Istri Genit Mas Faaz

Istri Genit Mas Faaz
SIASAT MANTAN MEY


__ADS_3

Saat ini Mey kembali bekerja di tempat magang, sambil melihat situasi apakah ruangan Brian ada klien atau tidak. Jujur Mey, saat ini di kantor merasa penasaran ada apa dengan Brian yang pagi menghubunginya.


Jujur setelah semalam dengan suaminya baikan, Mey merasa hubungan dengan Brian mungkin baiknya sebatas rekan kerja saja. Mey, tak sanggup jika menduakan hati suaminya itu. Tapi ia juga bingung, dengan perasaannya kala bertemu Brian, Mey merasa nyaman.


“Mey, dimana ..?”


Tiba-tiba saja suara familier itu menyebut namanya. Kepala perempuan itu pun mendongak. Matanya yang memerah lantas bertatapan dengan seorang laki-laki.


Saat itu juga Mey, merasakan emosinya memuncak. Siap meledak ketika melihat laki-laki yang ingin dia lupakan malah berdiri di depannya dengan tampang sok polos.


"Ada apa .. Brian?"


“Tadi aku lihat Mama kamu, aku datangi beliau. Kata beliau, perusahaan papa kamu harus segera diambil ahli. Sementara kamu nggak punya cukup uang untuk membantunya. Benar, kan?”


Mey, mengeraskan rahangnya. “Lalu, apa urusannya sama kamu?”


Brian menghampirinya, lalu duduk di sampingnya. “Sepertinya Tuhan sengaja mengirimku ke sini. Aku ingin membantu perusahaan mendiang ayah kamu. Aku akan membantu biayanya."


Bagaimana bisa ia menerima bantuan dari mantan kekasihnya? dan bodohnya Mey, tidak tahu perusahaan yang dijalankan sang mama, sedang tidak baik.


“Aku nggak butuh bantuan kamu Brian! Aku rasa itu berlebihan, dan saat tadi pagi kamu hubungi aku. Aku juga ingin bicara, ada baiknya kita sebagai rekan kerja saja."


"Mey, kamu udah janji loh mau kita sama sama lagi. Apa salahnya coba? Aku dan kamu saling mencintai."


"Brian, tapi alurnya beda. Kadang aku juga bingung sama perasaan ini. Kita harusnya ga seperti ini, masa lalu kita udah dilupakan. Gimana kalau suamiku tahu." polos wajah Mey.


"Mey, ngerti sama aku. Aku akan selalu ngertiiin kamu, asalkan kamu kabarin aku dimanapun. Kapanpun, aku bisa sabar kalau kamu sedang bersama suami kamu. Ok! Jangan lagi bilang kita hanya sebatas rekan kerja ya!" pinta Brian.


Entah atas dasar apa, Mey mengangguk dan terbuai. Memang jauh dari lubuk hatinya ia dulu amat mencintai Brian. Tapi Brian meninggalkannya karena kuliah di luar negri, dan berjanji akan kembali mencari Mey. Yang Mey pikir setiap pria akan mengingkari janji, tapi apa boleh buat Mey sudah menikah karena wasiat.

__ADS_1


Brian, seperti biasa mencoba menenangkan Mey dengan mendekat dan memegang tangannya. Biasanya, saat Mey sedang emosi, Brian pasti langsung bertindak untuk mencairkan perasaan Mey.


Tapi tidak... Tidak boleh lagi kenangan itu menghantuinya. Mey, segera menggeser duduknya, menjauh. Lalu menepis tangan Brian, tapi Brian tak ingin kalah mencoba agar Mey tak ragu.


Melihat itu, Brian kembali berkata, “Kamu nggak boleh menolak bantuanku, Mey. Coba kamu bayangkan bagaimana nasib saat ini? Kamu butuh uang segera. Sementara kamu nggak punya cukup uang. Jadi, sebaiknya kamu terima bantuanku ini.”


“Tolong diam, Brian! Jangan banyak bicara! Aku nggak butuh bantuan kamu! Dengar, kan?”


Mey beranjak bangun, namun Brian kembali memanggilnya. Mey seolah bingung, bagaimana perasaan suaminya jika melihatnya dengan mantan kekasihnya dan kembali dekat.


“Kenapa harus menolak bantuanku, padahal kamu nggak mampu membiayainya, aku bisa bekerja sama oleh Klien besar, sehingga perusahaan mendiang papamu tidak bangkrut? Kerugian perusahaan papamu, seorang dokter seperti suami kamu. Apa dia punya...?" ujar Brian.


Tubuh Mey menegang. Mata Mey memicing curiga. "Dari mana kamu tahu kalau perusahaan papaku sedang goncang?"


Laki-laki itu tersenyum miring. "Semua tentang kamu, aku selalu tahu." ucapan Brian terdengar misterius, lalu pria itu kembali berkata, "Sebenarnya aku bisa membantu kamu, Mey. Aku nggak mungkin mengabaikan perempuan yang aku cintai ini menderita sendirian. Aku tahu persis dunia kantor Mey. Cuma aku yang bisa menolong kamu, maka dari itu kamu ga boleh pergi dariku. Jangan akhiri hubungan kita!"


"Beri aku waktu Brian! Aku harus temui mamaku dulu." ucap Mey, menarik tas.


"Aku ikut ..."


"Brian .. Ta-pi..?"


"Sebagai Klien, aku akan temui mama kamu sebagai penolong klien besar." senyum Brian membuat hati Mey luluh juga.


***


--- Singapore ---


Sementara di singapore. Faaz yang telah selesai mengobati pasien vvip. Ia disediakan khusus oleh keluarga pemerintahan, terlihat privasi dan dijaga beberapa orang. Kebetulan pasiennya adalah anak dari orang penting dinegaranya.

__ADS_1


Hingga menjelang malam, Faaz yang melihat buku ahli tulang retak di paru paru pasien. Meregangkan sedikit penatnya, ia menatap ponsel kenapa istrinya belum juga mengabari, apalagi pesan sedikitpun tidak ada dari pagi.


Faaz menghubungi mbok Sur. Kenyataannya ia bilang belum ada Nyonya Mey pulang. Faaz kembali menghubungi Mey, tapi tak ada jawaban. Hingga saat itu, Faaz mencoba menghubungi mama mertuanya. Berharap Mey, ada di rumah ibunya. Tapi tetap saja, sudah dua puluh menit tak ada jawaban.


'Mey, kamu sebenarnya kemana sih?' batin Faaz.


Hingga kala itu, seseorang mengetuk pintu. Kala pasien bernama Grey! putra orang besar kembali anfal.


"Dok, Tuan Grey kembali anfal." ujar pria tinggi.


Faaz sejenak melupakan pikiranya pada Mey, sehingga ia fokus mengecek pasien. Hingga saat itu, ia menghubungi seseorang untuk meminta ruang IGD dan kamar vvip termewah, bahkan satu lantai full di kosongkan demi kenyamanan.


"Siapkan mobil pak! Kita bawa pasien ke rumah sakit."


"Siap pak dokter." ujar bodyguard segera mengarah jalan.


Hingga beberapa puluh menit, sampailah di ruang tindakan. Faaz tengah sibuk meminta suster merekomendasikan alat tabung oksigen lengkap dengan infus. Akan tetapi seseorang terlihat datang meski dengan alat masker medis, Faaz bingung dan segera mungkin mengenali rekan sesama dokter yang akan membantunya menangani pasien dari keluarga orang penting.


"Naila ... Dokter Naila ..?" lirih Faaz.


"Selamat malam dokter Faaz. Senang bertemu denganmu, kita pasti bisa menyelamatkan pasien ini. Mari bekerja sama!" ujar Naila, ia segera menutup masker biru ke kepalamya dan memakai sarung tangan medis.


Sehingga di ruang instalasi itu, dokter Faaz dan dokter Naila menindaklanjuti operasi pada pasien bersama.


Tbc.


Jejak Terus Ya!


Proses Kontrak Jadi Up Terhambat Oleh System.

__ADS_1


__ADS_2