Istri Genit Mas Faaz

Istri Genit Mas Faaz
TIDAK MAU PULANG


__ADS_3

“Faaz, kamu lebih baik tinggal sama Mama saja ya.”


“Tidak Ma, Faaz akan tetap tinggal di sini.”


“Tapi kamu sendirian di sini nak, bibi Ran, juga sedang cuti nanti yang ngurusin kamu siapa,” ungkap Kelly.


Faaz tampak menghela nafas, “Ma Faaz ini sudah dewasa dan Faaz bisa menjaga diri dengan baik. Mama tidak perlu merasa khawatir ya.”


“Ini semua karena Mey, kalau wanita itu memang sudah tidak ingin kembali sama kamu, ya sudah kamu ceraikan saja dia!”


“Ma, jangan bicara seperti itu. Apa yang terjadi diantara Faaz dan juga Mey, semuanya hanya pertengkaran kecil Mey juga pasti akan kembali pulang ke rumah ini, Mama gak perlu merasa risau ya.”


“Kasihan sekali kamu nak, kamu sangat mencintai istrimu tapi istrimu sama sekali tidak memperdulikan perasaanmu.”


“Sudahlah Ma, tidak perlu membahas buruk lagi tentang Mey.”


“Ya sudah kalau kamu memang tidak ingin pulang ke rumah Mama tidak apa-apa, tapi kamu janji kamu harus jaga diri baik-baik. Yaa!”


“Iya Ma.”


“Kalau gitu Mama pulang dulu, sampai jumpa.”


“Sampai jumpa Ma!”


Kelly beranjak dari tempat duduknya, Faaz menghantarkan Kelly sampai ke halaman depan rumahnya. Faaz sadar, bahwa sang ibu sangat mengkhawatirkan dirinya namun Faaz juga tidak bisa jika harus meninggalkan rumahnya, itu sama saja semakin memperkeruh suasana.


“Aku dan Mey tidak bisa jika terus menerus seperti ini, aku harus ajak dia bertemu dan bicara empat mata,” ungkap Faaz yang kemudian masuk kedalam rumahnya.


Faaz meraih ponsel yang terletak di atas nakas ruang tengah, ia mencari nomor kontak sang istri dari balik layar datar tersebut.


‘Malam Mey. Aku ingin kita bicara empat mata, aku tunggu kamu di resto Trio bintang sebrang komplek besok pagi’ pesan Faaz.


Ting!


Sebuah notifikasi masuk dari balik layar ponsel milik Mey. Mey yang baru saja sampai di rumah sang ibu langsung bergegas merogoh ponselnya yang berada di dalam tas.


“Faaz?” Mey mengerutkan dahinya tak kala melihat nama sang suami dari balik layar ponsel tersebut.


Ternyata Faaz mengirimkan sebuah pesan singkat untuk Mey. Mey yang merasa penasaran pun langsung membuka pesan tersebut.


“Faaz ngajak aku ketemuan besok pagi di resto? astaga aku harus jawab apa, aku belum siap kalau harus bertemu berdua dengan dia,” ucap Mey.


Mey mendadak jadi gugup ia bahkan sama sekali tidak menjawab pesan yang dikirimkan oleh Faaz.


“Enggak! aku gak mau ketemu sama Faaz, bisa-bisa dia kasarin aku lagi seperti waktu itu, aku gak mau!”


Mey menghela nafas, kepalanya mendadak berdenyut.


“Tapi kalau aku nolak sama aja aku bikin masalah baru, Faaz pasti makin marah sama aku. Astaga aku harus apa?” Mey terlihat begitu bingung.


Apa yang harus Mey lakukan, menyetujui ajakan Faaz atau justru menolaknya?

__ADS_1


***


Keesokan paginya Faaz terlihat sudah rapi dengan setelan kemeja putih yang biasa ia pakai. Hari ini Faaz akan pergi ke salah satu restoran yang berada tidak jauh dari kawasan tempat tinggalnya.


Kurang lebih lima menit Faaz pun tiba di restoran tersebut, ia memesan dua kopi latte panas. Lelaki tampan itu melirik kearah arloji bermerek miliknya.


Baru pukul sembilan pagi, mungkin saja Mey akan datang terlambat mengingat ia adalah wanita yang sangat sulit jika harus bangun pagi.


Faaz terus menunggu Mey bahkan sampai dua kopi latte yang ada di hadapannya menjadi dingin namun wanita cantik itu tidak kunjung terlihat.


“Apa aku coba hubungi dia saja,” Faaz merogoh ponselnya. Bermaksud untuk menghubungi Mey akan tetapi ponsel Mey tidak aktif.


“Ck, kemana kamu Mey! jangan bilang kamu tidak akan datang menemuiku,” keluh Faaz.


Faaz masih mencoba untuk menunggu, lelaki tampan itu berusaha berfikir positif namun sampai satu jam lebih Mey tetap tidak datang.


Kedua telapak tangan Faaz mengepal, ia benar-benar merasa kecewa, Mey begitu tega tidak menemuinya padahal Faaz sudah berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka berdua.


Faaz kemudian beranjak berdiri, ia berjalan keluar dari dalam restoran tersebut. Dengan penuh emosi Faaz membuka kasar pintu mobilnya.


Namun tiba-tiba!


“Faaz, tunggu!” pekik seseorang yang berhasil membuat Faaz langsung menoleh.


Ternyata dia adalah Mey. Wanita cantik itu terlihat mengatur nafasnya, ia seperti orang yang baru saja berlari maraton.


“Maaf aku telat,” ucapnya saat sudah berada dihadapan Faaz.


Amarah yang sempat meradang diri Faaz seketika meredah.


“Aku kan sudah minta maaf, kenapa kamu terus marah!”


“Sekarang ayo cepat masuk mobil!” pinta Faaz.


“Kamu mau bawa aku kemana?”


“Terserah aku ingin membawamu kemana, sudah jangan banyak tanya cepat masuk!” ucap Faaz yang terdengar begitu menyebalkan.


“Aku tidak mau! katakan dulu kamu ingin bawa aku kemana?”


“Mey dengar, sekalipun aku membawa mu ke hutan belantara, itu adalah hak ku karena kamu masih berstatus sebagai istriku, Mengerti! sekarang sebelum aku semakin emosi cepat masuk kedalam mobil. Sekarang!” tegas Faaz.


Mendengar perkataan Faaz membuat bulu kuduk Mey, langsung berdiri.


‘Gue rasa ini cowok ada sifat-sifat psikopatnya deh. Sabar Mey, sabar! kamu harus nurut, dari pada nanti di makan’ batin Mey.


Mey kemudian berjalan masuk kedalam mobil. Selama perjalanan hanya keheningan yang menyelimuti pasangan suami-istri tersebut.


Wajah Faaz yang datar dan begitu dingin membuat Mey bahkan tidak berani menyapanya.


Sampai akhirnya Faaz tiba-tiba saja memberhentikan mobilnya di daerah yang begitu sepi. Faaz beralih melepaskan sabuk pengaman yang sedari tadi melingkar di tubuhnya begitu pula dengan Mey yang juga melakukan hal sama.

__ADS_1


“Faaz ini kamu beneran mau bawa aku ke hutan belantara?” tanya Mey sesaat setelah turun dari dalam mobil.


Bagaimana tidak, Mey menatap sekelilingnya, begitu sepi dan hanya ada jalan setapak bahkan tidak ada orang yang berlalu lalang di sana.


Mendengar pertanyaan Mey, Faaz menghela nafas gusar. Faaz kemudian berjalan melewati ilalang yang cukup tinggi, oh astaga sebenarnya kemana ia akan pergi?


“Faaz tunggu, kamu mau kemana sih!” keluh Mey. Merasa takut, Mey pun terpaksa mengikuti Faaz dari belakang.


Hingga mereka sampai tepat ditepi danau yang sepertinya jarang di jamah oleh manusia. Faaz tanpa ragu langsung duduk bersilang di atas rerumputan sembari menatap lekat kearah danau.


Mey yang sedikit penjijik memilih untuk duduk beralaskan kedua sepatunya.


“Faaz, kamu ngapain ngajakin aku ketempat kayak gini. Serem tahu!” keluh Mey.


“Aku cuma mau bicara empat mata sama kamu di tempat yang tenang,” jawab Faaz.


“Yah kan bisa taman atau di cafe kek, masa tempat seperti ini!”


“Aku sengaja, agar kamu tidak bisa lari kemana-mana dan agar masalah kita selesai hari ini juga!”


“Dasar licik! ya sudah langsung ke intinya saja. Kamu mau bahas apa sama aku?”


“Kapan kamu pulang?” tanya Faaz yang langsung to the point.


“Belum tahu, aku masih mau tinggal sama ibu,” jawab Mey.


“Sampai kapan?”


“Yah kan uda aku bilang aku belum tahu!”


“Aku mau hari ini kamu pulang sama aku!”


“Aku belum bisa Faaz, nanti kalau aku uda mau pulang aku pasti akan pulang, jangan maksa aku!”


“Jadi kamu beneran nolak balik pulang sama aku?” Faaz mengangkat kedua alisnya.


“Iyaaa. Pokoknya aku gak mau dipaksa!”


“Oke!” Faaz langsung beranjak dari tempat duduknya. Lelaki tampan itu terlihat melangkah pergi meninggalkan area danau.


Mey terkejut ketika melihat Faaz yang langsung berjalan begitu saja, cepat-cepat Mey langsung menyusul langkahnya.


“Faaz, kamu kok ninggalin aku gitu aja sih!” keluh Mey. Namun Faaz hanya terdiam.


Faaz terlihat melangkah mendekati mobilnya yang terparkir di pinggir hutan.


“Faaz kamu mau kemana?” tanya Mey panik saat lelaki tampan itu mulai membuka pintu mobil.


“Aku mau pulang!” jawab Faaz.


“Pulang? terus aku gimana?”

__ADS_1


“Terserah kamu, tadi kan kamu sendiri yang bilang kalau kamu gak mau pulang sama aku. Oke, aku gak akan maksa!” aksi kata Faaz membuat Mey, melongo.


Tbc.


__ADS_2