Istri Genit Mas Faaz

Istri Genit Mas Faaz
PERTENGKARAN ORANGTUA


__ADS_3

Di ruang makan, Mey dan sang ibu terlihat tengah menyantap nikmat sarapan pagi mereka.


“Mey hari ini kamu ada rencana mau kemana?” tanya Chitra mengingat hari ini adalah hari Minggu dan itu artinya Mey libur magang.


“Paling nanti siang Mey mau keluar ketemu sama Sheila dan Marsha.”


“Oh begitu.....Mey, ibu mau tanya sesuatu,” sambung Chitra.


“Iya Bu, ibu mau tanya apa?”


“Nak, kamu kan sudah berumah tangga dan kamu juga sudah memiliki suami, ibu rasa tidak baik jika kamu dan nak Faaz terus tinggal terpisah selama berhari-hari. Kalian juga harus bisa menyelesaikan masalah yang terjadi, bukan justru saling menghindar.”


Mey menghela nafas, pandangan wanita cantik itu langsung beralih ke lain tempat.


“Ibu merasa gak nyaman ya kalau Mey, tinggal di sini?”


“Astaga nak, kamu kok bicara seperti itu, kamu anak ibu satu-satunya, ibu sangat nyaman dengan kehadiran kamu, tapi ibu juga gak mau kalau kamu tinggal di sini hanya karena ingin menghindari masalah, kamu harus bisa hadapi masalah.”


“Bu, Mey belum bisa pulang ke rumah, Mey kesal dengan Faaz.” ungkap Mey.


Hingga di sela-sela perbincangan mereka tiba-tiba saja terdengar suara mesin mobil berhenti di depan halaman rumah.


“Ibu lihat dulu siapa yang datang, kamu tunggu di sini.”


“Mey ke ruang tengah saja ya Bu.”


“Habiskan dulu makananmu!”


“Sudah tidak selera Bu,” ucap Mey yang kemudian beranjak berdiri dan pergi meninggalkan meja makan.


Chitra hanya bisa menghela nafas melihat sikap putri semata wayangnya itu, Chitra pun kemudian berjalan menuju pintu rumah untuk melihat siapa yang datang.


Sementara Mey, wanita cantik itu memilih menonton siaran televisi di ruang tengah.


“Kenapa ibu harus menyuruhku pulang sih!” keluh Mey entah pada siapa.


Mey hanya merasa kesal dengan sang ibu yang menyarankannya untuk segera pulang dan menyelesaikan masalah yang kini terjadi antara ia dengan Faaz.


“Jadi benar ternyata kamu di sini, Mey!” ucap seseorang yang berhasil membuat Mey terkejut.


Mey langsung menoleh kearah belakang dan saat itu pula ia melihat kehadiran Kelly - sang ibu mertua.

__ADS_1


Mey, menelan lekat salivanya, ia beranjak dari tempat duduknya dan datang mendekati Kelly.


“Ma—Mama?” sapanya dengan kikuk.


Ternyata Kelly tidak datang seorang diri, ia bersama dengan Faaz. Kini suasana pun seketika menjadi tegang dan sangat serius.


“Kenapa kamu meninggalkan rumah?” sambung Kelly bertanya. Raut wajah Kelly begitu serius, ia seolah kesal dengan tindakan menantu perempuannya itu.


Sementara Faaz yang juga berada di sana hanya terdiam, Faaz sebenarnya sudah mencoba untuk menahan sang ibu agar tidak datang menemui Mey.


Namun Kelly begitu bersikukuh, membuat Faaz tidak bisa melakukan apa-apa.


“Mey hanya ingin menginap di rumah ibu, Ma.”


“Hanya itu alasannya? atau ada alasan yang lain, ayo katakan saja sekarang!" ungkap Kelly.


Chitra yang melihat sang putri seperti terpojok merasa kasihan, Chitra pun akhirnya berusaha untuk mendinginkan suasana.


“Mbak Kelly, sebaiknya kita duduk dulu ya, biar saya buatkan minuman hangat, mari!” sambung Chitra.


“Maaf jeng Chitra, tapi saya sedang tidak ingin minum apapun, yang saya inginkan saat ini adalah jawaban dari putri anda, mengapa dia memilih untuk meninggalkan suaminya!” jawab Kelly.


“Aku dan Faaz saat ini sedang ada masalah, maka dari itu aku memilih untuk menjauh dan tinggal bersama ibu. Sekarang Mama merasa puas dengan jawabanku?”


Kelly terlihat mengangkat sudut bibirnya. “Apa masalah yang terjadi diantara kalian, itu adalah perihal anak?” sambung Kelly kembali.


Mey melirik kilas kearah Faaz dan di saat yang bersamaan Mey kembali menatap serius wajah ibu mertuanya.


“Iya Ma, benar. Aku merasa belum bisa memiliki anak untuk saat ini, aku juga punya alasan, aku masih mau kuliah, aku juga lagi dalam masa magang, jadi aku harap Mama bisa mengerti dengan keputusan yang aku ambil,” jawab Mey.


Mendengar perkataan Mey membuat darah tinggi Kelly naik. Ia notabane seorang dokter kandungan merasa heran dengan menantunya itu, hanya alasan kuliah. Bukankah sudah dua tahun ia menunda nya.


“Menyesal saya mengizinkan Faaz menikahi kamu,” ucap Kelly.


Yang berhasil membuat semua orang terkejut, terutama Mey. Darah Mey seketika berdesir mendengar perkataan menusuk yang diucapkan oleh ibu mertuanya.


“Mah, kenapa bicara seperti itu!” sambung Faaz.


“Apa ada yang salah dengan ucapan Mama?” Kelly menatap serius wajah putranya.


“Ayolah Ma, kenapa Mama—”

__ADS_1


“Faaz! selama ini Mama selalu diam, Mama bisa menerima sifat kekanak-kanakan istrimu ini, Mama juga tahu selama dua tahun ini dia tidak bisa mengurus kamu dengan baik, dan hari ini dia dengan tegas menyatakan bahwa dia tidak ingin memiliki anak dari kamu. Sakit hati Mama Faaz!”


“Mbak Kelly, jangan bicara seperti itu, kita bisa bicarakan semuanya dengan baik-baik,” sambung Chitra.


“Tidak jeng Chitra, saya sudah terlanjur kecewa dengan keputusan Mey, harusnya dia sadar bahwa saat ini dia sudah dewasa dan dia sudah memiliki suami yang wajib dia patuhi. Tapi mungkin kembali lagi, ini semua tidak luput dari didikannya, bukankah dari dulu dia selalu dimanja dan selalu ingin dituruti kemauannya, benarkan? Bukankah sudah amat panjang selama 2 tahun ini Faaz menuruti ia sampai lulus! Hanya karena menyambung kuliah lagi dan magang, apa tidak cukup nafkah suaminya? Mey, menunda sampai kapan?" Kelly mengangkat kedua alisnya.


Setiap ucapan yang Kelly lontarkan begitu menusuk hati Mey, bukan hanya Mey, mungkin Chitra—sang ibu juga merasakan hal yang sama.


Chitra menarik nafas panjang, ia terlihat melipat kedua telapak tangannya di hadapan Kelly.


“Saya atas nama Mey, minta maaf jika sudah menyakiti perasaan mbak Kelly, berikan saya waktu untuk bicara dengan anak saya mbak,” ungkap Chitra.


Membuat Kelly kembali menarik nafas gusar.


“Baiklah kalau begitu.....Faaz! ayo kita pulang!”


“Tapi Ma—”


“Faaz, Mama bilang ayo pulang! Sudah cukup menyembunyikan apapun dari mama."


“Sudah nak Faaz, pulanglah,” sambung Chitra.


Sebelum berlalu pergi, Faaz terlebih dahulu menoleh kearah Mey yang bahkan terlihat tidak ingin menatap wajahnya.


Dan tidak lama kemudian, punggung belakang Kelly dan juga Faaz menghilang dari pandangan Mey.


“Bu, ibu seharusnya gak perlu minta maaf, kita gak salah Bu!” keluh Mey.


“Sudah cukup Mey! apa kamu tidak sadar bahwa tadi kamu sudah membuat ibu malu!” ungkap Chitra dengan nada suara yang cukup tinggi.


“Bu, apa yang salah sama keputusan Mey. kenapa semua orang jadi menyalahkan Mey?”


“Ini dia, ini dia sifat kamu yang dari dulu tidak pernah berubah! kamu selalu ingin menang sendiri, kamu bahkan tidak berusaha untuk memikirkan perasaan orang lain, lihatlah sekarang bahkan orang lain sudah berani mempertanyakan bagaimana didikan ibu dan almarhum ayahmu. Apa kamu tidak merasa bersalah Mey?”


“Bu, kenapa Mey harus memikirkan perasaan orang lain, sementara mereka saja tidak pernah memikirkan perasaan Mey, bahkan ibu sekarang bersikap seolah Mey ini sudah melakukan kesalahan besar,” Mey sudah tidak kuasa menahan air matanya.


Mey pikir sang ibu akan berpihak padanya. Namun Mey salah, ibunya justru ikut memojokkannya dalam situasi yang rumit ini.


“Ibu bingung harus mengatakan apalagi, ibu memang sudah salah mendidik kamu,” sambung Chitra yang kemudian berjalan mendahului Mey.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2