Istri Genit Mas Faaz

Istri Genit Mas Faaz
GENIT DENGAN MANTAN


__ADS_3

Faaz memasuki rumah dengan langkah lesu. Ia berjalan menuju anak tangga untuk naik ke lantai atas tempat kamarnya berada.


Setelah sampai di dalam kamar, lelaki tampan yang berprofesi sebagai seorang dokter tersebut menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.


Pandangan Faaz beralih menatap kearah langit-langit kamarnya. Ini adalah kali pertamanya ia dan Mey pisah ranjang setelah dua tahun menikah.


“Apa yang sudah aku lakukan, bahkan sekarang istriku sendiri tidak ingin pulang denganku,” ucapnya entah pada siapa.


Malam yang dingin menambah rasa sepi dari dalam diri Faaz, ia hanya menginginkan Mey mengandung anaknya, tapi karena keinginannya itu pula kini rumah tangganya justru berantakan.


Di sisi lain, saat ini Mey terlihat tengah termenung sembari meringkuk di atas ranjang.


Pandangan Mey begitu kosong, pikirannya sangat berkecamuk, ia terus teringat akan kejadian beberapa jam yang lalu.


Mey sadar bahwa keputusannya untuk tidak ikut pulang bersama Faaz adalah keputusan yang salah, namun kali ini Mey hanya butuh waktu untuk sendiri. Jika ia dan Faaz tetap bersama, maka mereka pasti akan terus terlibat pertengkaran.


Tidak lama kemudian, pintu kamar Mey terbuka, dan itu berhasil mengalihkan pandangan wanita cantik tersebut.


“Ternyata kamu belum tidur,” ucap Chitra sembari berjalan mendekati sang putri.


Chitra duduk di pinggir ranjang, ia meraih telapak tangan Mey seraya mengusapnya dengan begitu lemut.


“Ada apa sebenarnya nak, coba cerita sama ibu?” sambung Chitra.


Mey menghela nafas, ia mendekat kearah Chitra dan bersandar di bahu ibunya itu.


“Faaz ingin punya anak Bu, tapi Mey belum bisa.”


“Jadi itu permasalahannya?”


“Iya Bu, Faaz marah karena Mey menolak kemauannya, Faaz gak pernah ngerti-in Mey Bu, dia terlalu egois.”


“Syutttt! tidak boleh bicara seperti itu, diakan suami kamu nak. Begini ya, apa yang Faaz inginkan itu adalah hal yang wajar, mungkin dia sudah sangat menanti akan hadirnya buah hati diantara kalian.”


“Bu, Mey belum siap punya anak!”


“Iya-iya, ibu mengerti pasti tidak mudah bagi kamu yang saat ini sedang sibuk-sibuknya kuliah untuk mempunyai anak. Tapi coba kasih pengertian sama suami mu, nak.”


“Sudah Bu, tapi kita justru malah bertengkar.”


“Mey, kamu sudah dewasa nak, kamu harus kikis sedikit ego kamu, ibu hanya tidak ingin hanya karena hal sepele kamu dan Faaz harus bertengkar dan saling membenci, ibu tidak mau!”


“Ibu tidak bisa mengerti perasaan Mey, ibu tidak tahu apa yang Mey rasakan.”


“Ibu tahu dan ibu mengerti karena kamu anak ibu, sudahlah sekarang kamu lebih baik tidur, besok kan harus magang, berarti harus bangun pagi, kalau kamu begadang yang ada besok kamu susah bangunnya. Mengerti?”


“Iya Bu.”


Ke Esokan Harinya :


Mentari pagi terlihat sudah bersinar terik dan saat ini Mey tampak tengah memakai sepatu heelsnya dengan begitu terburu-buru, ia berlari menuruni satu persatu anak tangga rumah.


“Mey ada apa nak? kenapa kamu buru-buru sekali?”


“Bu, Mey telat! hari ini atasan Mey ada meeting penting,” ucapnya.

__ADS_1


“Sudah ibu duga, pasti karena semalam tidurnya lama kan.”


“Bu, Mey pergi sekarang ya!”


“Eh tunggu dulu, kamu harus sarapan!” ucap Chitra.


“Gak sempat Bu! nanti aja. Daaaa!”


“Mey setidaknya makan roti saja!” pekik Chitra namun Mey terus berlalu pergi, hingga perlahan punggung belakangnya menghilang dari pandangan Chitra.


Mey mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sesekali ia menyalip beberapa mobil yang berada di depannya. Mey juga menekan klakson saat sesuatu menghalangi jalannya.


Untunglah jarak rumah sang ibu dengan kantor tidak terlalu jauh, sehingga Mey bisa cepat sampai.


Setelah memarkirkan mobilnya, Mey langsung melepaskan sabuk pengaman yang terlingkar di tubuhnya. Dan kemudian, ia beranjak turun dari dalam sana.


Mey melangkah panjang sembari membawa beberapa tumpukan kertas di lengannya. Tak lupa pula sebelum masuk kedalam gedung perusahaan Mey, memakai kalung tanda pengenalnya terlebih dahulu.


Mey bergegas menuju lantai lima tempat ruangan Brian berada.


“Sorry! Sorry! Aku telat,” ucap Mey dengan nafas yang terengah-engah.


Brian yang sedari tadi sudah menunggu Mey terlihat tertawa kecil.


“Kamu habis lari?” tanya Brian sembari menaikkan salah satu alisnya.


Mey tidak langsung menjawab, ia mengatur nafasnya terlebih dahulu.


“Iya, aku lupa kalau pagi ini kamu ada meeting penting, tapi kamu tenang aja, aku uda print semua berkas file yang kemarin kamu suruh. Ini dia!” ungkap Mey sembari menyerahkan map berisi tumpukan kertas.


“Bagus! tapi lain kali jangan telat ya,” ucap Brian dengan nada yang begitu lembut, bahkan tidak ada raut amarah dari dalam diri lelaki tampan itu.


Brian kembali tertawa, Mey memang mood booster sekali baginya.


“Ya sudah kalau gitu kita ke ruangan meeting sekarang, para klien uda nunggu.”


“Aku ikut?”


“Yaiya lah Mey, kamu kan sekretaris ku.”


“Nanti aku harus gimana, aduh Brian aku itu gak pernah pergi meeting, apalagi sama orang-orang penting, mending aku di sini aja ya, dari pada nanti aku bikin kamu malu,” jelas Mey dengan nada manjanya.


“Mey! Mey! dari dulu kamu itu sama aja. Panikan dan gak percaya diri, uda kamu tenang aja, kamu cukup duduk di sana, toh nanti yang presentasi juga karyawan lain, jadi enjoy aja. Oke?”


“Oke deh!”


Brian dan Mey kemudian berjalan menuju ruang rapat, benar saja di sana Mey hanya disuruh duduk tanpa perlu bicara apapun. Mey duduk dekat dengan Brian, sesekali Brian juga membisikkan beberapa hal penting yang di bahas dalam rapat.


Tutur kata Brian begitu lembut, Bahkan saat Brian mulai bicara di dalam rapat, mata Mey sama sekali tidak mampu berkedip menatapnya, Brian tampak berwibawa dan bahkan ia terlihat lebih tampan.


Setelah rapat selesai, Mey kembali ke ruangan Brian. Mey sedikit memuji Brian yang bicara dengan begitu memukau saat rapat berlangsung tadi.


“Brian, kamu itu tadi keren banget loh! Cara bicara kamu itu, bikin banyak orang terpesona!”


“Masa sih?”

__ADS_1


“Iya aku serius, pokoknya kamu keren!”


“Bisa aja kamu. Oh iya, bye the way nanti sore kita jalan bareng yuk!” ajak Brian.


“Jalan bareng? kemana?”


“Nah semalam kan aku uda traktir kamu makan, sekarang aku pengen ngajakin kamu nonton. Mau gak?”


“Nonton?”


“Iyaa, mau ya. Kita kan uda lama gak jalan bareng.”


“Boleh sih, tapi—” ucap Mey terjeda.


“Tapi apa Mey?”


“Aku takut.”


“Takut sama siapa?” Brian mengerutkan dahinya.


“Takut nanti dilabrak sama pacar kamu,” jawab Mey sembari tertawa.


Brian yang merasa gemas pada Mey, seketika langsung mencubit hidung mancung wanita cantik itu.


“Kamu ya bercanda mulu!”


“Aku gak bercanda, aku serius Brian, yah siapa tahu kan kamu uda punya pacar atau mungkin istri, bisa-bisa aku dipikir pelakor lagi.”


“Mey! aku ini single, jadi santai aja.”


“Serius kamu single?”


“Yaiya.”


“Kok bisa, kamu itukan direktur, banyak uangnya, ganteng lagi. Masa sih single?” ungkap Mey merasa tak yakin.


Lagi-lagi Brian terkekeh mendengar ucapan polos Mey.


“Serius Mey, aku memang masih single, yah sebenarnya banyak sih cewek-cewek di luaran sana yang ngejar-ngejar aku. Tapi yah gitulah, aku gak nanggepin,” ungkap Brian dengan penuh percaya diri.


Mey langsung memutar malas bola matanya, bau-bau kesombongan dari dalam diri Brian mulai terendus.


“Kenapa gak ditanggepin?” tanya Mey.


“Karena apa ya.....kayaknya karena belum bisa move on dari kamu deh!”


Deg.


Raut wajah Mey langsung berubah, oh astaga mengapa Brian selalu saja bicara asal. Tahan Mey, Tahan! jangan sampai kamu terbawa suasana.


“Ciee salting!” goda Brian sembari memainkan alisnya.


“E—enggak, siapa yang salting!”


“Pipinya merah kayak tomat, ciee!” seolah tiada henti Brian terus menggoda Mey.

__ADS_1


“Tau ah, uda-uda ayo kita kerja aja!” ungkap Mey mengalihkan cerita.


Tbc.


__ADS_2