunya.
"Makasih."
Kasih mengangguk, ia masuk kelasnya dan meninggalkan pria itu.
"Siapa dia, pindahan mana coba dia?"
Kasih terus berujar, ia tampak penasaran dengan pria tampan barusan. wajahnya seperti orang korea, manis sekali.
"Baik anak-anak kita mulai belajarnya hari ini."
"Iya bu."
"Sebelum mulai belajar, mau ibu kenalkan kalian semua sama murid baru."
Semuanya mengangguk ngerti, Kasih membuka tas nya dan tidak terlalu menyimak mendengarkan penuturan guru.
"Masuk, nak."
Kasih menatap pintu yang sudah terbuka sedari tadi, pria yang ia tabrak tadi ternyata murid barunya.
"Wah, Kasih itu sih ganteng!"
Kasih dicolek dari belakang oleh Niken, Kasih mengangguk saja. Guru mulai memperkenalkan siapa murid baru itu.
"Ayo kenalkan dirimu."
"Nama gue Novalio Abraham, panggil gue Lio. Dan gue pindahan SMK ****** gue harap gue punya temen disini."
"Terimakasih Lio, kamu bisa duduk disamping Kasih."
Kasih mendelik, Kasih kan sudah biasa sendiri sedari dulu. Dan ini pertama kalinya ia duduk berdua.
"Kasih, geser tas nya."
"I-iya bu."
Kasih menatap Lio yang sudah duduk disampingnya, dari dekat ternyata lebih tampan. Hidungnya seperti menara, haha mancung sekali.
"Novalio."
Kasih menatap tangan Lio yang mengulur, Kasih tersenyum malu lalu mengulurkan tangannya.
"Kasih."
__ADS_1
"Emang jodoh gak kemana ya,"
"Hah, maksudnya?"
Kasih mengambil lagi tangannya.
"Kita ketemu lagi."
Kasih memberikan senyum termanisnya, ia tak tahu harus bagaimana.
"Ayo anak-anak kita mulai belajarnya."
Belajar dimulai, Kasih jadi sungkan dan malu pada pria tampan disampingnya. Namun berbeda dengan Lio, Lio sedari tadi senyum-senyum sendiri.
"Eh mau pulang bareng?"
Kasih menoleh, ia menatap Lio yang sudah nangkring dimotor kawasaki hitamnya.
"Heh kok bengong?"
Kasih tersenyum, Kasih mau sih pulang sama cowok tampan ini. Tapi ia takut, lebih tepatnya takut Zidan.
"Kasih~"
"I-iya?"
"Mau pulang bareng gue?"
"E-eh it-itu..."
"Lo tinggal dimana?"
"di******"
"searah, gue bisa mampir kekompleks itu."
"gak, gak usah."
"Ayo naik, sekalian."
"Gak usah, gue dijemput-"
Tit! Tit!
Kasih dan Lio menoleh kemobil sport hitam yang terparkir disebrang sana.
"Kasih.
Kasih menatap Lio yang sudah membuka helm nya, ia menatap Zidan yang kepalanya sudah nongol dijendela mobilnya.
"Itu siapa?"
Lio sempat-sempatnya menanyakan itu siapa.
"Aku pulang dulu ya, itu udah dijemput."
"Gak mau bareng gue?"
"Hak papa, makasih ya."
Kasih meninggalkan Lio yang kecewa karna tak jadi pulang bersama Kasih, Kasih berjalan menyebrang untuk sampai mobil Kenzo.
"Mas kok jemput aku?"
Kasih memakai sabuk pengaman, ia menatap Zidan yang sedang memicingkan matanya.
"Kamu ngapain ngobrol sama cowok itu?"
Mobil melaju, Kasih tak kunjung menjawab pertanyaan Zidan.
"Kasih!"
"Kenapa?"
"Kamu ngapain ngobrol sama dia?"
"Dia siapa?"
"Kamu mau saya hukum lebih parah lagi?"
"Ia dia itu siapa?"
"Cowok tadi."
"Temen aku."
"Iya kenapa ngobrol?"
"Ya namanya juga temen, dia murid baru. kebetulan temen bangku aku, ya dia nawarin buat pulang bareng."
"Terus kenapa dilayanin?"
"Layanin apa, aku cuma jawab doang."
"Saya kan udah bilang, jangan gatel dibelakang saya. Coba kalo saya gak dateng tepat waktu, mungkin kamu udah pulang sama dia."
"Gak Mas, gak mungkin."
"Dirumah, kamu harus nanggung akibatnya."
"Akibat apa?"
__ADS_1
"Kamu harus dihukum, ngobrol sama lawan jenis itu termasuk hukuman kamu. Jangan rewel, kita mulai eksekusinya dirumah nanti."
Kasih mendelik tak paham, sepertinya jika Kasih melakukan kesalahan itu malah membuat Zidan senang. Ia, maksud aku Zidan bakal puas modus sama Kasih.