Istri Genit Mas Faaz

Istri Genit Mas Faaz
MANTAN MENDEKAT


__ADS_3

“Mah, seharusnya Mama tidak perlu bicara kasar pada Mey,” keluh Faaz yang saat ini tengah berada di kediaman orang tuanya.


“Mama sakit hati Faaz! Mama gak terima dengan keputusan Mey, dan kamu selalu saja membela wanita itu, apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Mama, awalnya Mama sudah bahagia saat kamu mengatakan bahwa Mey setuju memiliki anak, tapi nyatanya itu semua kebohongan!” ucap Kelly sembari menangis.


Melihat sang ibu sedih Faaz merasa menyesal. Jika Faaz dari awal bicara jujur maka ini semua pasti tidak akan terjadi.


“Maafkan Faaz, Ma.”


Faaz menyentuh lembut telapak tangan sang ibu. Dan itu berhasil membuat Kelly semakin terisak.


“Faaz, Kelly ada apa ini?” ucap seorang pria parubaya.


“Pa,” sapa Faaz. Ternyata dia adalah Jordan —ayah Tiri Faaz, selama ini memang mama menikah lagi di saat dulu Faaz down kehilangan Lisa.


Jordan berjalan mendekati istri dan putra semata wayangnya itu. Ia duduk di sofa yang sama dengan mereka.


“Faaz, kenapa Mama mu menangis?” tanya lelaki parubaya itu.


“Aku tidak apa-apa, jangan khawatir!” sambung Kelly yang kemudian beranjak berdiri.


“Mama mau kemana?” tanya Faaz.


“Mama mau istirahat di kamar, kamu disini saja, temani Papa Jo.”


Kelly kemudian berjalan meninggalkan ruang tengah dan perlahan punggung belakang Kelly menghilang dari pandangan Faaz dan juga Jo.


Kini tinggallah Faaz berdua bersama sang ayah. Entah mengapa, Jo merasa seperti ada sesuatu yang tidak beres.


“Faaz, ayo cepat katakan sebenarnya apa yang sudah terjadi?”


“Pa, ini semua perihal Mey.”


“Ada apa dengan Mey? dia baik-baik saja kan?”


“Mey baik-baik saja, tapi hubungan Faaz dan Mey yang saat ini sedang tidak baik.”


“Astaga Faaz, sebenarnya ada apa ini?”


“Pa, Mama ingin sekali memiliki seorang cucu tapi di sisi lain, saat ini Mey belum ingin memiliki anak,” jelas Faaz.


Jo yang mendengarnya seketika menghela nafas.


“Pasti Mama marah dengan keputusan Mey. Benarkan?”

__ADS_1


“Iya Pa, Mama sangat marah pada Mey, dan Faaz bingung harus melakukan apa Pa, Faaz juga kasihan dengan Mey yang seperti dipojokkan, tapi di sisi lain ada Mama yang merasa begitu sedih, Faaz benar-benar bingung Pa.”


Jo! meraih pundak sang putra sembari menepuknya secara perlahan.


“Tenanglah nak, kamu tidak perlu bingung, Papa yakin lambat laun Mama pasti akan bisa menerima keputusan Mey. Lagi pula, Mey bukan tidak ingin memiliki anak dari kamu, tapi hanya saja waktunya yang kurang tepat, kamu juga harus bisa mengerti Faaz.”


“Ya Pa, terimakasih sudah membuat Faaz jauh lebih tenang.”


“Lain kali kalau kamu ada masalah, cerita sama Papa, Papa ini siap mendengarkannya.”


“Baiklah pa.”


***


Di Berbeda Tempat.


Di taman yang sepi, Mey berjalan dengan pandangan kosong, air matanya terus menetes membasahi wajah.


Mey merasa tidak ada yang mengerti akan perasaannya saat ini, Mey merasa terpojokkan. Perlahan, Mey menyeka air matanya.


Ia melangkah mendekati sebuah kursi kayu bercat putih yang berada tepat di samping pohon rindang. Mey duduk di sana, ia memejamkan matanya.


‘Menyesal saya mengizinkan Faaz menikahi kamu’


Ucapan menohok dari sang ibu mertua terus terngiang dalam benak Mey.


Semakin Mey memikirkannya, tangisnya pun semakin pecah.


Hingga tidak lama kemudian, suara derup langkah kaki terdengar mendekat, namun Mey sama sekali tidak menyadarinya.


“Mey, kamu di sini?”


Mey, seketika menoleh sesaat setelah mendengar suara yang tidak asing baginya.


“Bri—Brian?”


“Hei, kamu kenapa?” Brian terkejut ketika melihat wajah Mey basah akan air mata.


Brian langsung mendekati Mey dan duduk tepat di sampingnya, “Mey, kenapa kamu nangis?” tanya Brian sembari menyentuh lembut wajah Mey.


Mey semakin tidak kuasa membendung air matanya, dan di saat yang bersamaan Mey menghempaskan tubuhnya kedalam pelukan Brian.


Mey menangis dalam pelukan lelaki tampan itu. Ia meluapkan semua emosinya di pundak Brian. Sementara itu, Brian yang belum mengerti apapun hanya bisa membalas pelukan Mey dengan begitu erat.

__ADS_1


“Menangislah Mey! sampai kamu merasa membaik,” ucap Brian sembari mengusap lembut surai rambut Mey.


Kurang lebih sepuluh menit Mey memeluk Brian tanpa mengatakan apapun. Mey larut dalam kepiluan, Mey bingung harus meluapkannya pada siapa, karena saat ini ia merasa sendiri.


Setelah merasa cukup membaik, Mey kemudian menarik ulur tubuhnya dari dalam dekapan Brian, Mey kembali menyeka air matanya.


“Mey, aku ada di sini, aku siap mendengarkan cerita kamu,” jelas Brian yang mencoba untuk membuat Mey bicara.


“Brian aku bingung, aku bingung harus mulai dari mana, tapi saat ini aku benar-benar merasa sedih, aku merasa sendirian, aku merasa gak ada yang bisa ngerti-in aku.”


“Syuttt! jangan bicara seperti itu, kamu gak sendiri Mey, aku di sini. Aku akan selalu ada untuk kamu, aku janji.”


“Brian, kamu tidak perlu berjanji apapun sama aku, karena aku ini bukan perempuan yang baik, aku—”


“Hei, kamu bicara apa? siapa yang bilang kalau kamu bukan wanita yang baik? ayo katakan, suruh dia berhadapan denganku,” ucap Brian yang kemudian meraih lembut kedua telapak tangan Mey.


“Brian, sebenarnya ada sesuatu yang belum kamu ketahui tentang aku,” sambung Mey dengan tatapan sendu.


“Apa itu Mey?”


“Brian sebenarnya aku.....aku—”


“Aku apa Mey? coba kamu ceritakan pelan-pelan ya.”


“Aku sudah menikah, Brian.”


Deg.


Brian termangu! ia berharap bahwa saat ini Mey tengah bergurau.


“Kamu sedang bercanda kan?”


“Aku serius Brian. Dua tahun yang lalu, almarhum ayah meninggalkan wasiat, ayah ingin aku menikah dengan dokter yang telah merawatnya. Aku gak bisa menolak, aku jalani pernikahan itu, tapi sekarang rumah tanggaku sedang tidak baik-baik saja. Bahkan ibu mertua ku mengatakan bahwa dia menyesal memiliki menantu sepertiku, rasanya sakit sekali Brian,” jelas Mey.


Brian masih terdiam, ia begitu terkejut dengan apa yang Mey katakan, padahal Brian sudah begitu berharap bahwa ia bisa kembali bersama dengan Mey.


Namun kenyataan baru ini membuat harapan Brian seolah pupus. Hatinya terasa sakit mendengar bahwa ternyata wanita yang sampai detik ini masih ia cinta ternyata telah menjadi milik lelaki lain.


“Brian, maafin aku ya, karena dari awal aku gak jujur sama kamu. Tapi aku mau setelah kamu mendengar semua ini, kamu jangan tinggalin aku lagi ya, aku bingung Brian, aku bingung harus kemana untuk melampiaskan kesedihanku. Cuma kamu yang saat ini menjadi tempat ternyaman untuk aku bersandar, aku merasa hangat ada di dalam pelukan kamu dan aku mau kamu jangan tinggalin aku lagi seperti dulu, aku mohon!” Mey melipat kedua telapak tangannya di hadapan Brian.


Lagi-lagi bulir air mata kembali membasahi wajah Mey. Sementara Brian, laki-laki itu juga tampak tak kuasa menahan air matanya.


“Aku pernah menyesal karena sudah meninggalkan kamu, dan sekarang aku janji aku tidak akan pernah mengulangi kesalahan itu lagi, Mey!” ungkap Brian dengan tatapan yang begitu lekat.

__ADS_1


Kedua mata mereka kembali bertemu, diantara tangis yang tak kunjung mereda, entah mengapa Mey merasakan getaran perasaan yang dulu pernah ia rasakan saat masih menjalin kasih dengan Brian. Apa mungkin rasa itu kembali muncul lagi saat ini?


Tbc.


__ADS_2