
“Mey, sebenarnya aku masih punya satu hadiah lagi untuk kamu?” ucap Faaz.
Mey langsung tersenyum manis, “Hadiah, untuk aku?”
“Yah, sekarang coba tutup mata kamu,” pinta Faaz.
Dan saat itu pula Mey pun langsung menutup matanya dengan kedua telapak tangan. Faaz sendiri terlihat mengeluarkan sebuah kotak kecil dari balik saku celananya.
Faaz beranjak berdiri, lelaki tampan itu melangkah kearah sang istri, Faaz berdiri tepat di belakang Mey.
“Uda boleh buka mata gak?”
“Tunggu sebentar sayang!”
Faaz membuka kotak kecil tersebut dan mengeluarkan sebuah kalung permata dari dalam sana, dengan lembut dan penuh kasih sayang, Faaz memakaikannya di leher Mey.
“Sekarang kamu boleh buka mata,” ucapnya.
Membuat Mey dengan cepat langsung membuka mata, Mey tersenyum lebar ketika melihat lehernya telah dihiasi kalung yang begitu indah.
“Kalung?”
“Ya, kamu suka?”
Mey menganggukkan kepalanya, ia juga langsung beranjak berdiri menghadap kearah Faaz dan di saat yang bersamaan Mey langsung memeluk tubuh Faaz.
“Aku seneng banget, makasih suamiku!”
“Sama-sama sayang!”
Tak lama kemudian Mey merenggangkan pelukannya.
“Kamu itu selalu aja tahu apa yang aku suka, tapi kalung ini pasti harganya mahal ya?”
“Sudah tidak perlu memikirkan harga sayang, apapun yang kamu inginkan, aku akan berusaha sebisa mungkin untuk memberikannya.”
“Kamu romantis banget sih, tapi aku belum beliin kamu sesuatu, maaf ya.”
“It’s okay, kamu gak perlu memikirkan itu, kamu cukup layani aku saja dengan baik dan jadi istri yang penurut, itu sudah cukup untuk aku.”
“Oke, aku janji sama kamu, aku akan jadi istri yang baik untuk kamu dan aku juga akan melayani kamu sebaik mungkin, terutama di atasmu .. ,” ucap Mey diselingi tawa.
__ADS_1
Faaz langsung tertawa mendengarnya, Faaz juga sampai mencubit gemas hidung mancung istrinya.
“Mulai genit ya kamu!”
“Gak apa-apa dong, kan genit sama suami sendiri.”
“Iya deh iya, oh ya sayang, apa boleh aku meminta sesuatu?” sambung Faaz.
Dengan cepat Mey langsung menganggukkan kepalanya.
“Tentu, kamu mau minta apa?”
Faaz menghela nafas dan kemudian berkata.
“Aku mau mulai sekarang kamu jangan minum pil lagi yah.”
Mey tertegun, Mey bingung, mengapa Faaz menyuruhnya untuk berhenti mengkonsumsi Pil Kb?
“Kenapa kamu tiba-tiba nyuruh aku untuk berhenti minum pil?” tanya Mey.
“Karena aku merasa sepertinya sudah waktunya untuk kita memiliki seorang anak.”
Mey terdiam tak kala mendengar ucapan yang baru saja Faaz lontarkan.
“Ka—kamu lagi bercanda kan?” tanya Mey yang mulai merasa panik. Bagaimana pun Mey belum siap memiliki seorang anak, apalagi diusianya yang tergolong masih muda.
“Aku serius sayang, lagi pula ini sudah tahun kedua pernikahan kita dan Mama ingin kita segera memiliki anak, kamu setuju kan?” Faaz meraih telapak tangan Mey, namun saat itu pula Mey langsung menepiskannya.
“Mas, tapi aku gak bisa, kamu tahukan aku sekarang lagi sibuk mendaftar lanjutan kuliah S2 dan mulai besok aku juga harus magang, aku rasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk memiliki anak,” jelas Mey.
Faaz kembali menghela nafas, ia sudah menduga Mey pasti tidak akan setuju.
“Sayang, untuk kuliah kamu kan masih bisa ambil cuti dan kamu juga bisa tunda magang kamu, nanti setelah kita punya anak, kamu bisa lanjutkan semuanya,” saran Faaz.
“Mas, memiliki anak itu bukan cuma tentang hamil terus melahirkan, bukan cuma tentang itu, memiliki anak itu tanggung jawab yang besar, dan aku merasa aku belum bisa dan aku belum sanggup, tentang kuliah dan juga magang, aku gak mungkin menunda itu semua.”
“Mey ayolah, bukannya kamu sudah janji akan menjadi istri yang baik dan menuruti semua perkataanku.”
“Faaz, aku selalu berusaha untuk menjadi istri yang baik, tapi untuk permintaan kamu kali ini, aku mohon maaf, aku benar-benar belum bisa, please ngerti-in aku ya,” ungkap Mey.
“Mey, memang apa susahnya sih kalau kita punya anak, kalau kamu khawatir masalah tentang siapa yang akan mengurus anak kita nanti, aku bisa carikan pengasuh.”
__ADS_1
“Bukan tentang itu, oh ayolah Mas, kamu harus ngerti-in aku dong, lagian gini ya, kamu selalu menuntut aku untuk jadi istri yang baik dan penurut, tapi kamu sendiri gimana? Kamu selalu saja memaksakan kehendak kamu, kamu gak berusaha untuk mengerti aku!”
“Jadi maksud kamu aku ini bukan suami yang baik, iya? maksud kamu gitu?” Faaz terlihat mulai emosi.
“Yah kamu pikir sendiri lah!”
“Oke, menurut kamu aku bukan suami yang baik, terus gimana sama semua ini, aku siapkan semua ini cuma untuk kamu, dari sore sampai malam aku sabar nungguin kamu pulang, bahkan aku maafin kamu karena kamu lupa hari Anniversary kita, apa menurut kamu aku ini masih gagal jadi seorang suami yang baik, hah?” tanya Faaz.
Namun Mey hanya terdiam, melihat Mey diam rasanya emosi Faaz semakin memuncak.
“KENAPA DIAM? JAWAB!!!!”
“Kamu kok jadi bentak aku sih, cuma gara-gara aku belum siap punya anak sikap kamu langsung berubah, langsung arogan kayak gini!”
Mey yang mendapatkan bentakan dari Faaz tak kuasa menahan air matanya.
“Mey, kamu dengar ya baik-baik, aku juga gak akan bersikap kasar sama kamu kalau kamu mau menuruti kemauanku!”
“Aku capek Mas, aku capek! selama ini kamu selalu mau menang sendiri, aku harus selalu nurut sama kamu, aku benar-benar muak!”
“Karena itu semua sudah kewajiban kamu untuk menuruti perkataan suami, paham!”
Mey menyeka air matanya, entah mengapa seketika Mey menjadi sangat muak dengan tingkah laku suaminya.
“Terus kalau aku tetap gak mau nurut gimana?”
“Oh begitu, jadi kamu tidak mau menuruti kemauan suami kamu? kamu mau jadi istri pembangkang? bahkan untuk memberikan keturunan untuk suami kamu sendiri kamu menolaknya!”
“Aku tidak menolak, aku cuma belum siap Mas, kamu bisa mengerti ucapan aku gak sih?”
“Terserah kamu, tapi jangan salahkan aku kalau suatu hari nanti aku akan mencari wanita lain yang sudi memberikan aku anak!”
Dep!
Mey terpaku, hatinya bagai tersayat ribuan belati mendengar perkataan sang suami yang begitu menusuk perasaannya. Bahkan tanpa berdosa setelah mengatakan kalimat menyakitkan itu Faaz pergi berlalu begitu saja.
Sakit! itulah yang Mey rasakan saat ini, dua tahun Mey berusaha untuk bisa menerima Faaz, dua tahun Mey berusaha untuk menjadi istri yang baik, tapi lagi-lagi Faaz hanya bisa menggoreskan sembilu dihatinya.
‘Tega kamu Mas Faaz. Tega kamu bicara seperti itu’ batin Mey.
Tbc.
__ADS_1