Istri Genit Mas Faaz

Istri Genit Mas Faaz
TERBONGKAR


__ADS_3

Sore harinya, tepat pada jam pulang kantor Brian dan Mey memutuskan untuk singgah terlebih dahulu ke salah satu mall elit kawasan kota. Seperti yang Brian katakan sebelumnya, ia sangat ingin jalan bersama dengan Mey seperti dahulu.


Mereka berdua sangat menikmati hari yang singkat itu, Brian mengajak Mey menonton salah satu film romansa-comedy.


Mereka saling tertawa satu sama lain, bahkan saat ini Mey tampak melupakan sejenak masalah yang terjadi di hidupnya. Hadirnya Brian, mampu membuat suasana hati Mey membaik.


“Mey, film tadi lucu banget yah!” ucap Brian sesaat setelah mereka keluar dari dalam gedung bioskop.


“Iya lucu, tapi romantis juga.”


“Tapi yah aku perhatikan kisah film tadi itu mirip banget loh sama kisah kita dulu, iyakan?”


“Perasaan kamu aja kali.”


“Aku serius Mey, si cowoknya trouble dan ceweknya feminim. Cara si cowok untuk dapetin perhatian ceweknya sama seperti yang dulu aku lakukan waktu sama kamu. Ckk, masa kamu gak inget sih Mey!” ungkap Brian.


“Kan sudah lama Brian, wajar kalau aku lupa!”


“Oh, jadi kamu udah lupain masa lalu kita ya,” raut wajah Brian seketika berubah menjadi sendu.


Mey, yang melihatnya seketika mengerutkan dahi. Mey menyenggol sikut Brian.


“Apaan sih, kok baper!”


“Yah gimana gak baper, aku aja sampai sekarang masih ingat masa-masa indah yang pernah kita lewati, eh kamunya sendiri malah lupa.”


“Astaga bapak direktur ini kenapa jadi sensitif banget yah.....uda ah, aku laper mending cari makan. Ayooo!” Mey menarik lengan Brian.


Mereka berdua pun akhirnya mencari restoran yang nyaman untuk makan bersama, selama berada di restoran Mey maupun Brian terus berbincang, mereka seolah tak pernah kehabisan topik pembicaraan. Sesekali keduanya saling melemparkan guyonan.


Hingga tanpa disadari jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, bahkan mall saja sudah ingin tutup, Mey dan Brian memutuskan tidak langsung pulang, mereka memilih untuk berjalan-jalan di taman yang berada tak jauh dari sana.


“Hari ini seru banget yah!” ungkap Brian dengan kedua telapak tangan berada di dalam saku celananya.


Brian dan Mey tengah berjalan santai di taman yang penuh dengan lelampuan indah.


“Oh iya Mey, aku sebenarnya ingin bertanya sesuatu sama kamu,” sambung Brian yang seketika memberhentikan langkahnya.


Brian menatap serius wajah Mey. “Apa itu?” tanya Mey penasaran.


“Gimana perasaan kamu saat ini sama aku Mey?”


“Perasaan, maksudnya?”


“Ah gini, dulu kita kan pernah punya hubungan spesial, kita juga pernah berpisah dalam waktu yang lama, dan ketika kita kembali dipertemuan, apa yang kamu rasakan Mey?”


“Tentu saja aku bahagia, sangat bahagia,” jawab Mey dengan tatapan yang begitu tulus.


“Sungguh?”


“Yaa.....Brian kalau aku boleh jujur, sebenarnya saat ini aku lagi punya masalah yang menurutku cukup berat, tapi aku bersyukur bisa kembali bertemu dengan kamu, kamu membuat aku melupakan sejenak masalahku,” ungkap Mey.


Dalam beberapa detik Brian terlihat diam, ia menatap lekat wajah Mey, tatapan yang begitu tulus.

__ADS_1


“Maafin aku ya Mey." ucap Brian.


“Loh, kenapa kamu tiba-tiba minta maaf?”


“Maaf karena aku sudah pernah meninggalkan kamu. Mey, kalau boleh aku berkata jujur, selama jauh dari kamu, aku benar-benar merasa terpuruk Mey, aku merindukan senyuman mu sepanjang waktu, aku bahkan tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun, karena sampai detik ini, kamu masih satu-satunya wanita yang aku cintai!”


Dep!


Mey tertegun, Mey berharap bahwa ucapan yang baru saja Brian katakan hanyalah guyonan semata.


“Pasti kamu bercanda lagi kan. ‘Just Kidding Mey’ eleh basi!” ucap Mey sembari tertawa kecil.


“Tidak Mey, kali ini aku serius!”


Mey, kembali terdiam, wanita cantik itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


‘Astaga, bagaimana bisa Brian bicara seperti itu’ gumam Mey dalam hati.


Perlahan Brian meraih telapak tangan Mey dan itu berhasil membuat Mey terkejut.


“Bri—ian kamu.....”


“Syutttt! diamlah, kamu tidak perlu bicara apapun,” ucap Brian sembari menempelkan telunjuknya di bibir manis milik Mey.


Entah mengapa saat ini jantung Mey, berdegup sangat kencang, terlebih lagi saat matanya dan juga mata Brian saling bertemu.


Hingga tiba-tiba! Brian merengkuh tubuh Mey dan mendekapnya kedalam pelukan. Mey hanya terdiam tanpa mencoba untuk menepis, diantara malam yang sepi dan rembulan menjadi saksi bahwa kini ada dua hati yang sempat berpisah namun kembali dipertemukan oleh takdir.


Mey, bingung dengan perasaannya sendiri, apa mungkin Mey masih mencintai Brian? Dan ia bercerita lansung, memutuskan berpisah dengan Faaz saat ini juga.


***


KEDIAMAN FAAZ.


Suara bel pintu rumah berbunyi dengan begitu nyaring, membuat bibi Ran .. yang tengah menyiapkan sarapan pagi langsung bergegas menuju pintu utama.


“Nyonya besar?” sapa bibi Ran, tak kala melihat kehadiran Kelly.


“Bibi Ran, apa kabar?”


“Baik nyonya, mari silahkan masuk!” ajak Ran, mempersilahkan ibu dari majikanya itu untuk masuk.


Ran membawa Kelly menuju ruang keluarga.


“Saya panggilkan tuan Faaz dulu ya Nyonya.”


“Iya bi,” jawab Kelly.


Kurang lebih lima menit Kelly, menunggu, akhirnya Faaz terlihat datang menghampirinya.


“Mama?” sapa Faaz sembari memeluk kilas tubuh sang ibu.


Mereka berdua kemudian duduk bersama di atas sofa ruang tengah.

__ADS_1


“Mama kenapa tidak bilang mau datang ke rumah, kan Faaz bisa jemput.”


“Tidak usah nak, Mama sengaja mau kasih kejutan untuk kamu dan Mey, kamu tidak ada jadwal ke rumah sakit kan?”


“Tidak Ma, Minggu ini kebetulan Faaz libur.”


“Bagus kalau begitu, ya sudah sekarang cepat panggilkan Mey! soalnya Mama bawakan sesuatu untuk dia,” ucap Kelly.


Seketika Faaz terdiam, saat ini Mey tidak berada di rumah, apa yang harus Faaz katakan pada sang ibu.


“Faaz, kamu kenapa diam, ayo cepat panggil Mey.” pinta Kelly.


“Ma, Mey lagi keluar rumah tapi cuma sebentar,” jawab Faaz.


“Oh begitu, ya sudah kalau gitu Mama ke dapur dulu mau kasih ini sama bibi Ran, untuk di simpan di kulkas,” ucap Kelly sembari meraih paper bag yang ia bawa.


“Memangnya Mama bawa apa?” tanya Faaz penasaran.


“Mama bawa susu bubuk untuk Mey, ini susu bukan sembarangan susu, susu ini bisa meningkatkan kesuburan pada seorang wanita, dan Mama juga bawa buah-buahan biar Mey sehat dan cepat memberikan Mama cucu,” jelas Kelly.


Faaz lagi-lagi hanya bisa terdiam, tersirat rasa sedih dari dalam diri lelaki tampan itu. Sang ibu sudah sangat mengharapkan seorang cucu, tapi Faaz hanya bisa terus membohonginya.


“Ya sudah kalau begitu Mama ke dapur dulu,” Kelly, kemudian beranjak dari tempat duduknya.


Kelly berjalan menuju dapur untuk menemui bibi Ran.


“Eh Nyonya besar, kenapa masuk dapur, jika Nyonya butuh sesuatu panggil saya saja,” ungkap bibi Ran.


“Tidak apa-apa bibi, ini saya cuma mau nyimpen susu sama buah-buahan yang saya bawa tadi kedalam kulkas,” jelas Kelly.


“Oh begitu.”


“Iya bi, oh iya nanti kalau Mey, sudah pulang jangan lupa kasih tahu dia kalau saya datang bawakan susu dan buah ya.”


“Baik nyonya..... tapi kapan nyonya Mey akan pulang?”


“Kan kata Faaz. Mey cuma pergi sebentar, nanti juga pulang.”


“Pergi sebentar? tapi kan nyonya Mey! sudah meninggalkan rumah sejak empat hari yang lalu.”


Deg.


“A—apa? Mey sudah meninggalkan rumah dari empat hari yang lalu?”


“Iya nyonya, tuan dan nyonya Mey saat ini sedang bertengkar dan mereka sudah pisah ranjang sejak empat hari yang lalu,” jelas bibi Ran, ceplos.


Seketika paper bag yang tengah Kelly pegang jatuh ke lantai. Kelly begitu terkejut mendengar bahwa putra dan menantunya tidak tinggal satu atap lagi.


Tbc.


Jejak dong! Kasih Author Amunisi dukungan.


Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2