
Hujan mengalir dengan begitu deras menambah rasa sepi dalam diri seorang Faaz. Dari balik jendela kamarnya, Faaz menatap lekat setiap tetesan air hujan yang mengalir.
“Mey, kamu lagi apa sayang. Aku kangen sama kamu,” ucapnya.
Kini yang ada di dalam benak Faaz hanyalah Mey. Pertengkaran yang terjadi diantara mereka sungguh membuat Faaz tersiksa.
Ingin sekali rasanya Faaz mengakhiri semua perselisihan ini, namun Faaz bukanlah lelaki yang mudah untuk mengucapkan kata maaf atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan. Yah, bahkan sampai detik ini Faaz merasa dirinya tidak salah, menurutnya memiliki anak itu adalah bagian dari perjalanan kehidupan rumah tangga.
Hanya saja Mey yang tidak bisa mengerti akan hal tersebut. Faaz menghela nafas gusar, ia berjalan menuju kearah ranjang. Faaz tersenyum kecil tak kala melihat bingkai foto yang terpajang di atas sebuah nakas.
Foto yang memperlihatkan dirinya dan juga Mey tengah tersenyum lebar kearah kamera. Perlahan, Faaz meraih bingkai foto tersebut. Foto yang diambil ketika mereka bulan madu di mala dewa dua tahun yang lalu.
Ingin sekali Faaz kembali pada masa-masa itu, masa dimana ia dan Mey saling tertawa, masa dimana ia dan Mey saling berpegangan tangan, belari-lari di hamparan pasir putih, Faaz juga merindukan masa dimana Mey bersandar di pundaknya sembari menunggu matahari terbenam.
Masa-masa itu begitu indah, bahkan tanpa Faaz sadari bulir air mata sudah membasahi wajahnya. Faaz tipe lelaki yang kuat dalam menghadapi masalah apapun, namun ia akan menjadi lelaki yang lemah jika sudah menyangkut tentang Mey—wanita yang begitu ia cintai. Kini Faaz hanya bisa merindu tanpa mampu berbuat apapun.
Faaz jadi ingat Mey yang mirip Lisa, bahkan kisah saat ini seolah tergambar beginikah rasanya tidak diperdulikan. Bahkan anaknya dengan Lisa tak dapat Faaz temui dari kisah buku Lisa yang mendunia. Lisa menyematkan dan berharap Azri putranya tak bertemu ayah biologisnya.
***
Berbeda Hal Dengan Lisa.
Di sisi lain, Brian terlihat turun dari lantai atas sembari membawa selimut putih. Ia melangkah menuju sofa ruang tengah rumahnya.
Di sana, seorang bidadari tengah tertidur dengan begitu pulas, Brian yang tak tega jika harus membangunkan Mey memilih untuk menyelimutinya saja. Brian juga tak meninggalkan Mey seorang diri, ia memilih untuk menjaga Mey sepanjang malam.
Sampai matahari perlahan terbit Mey mulai terbangun dari tidurnya, ia merasa terkejut ketika mendapati dirinya tertidur di rumah Brian.
Mey langsung beranjak duduk dan saat itu pula ia melihat Brian yang ternyata juga ikut tidur di sofa lain, wanita cantik itu beranjak berdiri sembari melangkah mendekati Brian, Baru saja Mey ingin menyentuh telapak tangan Brian, tiba-tiba saja lelaki tampan itu terbangun dari tidurnya.
“Hei kamu uda bangun,” sapa Brian.
Mey mengangguk kecil, “Maaf aku ketiduran.”
Brian tersenyum manis, telapak tangannya beralih menepuk ruang kosong yang berada tepat di sampingnya, sebagai isyarat untuk menyuruh Mey duduk.
__ADS_1
“Kemarilah!”
Mey kemudian duduk tepat di samping Brian, sejujurnya Mey merasa begitu tidak enak hati karena sudah merepotkan Brian.
“Brian, aku udah benar-benar menyusahkan kamu.”
“Hei, kenapa bicara seperti itu, Mey seperti yang aku bilang waktu itu, aku sayang sekali sama kamu, dan aku sudah berjanji untuk menjaga kamu. Lagi pula semalam hujan sangat deras, aku tidak mungkin membiarkan kamu pulang.”
Brian lagi-lagi menatap lekat manik mata Mey dan itu berhasil memunculkan kembali getaran perasaan yang kemarin sempat mereda. Oh astaga, ada apa dengan Mey bahkan kini jantungnya berdegup lebih kencang saat berada dekat dengan Brian.
“Brian, setelah kamu mengetahui aku sudah menikah, apa kamu akan menjauhiku?” tanya Mey.
Brian tersenyum kecil, ia menyentuh lembut telapak tangan wanita cantik itu.
“Aku tidak punya alasan untuk menjauhimu, selagi pun kamu sudah menjadi milik orang lain, aku akan tetap menjaga kamu Mey, aku akan tetap menjadi tempat untukmu bersandar, aku juga akan menjadi tempat pelampiasan kesedihanmu,” jelas Brian.
Keduanya saling menatap dalam beberapa detik, sampai akhirnya Brian mengangkat kedua telapak tangan Mey dan mengecupnya dengan begitu lembut.
“Aku mencintaimu, Mey!”
Dep!
“Mey, aku tahu pasti sulit untuk kamu bisa menerimaku. Aku hanya berusaha untuk tidak membohongi perasaanku, aku benar-benar mencintai kamu Mey.”
“Brian, kamu tahu kan apa yang kamu lakuin ini salah?”
“Yah aku tahu Mey, aku mencintai istri orang, itu memang sebuah kesalahan, tapi bukankah kamu yang meminta agar aku tidak pergi lagi, bukankan kamu yang menginginkan aku ada di sampingmu?”
“Ya, aku gak mau kamu ninggalin aku Brian. Aku gak mau!” ungkap Mey.
Brian tersenyum bahagia,“Kalau begitu kita jalanin saja dulu. Kamu mau kan?”
Mey menghela nafas panjang, dalam beberapa detik ia tampak memejamkan matanya, sampai akhirnya Mey pun menganggukkan kepalanya.
“Baiklah, kita jalanin saja dulu,” ucap Mey.
__ADS_1
Berhasil membuat Brian menghela nafas lega, setidaknya Mey sudah kembali padanya meskipun ia tidak akan bisa memiliki Mey seutuhnya.
Dan tiba-tiba! suara bel pintu rumah terdengar berbunyi. “Siapa yang datang pagi-pagi begini?” tanya Mey merasa penasaran.
“Kita lihat yuk!” ajak Brian.
Dan saat itu pula Mey kembali mengangguk setuju, Brian meraih telapak tangan Mey, menggandengnya hingga menuju pintu rumah.
Saat pintu terbuka, “Meey..!!!!!” suara pekikan pun langsung terdengar dengan sangat nyaring.
“Sheila, Marsha?” ucap Mey merasa terkejut dengan kehadiran dua sahabatnya itu.
Sheila dan Marsha langsung memeluk tubuh Mey. “Kangennnnn!”
“Gue juga kangen sama kalian, tapi tunggu dulu deh, kok kalian bisa ada di sini?” tanya Mey, merasa penasaran.
Sheila dan Marsha seketika melirik kilas kearah Brian. Melihat lirikan diantara mereka berdua, kini Mey dapat menebak bahwa semua ini pasti rencana Brian.
“Pasti Brian nih yang suruh kalian ke sini kan?”
“Iya Mey, semalam Brian massage kita berdua, awalnya kita kaget karena seingat kita Brian itu masih di Autralia, eh ternyata uda balik ke indo,” ucap Sheila.
“Ehem! Berarti kalian balikan dong!” sambung Marsha.
Brian tertawa kecil mendengarnya, Brian juga terlihat merengkuh pundak Mey.
“Iya nih, kita uda balikan!” jawab Brian, berhasil membuat Mey terperanjat, Mey tidak menduga jika Brian akan bicara sejujur itu.
“Wah, congrats Mey! akhirnya Lo gak bakalan kesepian lagi, tapi nih ya kita harus rayain balikannya Brian sama Mey, setuju gak Sha?”
“Setuju, ayo kita hepi-hepi!” jawab Marsha.
Suasana seketika berubah menjadi hangat, Mey terlihat sudah bisa tersenyum kembali.
‘Brian, kamu selalu bisa mengembalikan suasana hatiku’ batin Mey.
__ADS_1
Mey sadar bahwa yang ia lakukan saat ini adalah sebuah kesalahan, tapi di sisi lain Mey juga tidak bisa membohongi perasaannya bahwa ia tak ingin jika Brian pergi darinya. Lalu bagaimana dengan Faaz? bahkan lelaki itu sama sekali tidak mengetahui kini sang istri telah membagi cintanya untuk pria lain.
Tbc.