
“Baiklah kalau begitu, sekarang lebih baik kau cari karyawan magang itu dan suruh dia ke ruangan ku secepat mungkin.”
“Baik pak!”
Sementara itu, ditempat yang sama Mey terlihat telah memasuki gedung perusahaan tempat ia akan memulai magang hari ini.
“Aku pikir akan magang di perusahaan rumah sakit swasta yang kecil, tapi ternyata ini perusahan besar juga,” ucap Mey entah pada siapa.
Hingga tak lama kemudian, seseorang dari arah belakang menepuk pundaknya dan itu berhasil membuat Mey, langsung menoleh.
“Apa kamu mahasiswi manajemen yang akan magang di sini?” ucapnya.
Mey, dengan cepat langsung mengangguk. “Benar pak, saya Meyra Anindita.”
“Baguslah, kalau begitu sekarang kamu ikut saya. Oh ya, sebelumnya perkenalkan, nama saya Rudi, saya merupakan salah satu manager di perusahaan ini.”
“Ah iya pak Rudi, senang bertemu dengan anda. Kalau boleh tahu, saya akan diletakkan di bagian apa ya pak?”
“Begini Mey, untuk sementara kamu akan menjadi sekretaris direktur yang mengurus stok suplai berbagai obat obatan dari pemerintah dan juga obat medical swasta!”
“A—apa? jadi sekretaris direktur, pak Rudi tidak salah? saya kan cuma mahasiswi magang pak.”
“Kamu tenang saja, menjadi sekretaris direktur tidak sesulit yang kamu bayangkan, dan ini hanya sementara, ingat hanya sementara, karena sekretaris direktur saat ini sedang cuti melahirkan, mengerti?”
“Baiklah pak.”
“Ya sudah kalau begitu ayo ikut saya!” Rudi berbalik dan berjalan, diikuti oleh Mey? dari belakang.
__ADS_1
Oh astaga, mendengar bahwa dia akan menduduki posisi sekretaris sementara, membuat jantung Mey rasanya mau copot, mengingat bahwa Mey sama sekali tidak memiliki pengalaman kerja apapun terlebih lagi di perusahan sebesar ini.
“Mey, ini ruangan pak Direktur, kamu langsung masuk saja, nanti bapak yang akan menjelaskan tugas-tugas apa saja yang harus kamu kerjakan. Oke!”
“Baiklah pak Rudi.”
“Kalau begitu saya tinggal dulu!”
“Eh tunggu dulu pak, bapak gak temani saya masuk nemuin pak Direktur?” tanya Mey dengan polos.
“Kamu bisa masuk sendiri, ingat Mey, dunia kerja tidak menerima gadis manja, mulai sekarang kamu harus bisa melatih mental, karena itu lah tujuan dari magang kamu yang sebenarnya, yaitu mempersiapkan diri. Mengerti?”
“Ah iya, baik pak!”
‘Yaelah pak Rudi! pak Rudi! bisa-bisanya nasehatin aku, malah bilangin aku manja lagi’ gumam Mey dalam hati.
“Permisi pak, saya mahasiswi magang di perusahan ini,” ucap Mey sembari menundukkan kepalanya.
“Ah iya kamu!” sang Direktur mendongakkan kepalanya dan saat itu pula ia tampak terdiam.
“Meyra Anindita?” sambung Direktur tersebut.
Mey, langsung mengangkat kepalanya, ia bahkan belum mengatakan siapa namanya lalu bagaimana bisa pak Direktur ini memanggilnya?
“Mey, ini beneran kamu?”
“Astaga! Brian?”
__ADS_1
Ternyata Mey dan sang Direktur saling mengenal. Oh yaampun apakah ini sebuah kebetulan atau memang sudah garis takdir?
“Iya ini aku Brian, kamu masih ingat aku kan?” ucap lelaki yang ternyata bernama Brian.
Brian bahkan sampai beranjak berdiri dari kursi kebesarannya. Brian melangkah mendekati Mey.
“Ya iyalah aku ingat! Mana mungkin aku lupa, kamu apa kabar Biran? Eh tunggu dulu, jadi Direktur perusahan ini kamu?”
“Aku baik dan benar aku adalah Direktur perusahan ini.”
“Astaga aku gak nyangka kamu bakal se-sukses ini loh, padahal dulu kamu kan gak pinter-pinter banget!”
Mendengar perkataan Mey membuat Brian seketika tertawa kecil.
“Dasar kamu yah, masih sama seperti dulu selalu saja meledek ku!”
“Iya abis kamu bisa-bisanya jadi Direktur, tapi kamu keren sih, aku bangga!” Mey memberikan jempolnya.
“Wih kamu aja mantanku bisa bangga, gimana orang tua aku? kayaknya bakal lebih bangga lagi deh,” sambung Brian yang kembali tertawa.
“Cie yang bawa-bawa status!” gurau Mey.
“Cie yang sekarang bakal jadi sekertaris ku,” balas Brian.
Suasana diantara Mey dan Brian pecah dengan gelak tawa, kecanggungan dan rasa cemas yang beberapa waktu lalu meradang dalam diri Mey, seketika hilang dalam sekejap tak kala mengetahui bahwa ternyata Direktur perusahan tempat ia magang adalah Briantoro—kakak kelasnya dulu sekaligus lelaki yang pernah ada di dalam hatinya.
Mungkin bisa disebut sebagai mantan pacar! Huh, terdengar konyol tapi itulah kenyataannya sekarang Mey, harus menjadi sekretaris mantan kekasihnya sendiri. Sampai sampai saat hari pertama magang, wajah Mey terlihat tidak ada beban melupakan pertengkarannya dengan suaminya sejak tadi malam.
__ADS_1
Tbc.