Istri Genit Mas Faaz

Istri Genit Mas Faaz
BERPISAH


__ADS_3

Dengan perasaan cemas Faaz terus menatap kearah luar jendela rumahnya, menunggu sang istri pulang.


Namun sedari tadi Mey, sama sekali tidak memperlihatkan dirinya, Faaz berdecak kesal! kenapa di saat mereka tengah terlibat perang dingin Mey justru semakin menambah masalah baru.


“Bibi Ran .., apakah Mey sempat mengatakan sesuatu sebelum dia pergi tadi pagi?” tanya Faaz.


“Tidak tuan, Nyonya tidak meninggalkan pesan apapun, tapi yang saya ketahui, hari ini Nyonya sudah mulai magang di salah satu perusahaan.”


“Sekalipun Mey pergi magang, apa mungkin perusahan menahannya sampai tengah malam seperti ini?” Faaz terlihat begitu kesal.


“Apa tuan sudah coba untuk menghubungi Nyonya?” tanya bi Ran.


“Belum.”


“Tuan, saran saya tuan coba untuk menghubungi Nyonya. Saya tahu saat ini hubungan tuan dengan Nyonya sedang tidak baik, tapi jika tuan terus diam dan tidak bertindak, tuan pasti akan semakin merasa cemas.”


“Baiklah Bi, saya akan hubungi Mey!” balas Faaz yang kemudian berjalan mendahului bi Ran.


Faaz melangkah menuju lantai atas tempat kamarnya berada, ia ingin mengambil ponselnya yang tertinggal di dalam kamar.


Setidaknya kali ini Faaz akan menepiskan sedikit egonya, ia memilih untuk menghubungi Mey lebih dulu dan bertanya tentang keberadaan wanita cantik itu.


‘Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan’


“Ckk! Kemana kau Mey apa kau sengaja melakukan ini untuk membuatku merasa khawatir!” keluh Faaz.


Nomor ponsel Mey tidak bisa dihubungi bahkan Faaz sudah mencobanya hingga berulang kali.


***


DI RUMAH ORANGTUA.


“Mey?” sapa IBU Chitra yang merasa terkejut sesaat setelah membuka pintu rumahnya.


“Ibu, Mey kangen!!!!” Mey langsung memeluk kilas tubuh sang ibu.


“Kenapa malam-malam begini kamu kemari nak? Kamu sama siapa?” tanya Chitra.


Mey menghela nafas, “Bu, setidaknya ajak Mey masuk dulu.”


“Baiklah nak, ayo masuk!”


Mey dan Chitra kemudian berjalan masuk kedalam rumah, Chitra membawa sang putri menuju ke ruang tengah.


Mereka berdua duduk bersama di salah satu sofa. Melihat kehadiran Mey yang datang secara tiba-tiba, membuat perasaan Chitra merasa tidak tenang.


“Sekarang ayo coba jelaskan sama ibu, kenapa kamu datang kemari sendirian?”


“Jadi gini Bu, sebenarnya hari ini Mey sudah mulai magang dan tadi sore uda pulang karena rumah ibu dekat dari tempat Mey magang, ya uda Mey singgah saja, Mey sekalian mau menginap di sini, boleh ya Bu?”


“Kamu magang pulang dari sore, tapi kenapa baru sekarang datang ke rumah ibu, ini pasti ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan, benarkan?” tebak Chitra.


Chitra sangat mengenal bagaimana putri semata wayangnya itu.

__ADS_1


“Ti—tidak Bu, tidak ada apa-apa,” jawab Mey.


“Mey, jangan berbohong, apa kamu sedang ada masalah sama Faaz?”


“Cuma masalah kecil Bu, tidak terlalu penting juga. Sudah lupakan saja.”


“Masalah kecil dalam rumah tangga kalau tidak diselesaikan bisa menjadi masalah yang besar nak.”


“Bu, sudah lah Mey cuma—”


Sretttttt!


Tiba-tiba suara mobil berhenti terdengar dari halaman depan rumah, membuat pembicaraan Mey dan juga sang ibu seketika terhenti.


“Ibu lihat dulu siapa yang datang, kamu tunggu di sini.”


Chitra beranjak berdiri, wanita itu melangkah menuju pintu depan, sebelum membuka pintu, Chitra terlebih dahulu melihat dari balik tirai jendela.


“Nak Faaz?” ucapnya saat melihat Faaz yang tampak turun dari dalam mobil.


Tanpa menunggu lama, Chitra langsung membukakan pintu dan menyambut kedatangan sang menantu dengan begitu hangat.


“Malam Bu,” Faaz menyalim telapak tangan Chitra.


“Malam nak.” balas Chitra sembari mengulas senyuman manis.


“Bu, apa Mey ada di sini?”


“Iya Mey ada, ayo masuk nak!”


Chitra kemudian mengajak Faaz untuk masuk kedalam rumah, Chitra juga membawa Faaz menuju ruang tengah.


Dan di saat itu pula Faaz pun langsung bertemu dengan Mey.


“Nak Faaz, kamu duduk dulu biar ibu siapkan minuman hangat.”


“Tidak usah Bu, jangan repot-repot.”


“Tidak repot nak, lagi pula kamu juga butuh waktu berdua untuk bicara bersama Mey. Ibu tinggal dulu, mari!” Chitra berjalan meninggalkan Faaz bersama dengan Mey di ruang tengah.


Seketika suasana pun kembali menjadi dingin, Mey sendiri yang melihat kehadiran Faaz hanya terdiam sembari memalingkan pandangannya ke arah lain.


“Kenapa tidak pulang ke rumah?” tanya Faaz dengan nada dingin, se-dingin es yang ada di kutub utara.


“Aku lagi mau di rumah ibu,” jawab Mey singkat.


“Kalau kamu mau ke rumah ibu, kamu kan bisa pulang dulu, setelah itu baru aku antar!”


“Rumah ibu sama perusahaan tempat aku magang jaraknya dekat dari sini, jadi aku malas kalau harus pulang dulu.”


“Terus kenapa ponsel kamu mati, sengaja?” Faaz mengangkat salah satu alisnya.


“Baterainya habis, aku lupa bawa charger.”

__ADS_1


“Alasan, bilang aja kamu mau bikin aku merasa khawatir kan?”


Mey menghela nafas, ia kemudian memberanikan diri untuk menatap wajah Faaz.


“Untuk apa kamu khawatir, bukannya kamu udah gak perduli lagi sama aku?” ungkap Mey.


Yang berhasil membuat Faaz mengangkat sudut bibirnya.


“Aku jauh-jauh datang kemari mencari keberadaan kamu, itu karena aku perduli sama kamu Mey!” tegas Faaz.


“Kamu harusnya gak usah perduli sama aku, aku ini kan bukan istri yang sempurna untuk kamu, aku ini cuma istri pembangkang yang gak pernah bisa menuruti kemauan suaminya, iyakan?”


“Mey cukup! jangan bikin aku naik darah dengan tingkah kamu ya. Sekarang ayo kita pulang!” Faaz beranjak berdiri.


Lelaki tampan itu berjalan mendekati Mey, menarik kasar pergelangan tangan Mey dan itu berhasil membuat Mey meringis kesakitan.


“Mas lepas! aku gak mau pulang!”


Deruan nafas Faaz begitu menggebu, rahangnya mengeras, rasanya ingin sekali Faaz memberikan pelajaran untuk Mey, tapi ia tidak bisa, bagaimanapun saat ini mereka sedang berada di rumah sang ibu.


“Mey, jangan bikin aku kehilangan kendali. Sekarang ayo pulang!”


Faaz terus memaksa Mey. “Enggak, aku gak mau! aku mau di rumah ibu!”


Mey berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman kuat suaminya, namun ia tak mampu, tenaganya tak seimbang dengan lelaki tampan itu.


Hingga tidak lama kemudian, Chitra datang.


“Ya ampun! apa-apaan kalian, kenapa kalian bertengkar?” tanya Chitra menatap bergantian kearah Faaz dan juga Mey.


Melihat kehadiran sang mertua, emosi dari dalam diri Faaz seketika mereda, Faaz pun melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Mey.


Dengan cepat Mey langsung berlari dan bersembunyi di belakang tubuh ibunya.


“Maaf Bu, Faaz hanya ingin membawa Mey pulang.”


Chitra kembali menghela nafas, ia kemudian menoleh kearah sang putri yang terlihat tengah menangis.


“Mey, kenapa kamu tidak mau pulang bersama suami mu?” tanya Chitra.


“Mey mau sama ibu aja, Mey gak mau pulang, Mey mau di sini.”


Melihat keadaan sang putri yang seperti ini membuat Chitra merasa tidak tega, Chitra kembali menoleh menatap Faaz.


“Nak Faaz, biarkan Mey menginap di rumah ibu dulu ya,” ucap Chitra.


“Baiklah bu kalau begitu, Faaz permisi!” jawabnya yang kemudian berbalik dan pergi.


"Nak Faaz, jangan emosi!" tutur ibu mertuanya.


"Astagfirullah. Maaf ya bu! Mungkin Faaz sudah seharusnya tidak bersama Mey saat ini." lirihnya, membuat Mey sedih tertusuk.


Mungkin memang sudah seharunya Faaz dan Mey tidak bersama dulu, mereka butuh waktu untuk menenangkan pikiran sampai akhirnya nanti bertemu kembali.

__ADS_1


Jika api berlawanan dengan api, maka tidak akan ada yang kalah atau pun menang, semuanya akan terbakar hingga tak tersisa. Itulah alasannya mengapa jika ada sebuah masalah dalam hubungan harus diselesaikan dengan kepala dingin.


Tbc.


__ADS_2