Istri Genit Mas Faaz

Istri Genit Mas Faaz
BUKAN CLBK


__ADS_3

“Aku sepertinya terlalu kasar pada Mey. Sejujurnya, aku juga tidak bisa jika terus bersikap dingin padanya, aku benar-benar merasa tak tenang,” ucap Faaz.


Sedari tadi Faaz bahkan sama sekali tidak fokus bekerja, pikirannya selalu berada pada Mey. Kejadian tadi malam juga membuat Faaz merasa bersalah, Faaz menyesali dirinya yang bicara terlalu kasar sehingga menyakiti perasaan Mey.


Tak lama kemudian, pandangan pria tampan itu tertuju kearah ponselnya, Faaz ingin sekali menghubungi Mey dan bertanya kabar wanita itu, tapi hati Faaz seolah ragu, ia tidak ingin Mey, berfikir bahwa dirinya lemah.


“Tidak! Tidak! Aku tidak boleh menghubunginya, bagaimanapun Mey itu salah, dia tidak ingin memiliki anak denganku. Jika aku terus bersikap baik, bisa-bisa sikap buruknya akan semakin merajalela.”


Faaz kemudian beralih memegangi kepalanya yang terasa begitu berdenyut, sepertinya hari ini Faaz akan pulang lebih awal lagi.


Dan tidak lama dari itu, seorang wanita terlihat memasuki ruangan tempat Faaz berada. Wanita itu adalah ibu Kelly.


Melihat kehadiran sang ibu membuat perasaan Faaz menjadi tidak karuan, bahkan kini lelaki tampan itu terlihat sangat gelisah.


“Faaz?”


“Iya Ma, Mama ada perlu apa datang kemari lagi?”


“Memangnya tidak boleh mama ke sini lagi?” tanyanya sembari mencari posisi nyaman untuk duduk di hadapan sang putra.


“Tentu saja boleh Ma, tapi ini masih jam kerja Faaz Ma, kita bisa mengobrol setelah Faaz pulang kerja.”


“Faaz, Mama maunya ngobrol sekarang sama kamu. Lagi pula gak ada pasien, jadi ya sudah santai saja.”


Faaz menghela nafas, semoga saja kedatangan mama kali ini tidak membuat pikiran Faaz semakin berkecamuk.


“Bagaimana?” sambung Kelly sembari mengangkat kedua alisnya.


“Bagaimana apa, Ma?”


“Rencana kalian punya anak, jadi kapan mulai programnya?”


‘Aku sudah menduga pasti kedatangan Mama kemari untuk bertanya tentang hal itu’ batin Faaz.


“Kok kamu diem sih? jangan bilang kamu dan Mey, tetap memilih menunda untuk punya anak?”


“Tidak Ma, bukan begitu.”


“Lalu apa? Kenapa kalian belum juga memulai mengikuti program kehamilan!”


“Begini Ma, Faaz dan Mey itu kan sehat, kita juga normal jadi sepertinya kita tidak perlu mengikuti program kehamilan.”


“Oke, tapi Mey sudah mulai berhenti mengkonsumsi pil KB kan?”


“Ya, sudah!” jawab Faaz berbohong.

__ADS_1


Mendengar perkataan sang putra membuat Kelly seketika tersenyum lebar. Sebab cucunya dari pernikaham Faaz dan Lisa ikut Hanum ke singapore. Jadi Kelly, ingin pernikahan kedua Faaz kembali menimang cucu.


“Yasudah kalau begitu Mama senang dengarnya, Mama berharap kalian bisa segera memberikan kabar baik untuk Mama.”


“Iya Ma.”


“Kalau gitu Mama permisi pulang dulu ya, kamu yang semangat kerjanya.”


“Iya Ma, Mama naik apa? apa mau Faaz antarkan?”


“Tidak usah nak, Mama sama supir, kamu fokus aja kerja.”


“Oke Ma.”


Kelly kemudian beranjak berdiri dan pergi meninggalkan ruangan tempat sang putra berada.


‘Maafin Faaz Ma, Maaf karena Faaz harus membohongi Mama’


***


Di Berbeda Tempat.


“Brian, kamu kok ajak aku ke sini? Bukannya kamu harus hadiri beberapa acara penting?” tanya Mey, yang merasa terkejut saat Brian justru membawanya ke sebuah restoran bintang lima.


“Sudah santai saja, itu hanya acara peresmian antar perusahaan, tidak terlalu penting juga. Sekarang aku mau traktir kamu makan di sini.”


“Kamu ngapain takut sih, lagi pula Direktur perusahaannya kan aku, jadi uda santai aja. Oke?”


“Oke deh, bye the way ini restoran bagus banget yah, pasti makanannya mahal-mahal.”


Brian terkekeh mendengar perkataan polos Mey.


“Hei, kamu pikir aku ini masih sama seperti dulu, gak bisa bayarin kamu makan makanan yang mahal. Aku ini uda beda Mey, bahkan sekalipun kamu mau pesan semua menu makanan di sini, aku siap bayarin!” ucap Brian penuh percaya diri.


“Iya deh pak Direktur, tapi kalau di inget-inget yah dulu mah kamu paling sanggup juga bayarin aku makan di ketoprak pak Camat,” ungkap Mey mengingat masa-masa mereka saat masih sekolah.


“Kan aku uda bilang, kalau aku yang dulu itu beda sama yang sekarang, makanya harusnya kamu itu dulu gak putus samaku. Pasti sekarang nyesel kan?” Brian memainkan alisnya.


“Ge-er lo! lagian kita dulu putus kan bukan karena mutlak kemauan aku sendiri, itu semua keputusan kita berdua, karena aku yang emang gak sanggup kalau harus Ldr!”


“Iya-iya, coba aja dulu kita bertahan dan memilih gak putus, pasti sekarang hubungan kita sudah sangat serius, atau mungkin aja kita uda nikah, benerkan?” ungkap Brian berandai-andai.


“Emang kalau itu semua terjadi kamu yakin aku mau nikah sama kamu?” gurau Mey kembali.


“Yakinlah, kamu kan dulu cinta mati banget sama aku!”

__ADS_1


“Enggak tuh, percaya diri banget sih kamu!”


“Hei jangan bohong, aku inget banget, kamu cinta mati sama aku, bahkan dulu aja nih kamu sampai rela berantem di kantin sama Syasha cuma gara-gara rebutin aku. Hahahahahaha!” tawa Brian pecah.


“Aishhhh! Gak gitu ceritanya, emang si Syasha aja yang kegenitan sama cowok orang dan kamu juga sok kegantengan!”


“Iya deh yang selalu gengsian, tapi ngomong-ngomong kamu sama dia sekarang hubungannya gimana?”


“Yah gak gimana-gimana, sejak lulus sekolah aku uda jarang banget ketemuan sama dia, males juga sih, aku itu lebih sering ketemu sama Sheila dan Marsha, itupun karena kita satu kampus dan satu prodi,” jelas Mey.


“Oh jadi kamu sama Sheila dan Marsha satu prodi?”


“Iya, emang direncanain dari awal!”


“Kenapa Sheila sama Marsha gak ikut magang aja di perusahan aku?”


“Emang boleh?”


“Ya boleh lah.”


“Serius kamu?”


“Serius bawel!”


“Really?”


“Ya ampun nih anak, iya beneran kalau emang Sheila sama Marsha mau, nanti aku akan tempatkan mereka di posisi yang bagus, posisi yang banyak dapat ilmunya.”


“Oke! Oke! Aku akan temuin mereka besok, ahhhhhh.....aku seneng banget, aku itu sebenarnya galau waktu tahu Marsha sama Sheila magang di perusahaan lain, tapi untung aja ada kamu.”


“Iya, lagian aku tahu banget gimana kalian, uda kayak perangko, susah lepasnya.”


“Ternyata kamu masih sama ya kayak dulu, selalu aja bisa ngerti-in perasaan aku!” ungkap Mey dengan raut wajah penuh kebahagiaan.


“Iyalah, namanya juga kamu mantan aku, ya aku tahu lah gimana kamu. Tapi kita masih bisa sama-sama kan Mey?”


“Bisalah, yah walaupun kita mantan bukan berarti kita harus musuhan dong, lagian kita juga putusnya dulu secara baik-baik kan dan gak ada salahnya kalau sekarang kita jadi temen,” jelas Mey.


“Tapi kalau aku maunya lebih dari sekedar teman gimana?”


Dep!


Mey tertegun, ia tak menyangka jika Brian akan mempertanyakan hal seperti ini.


Namun tak lama kemudian ekspresi wajah Brian tiba-tiba berubah, tawa Brian lagi-lagi pecah tak kala melihat raut wajah Mey yang terlalu serius dalam menanggapi ucapannya.

__ADS_1


“Hei, serius banget sih kamu. Just kidding Mey!! hahahahaha!”


Tbc.


__ADS_2