Istri Genit Mas Faaz

Istri Genit Mas Faaz
DEMI KARTU BLACKCARD


__ADS_3

Mey, terlihat merapikan rambutnya di depan meja rias. Dengan gaun selutut berwarna hitam, wanita cantik itu tampak begitu berkilau.


Mey berjalan menuju lantai dasar. Suara heels yang Mey kenakan menggema ke seluruh ruangan rumah.


“Bagaimana Bibi, apa semuanya sudah siap?” tanya Mey pada sang pelayan.


Bibi Ran, tersenyum manis.“Sudah Nyonya.”


“Bagus, kalau begitu aku akan menunggu Faaz di ruang makan,” ungkap Mey sembari melanjutkan langkahnya.


Di ruang makan, banyak hidangan yang tersaji dan beberapa lilin di atas meja menambah kesan yang romantis.


Derup suara langkah kaki terdengar mendekat. Dapat Mey, duga pasti itu adalah Faaz, Mey langsung beranjak berdiri, menyambut kedatangan Faaz dengan senyuman manisnya.


Faaz terpanah, lelaki yang baru saja pulang kerja itu menatap tak percaya apa yang kini ada di hadapannya.


“Hai, akhirnya kamu pulang juga!” ucap Mey melangkah mendekat kearah Faaz.


Gleuuk! Menelan saliva.


Mey, meraih koper kerja Faaz dan juga jas dokter yang sedari tadi lelaki tampan itu pegang.


“Kamu pasti capek banget ya, sekarang kita makan yuk!” sambung Mey.


Faaz masih terdiam, ia tak menduga jika Mey akan menyambut kepulangannya dengan begitu manis.


“Faaz kamu kok diem, ayo kita makan malam.”


“Ah, iya ayo!” jawab Faaz.


Mereka berdua kemudian berjalan mendekati meja makan, Mey tampak sigap mengambilkan piring beserta nasi dan juga lauk pauknya.


“Ini semua kamu yang siapkan?” tanya Faaz ragu-ragu. Bagaimana tidak, Faaz merasa saat ini sifat Mey begitu berbanding terbalik dengan sebelumnya.


“Kalau makanannya sih, Bibi Ran.. yang masak, tapi yang request beberapa menu makanannya itu aku, sekaligus aku juga yang minta di tambahin lilin-lilin, biar kesannya romantis, kamu suka kan?”


“Ya tentu, tapi kenapa?” Faaz mengangkat kedua alisnya.


“Kenapa apanya ..?”


“Yah kenapa tiba-tiba kamu jadi bersikap manis seperti ini?”


Mey, tersenyum mendengar pertanyaan Faaz yang seolah meragukan dirinya.


“Aku kan istri kamu, dan sebagai istri aku harus melayani suamiku sebaik mungkin, yah anggap aja ini first dinner kita.”

__ADS_1


“Aku senang sekali, akhirnya kamu sudah mulai belajar untuk menerima pernikahan kita. Aku sayang sama kamu Mey,” Faaz tampak meraih telapak tangan Mey, sembari mengusapnya dengan begitu lembut.


Makan malam berjalan dengan sangat lancar, Faaz terlihat begitu bahagia, ia bahkan menyantap habis semua menu yang dihidangkan.


“Kamu kelihatannya laper banget ya,” gurau Mey.


Faaz tertawa kecil mendengarnya, “Iya nih, kayaknya berat badan aku bakal nambah deh.”


“Gak apa-apa sih, kamu juga bakal tetap ganteng.”


“Ini kamu kenapa jadi jago gombal? kamu lagi baik-baik aja kan?”


“Yaiyalah aku baik-baik aja, kamu pikir aku kenapa ..?”


“Ya gak biasanya aja kamu bersikap kayak gini sama aku.”


“Faaz, aku kan uda bilang aku itu cuma mau belajar jadi istri yang baik buat kamu.”


“Aku seneng dengernya sayang, oh ya aku mau kasih sesuatu untuk kamu,” Faaz terlihat merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah dompet dan meraih satu kartu berwarna hitam dari dalam sana.


“Ini sayang kamu ambil kartu ini, kamu bisa pakai untuk kebutuhan kamu,” jelas Faaz.


‘Astaga Faaz peka banget sih, yes berarti rencana aku berhasil’ batin Mey.


“Kamu baik banget sih.”


“Kalau kamu butuh sesuatu kamu bisa pakai kartu itu, gak perlu khawatir, kartunya unlimited.”


“Unlimited? gak ada batasnya?”


“Iya sayang.”


Mendengar bahwa kartu yang diberikan Faaz tak memiliki batas nominal membuat Mey rasanya ingin sekali melompat-lompat kegirangan. Oh yaampun kalau tahu Faaz se-royal ini, mana mungkin Mey menolak dinikahinya.


“Mas Faaz, apa boleh aku pakai kartunya untuk beli handphone baru?” tanya Mey.


Faaz membalasnya dengan senyuman manis, “Boleh, atau kamu gunakan perawatan seluruh body di Zap, atau ratu kecantikan glows manapun aku gak apa apa. Asalkan kamu bahagia, dan menjadi istri nurut untuk aku. Satu lagi, dimanapun bersama siapa aku harus tahu. Tidak ada teman laki laki, karena status kamu itu bukan lajang."


“Ooohw .. Serius, hanya itu syaratnya?”


“Iya sayang.”


Mey, langsung beranjak dari tempat duduknya dan beralih kearah Faaz, wanita cantik itu memeluk tubuh Faaz.


“Cuma dipeluk aja nih?” Faaz menaikkan salah satu alisnya.

__ADS_1


“Ya terus kamu mau apa?” tanya Mey dengan manja.


Faaz terlihat menatap lekat manik mata Mey, tatapan yang penuh dengan gairah.


Sampai akhirnya, Faaz beranjak berdiri. Faaz menyentuh wajah Mey dan berkata.


“I Love You Meyra Antonio, I Love You!”


Mey, hanya terdiam dengan jantung yang berdegup lebih kencang dari biasanya.


Tak sampai disitu, Faaz tampak memiringkan kepalanya, mendekatkan wajahnya ke bibir manis milik Mey dan pada akhirnya kedua bibir mereka pun saling bertaut.


Kecupan yang begitu hangat, keduanya benar-benar larut dalam suasana. Jarak yang pernah ada diantara mereka seketika runtuh tak terbatas.


Hasrat yang sudah begitu menggebu dari dalam diri Faaz membuatnya tak mampu mengendalikan diri, kecupan yang awalnya biasa saja, berubah menjadi panas dan sangat agresif.


Mey, sendiri hampir saja tak mampu menyeimbanginya, asupan oksigen yang semakin menipis memaksa mereka berdua melepaskan tautannya.


Keduanya tertawa kecil, merasa kurang puas, Faaz tampak beralih meraih tubuh mungil Mey dan menggendongnya ala bridal style menuju kamar.


“Astaga, Faaz!” Mey, terperanjat saat suaminya menggendongnya secara tiba-tiba.


Faaz hanya tersenyum nakal sembari terus melangkah menuju anak tangga untuk naik ke lantai atas tempat kamar mereka berada.


Dum!


Faaz menghempaskan tubuh Mey ke atas ranjang king size miliknya, di saat yang bersamaan Faaz terlihat mulai melucuti satu persatu pakaian yang ia kenakan.


Mey yang sudah berada di atas ranjang hanya terpaku tanpa suara, Mey tak menduga berawal dari rencananya untuk mendapatkan black card, justru berakhir sampai sejauh ini.


Oh astaga rasanya jantung Mey ingin lepas dari sarangnya. Faaz sendiri tampak tidak ragu untuk memperlihatkan tubuhnya secara keseluruhan.


Sangat menggoda! berhasil membuat Mey menelan lekat salivanya sampai berulang kali, terlebih lagi bagian yang berada di bawah sana ‘Milik’ Faaz, seumur hidupnya baru kali ini Mey melihat benda seperti itu.


Jika ditanya selanjutnya bagaimana? tentu saja Faaz dengan penuh gairahnya langsung naik ke atas ranjang merangkak mendekati Mey, beralih melepaskan seluruh pakaian yang Mey kenakan tanpa tersisa sehelai benang pun.


******* demi ******* mulai terdengar mengisi setiap sudut kamar, kenikmatan yang mungkin sudah begitu Faaz Bahrein dambakan, kemolekan tubuh Mey yang sedari dulu mampu membuatnya terpesona, dan pada akhirnya kini berhasil Faaz miliki.


“Shit! pelan-pelan!”


“Relax honey!”


Dan malam itu menjadi saksi menyatunya mereka berdua dengan penuh tak tertahankan.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2