
Faaz amat berharap pertengkaran mereka selesai hari ini juga. Faaz tak pernah lelah memanjakan sikap istrinya, bahkan tak pernah mengeluh. Hanya saja sikap Mey kekanak kanakan, membuat Faaz ekstra sabar menghadapinya. Faaz tidak ingin pernikahannya hancur begitu saja.
Jujur ada wajah mendiang Lisa di depan Faaz, kerinduannya terobati kala Mey yang begitu mirip. Hanya saja Lisa sangat mandiri, seolah ia merasa tak dibutuhkan. Tapi sikap Mey yang manja, berharap istrinya membuka mata jika cintanya tulus dan berharap istrinya selalu membutuhkannya dimanapun. Faaz akan menerima jika Mey, belum siap hamil. Ia hanya ingin hubungan pernikahannya itu awet dan baik baik saja.
“Jadi kamu beneran nolak balik pulang sama aku, Mey aku suami kamu loh?” Faaz mengangkat kedua alisnya.
“Iyaaa. Pokoknya aku gak mau dipaksa!”
“Oke!” Faaz langsung beranjak dari tempat duduknya. Lelaki tampan itu terlihat melangkah pergi meninggalkan area danau.
Mey terkejut ketika melihat Faaz yang langsung berjalan begitu saja, cepat-cepat Mey langsung menyusul langkahnya.
“Faaz, kamu kok ninggalin aku gitu aja sih!” keluh Mey. Namun Faaz hanya terdiam.
Faaz terlihat melangkah mendekati mobilnya yang terparkir di pinggir hutan.
“Faaz kamu mau kemana?” tanya Mey panik saat lelaki tampan itu mulai membuka pintu mobil.
“Aku mau pulang!” jawab Faaz.
“Pulang? terus aku gimana?”
“Terserah kamu, tadi kan kamu sendiri yang bilang kalau kamu gak mau pulang sama aku. Oke, aku gak akan maksa!” aksi kata Faaz membuat Mey, melongo.
Hati Mey, berkecamuk saat Faaz kembali menampilkan sikap kasarnya.
"Trus aku gimana mas Faaz?"
“Maaf tapi aku gak perduli!”
“Oh jadi kamu sengaja ya, kamu bawa aku ke tempat ini terus kamu berusaha untuk ngancem aku, iya?” tanya Mey namun Faaz hanya mengedikkan kedua bahunya.
__ADS_1
“Kalau gitu terserah kamu. Kalau kamu mau pergi silahkan aku juga gak perduli!” ucap Mey, yang merasa kesal.
Faaz mengangkat sudut bibirnya, lelaki tampan itu kemudian berjalan masuk kedalam mobil.
Sebelum berlalu pergi, Faaz terlebih dahulu membuka setengah kaca jendela mobilnya.
“Sekedar informasi, daerah sini sering terjadi pembantaian dan biasanya mayat para korban di buang di sekitaran danau tempat kita duduk tadi,” ungkap Faaz yang kemudian menutup kembali kaca jendela mobilnya.
Mey, yang mendengar perkataan suaminya seketika membulatkan sempurna matanya. Mey ingin mencegah kepergian Faaz namun lelaki tampan itu sudah terlanjur melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan Mey seorang diri.
“Faaz...!!!!!!”
***
Kediaman Orangtua Mey.
“Mey, kamu sebenarnya kemana sih dari tadi handphone-nya gak aktif!” keluh Brian yang merasa begitu khawatir.
Ia berjalan menuju kearah garasi dan di saat yang bersamaan Brian tampak memasuki mobil sedannya. Brian melajukan mobil tersebut dengan kecepatan tinggi menuju daerah perumahan lama kawasan kota.
Kurang lebih lima belas menit lelaki tampan itu sampai ditempat tujuannya, ia sedikit ragu untuk masuk kedalam sana namun rasa khawatir yang sudah begitu besar membuat Brian akhirnya memilih untuk melangkah masuk.
Brian menekan bel pintu. Pada bunyi kedua terdengar suara dari balik pintu.
“Ya sebentar!”
Pintu terbuka dan saat itu pula wajah Brian dan juga wajah Citra bertemu.
Citra sendiri tampak mengerutkan dahinya. Ia menatap Brian dari ujung rambut sampai ujung kaki, Citra merasa tidak asing dengan lelaki yang saat ini ada dihadapannya.
“Maaf kamu siapa ya? saya seperti mengenal kamu tapi saya lupa dimana,” ucap Citra.
__ADS_1
Brian tersenyum ramah. “Saya Briantoro tante, teman sekolah Mey dulu.”
“Ah iya, saya ingat! kamu Brian anaknya pak Handoro kan?”
“Benar tante.”
“Hem dan kamu juga mantannya Mey, iyakan?” sambung Citra.
“Benar tante. Oh ya tante, saya datang kemari ingin bertanya tentang kabar Mey.”
“Mey nya gak ada di rumah, dia belum pulang,” jawab Citra.
“Mey kemana tante?”
“Tante kurang tahu nak Brian, begini saja kamu masuk dulu kita tunggu Mey sampai pulang bagaimana?” tawar Citra.
“Sepertinya tidak usah tante, saya akan langsung cari Mey saja.”
“Kamu mau cari Mey kemana?”
“Belum tahu tante, yang jelas saat ini saya sangat mengkhawatirkan Mey, ya sudah kalau begitu saya permisi dulu tante.”
Brian kemudian berpamitan dengan Citra. Lelaki tampan itu kembali masuk kedalam mobilnya hingga perlahan menghilang dari pandangan Citra.
‘Kenapa Brian tiba-tiba kembali setelah sekian lama. Oh astaga, semoga saja anak itu sudah tidak memiliki perasan apapun pada Mey.’ batin Citra.
Citra amat takut, ketika sedang bertengkar dengan menantunya. Membuat Mey memberi ruang berteman dengan mantan. Terlebih perkataan nak Brian akhir akhir ini, apakah putrinya kembali dekat dengan teman prianya itu.
Jujur sebagai ibu, memang Citra gagal telah memanjakan putrinya yang selalu menuruti kemauannya.
"Nak, semoga kamu tidak membuat masalah baru. Bagaimanapun berteman dekat lagi dengan mantan adalah hal yang salah! Jangan sampai rumah tanggamu hancur nak, hanya karena keegoisan dan sikap manjamu itu." keluh Citra berharap putrinya tak salah langkah.
__ADS_1
Tbc.