
KEMBALI DI DANAU.
“Hiks! Hiks! Hiks!” Mey duduk meringkuk sembari menenggelamkan wajahnya di sana. Ia begitu takut mendongak untuk melihat sekeliling.
Bagaimana tidak, kini langit sudah berganti warna menjadi hitam namun sampai sekarang Mey belum bisa kembali pulang ke rumah sang ibu.
“Kamu jahat Faaz! kamu jahat!” ucapnya.
Mey begitu kesal saat Faaz pergi begitu saja meninggalkannya seorang diri di pinggiran hutan belantara.
Sangat kejam! mungkinkan ini hukuman untuk Mey? Karena ia sudah begitu membangkang pada suaminya sendiri.
Namun tiba-tiba!
“Apa kamu akan menangis sampai pagi?”
Mey tertegun dan dengan cepat ia langsung mendongakkan kepalanya.
“Faaz?” ucap Mey terkejut ketika melihat Faaz yang sudah berdiri di sampingnya.
“Yaa ini aku!”
Mey langsung beranjak berdiri ia berlari kearah Faaz sembari menghempaskan tubuh mungilnya kedalam dekapan lelaki tampan itu.
“Jangan tinggalin aku lagi. Hiks! Hiks!” ucap Mey. Namun sikap Faaz masih dingin bahkan kedua telapak tangannya berada di dalam saku celana. Faaz seolah enggak membalas pelukan Mey.
Mey yang merasa tidak mendapatkan respon apapun akhirnya memilih untuk menarik ulur tubuhnya. Mey menyeka air matanya.
“Kenapa kamu sejahat ini sih?” sambung Mey.
“Aku sudah mengajak kamu pulang tapi kamu tidak mau. Jadi sekarang yang salah siapa?” Faaz mengangkat kedua alisnya.
“Yah kan kamu bisa antarkan aku pulang ke rumah ibu, tapi kamu dengan teganya ninggalin aku di pinggir hutan. Kamu itu benar-benar jahat!”
Faaz mengangkat sudut bibirnya, “Memangnya kamu percaya bahwa tadi aku benar-benar pergi meninggalkan kamu?” tanya Faaz.
Yang berhasil membuat Mey termangu. Faaz tertawa kecil.
__ADS_1
“Saat aku pergi kamu juga ikut pergi mencari jalan pulang tapi kamu justru menyerah dan memilih duduk dan menangis di sini. Lihat ke sana,” tunjuk Faaz ke suatu arah.
“Aku dari tadi ada di sana, aku melihat kamu menangis selama berjam-jam. Aku tidak pernah pergi Mey, aku selalu ada di dekat kamu hanya saja kamu tidak pernah menyadarinya.”
Dep!
“Tapi kenapa kamu lakuin semua ini, kamu mau menguji aku?” tanya Mey.
Faaz langsung menganggukkan kepalanya. “Ya, aku menguji kamu.”
“Tapi untuk apa?”
“Agar kamu sadar bahwa kamu tidak bisa jauh dariku dan kamu akan selalu membutuhkan ku.”
“Dasar konyol!” keluh Mey.
“Bagaimana rasanya? takut, sedih dan kecewa? itu yang tadi kamu rasakan, bukan?”
“Sudah cukup! aku tidak akan menjawab pertanyaan konyolmu, sekarang lebih baik ayo kita pulang aku gak mau lama-lama di sini.”
“Akhirnya kamu sendiri juga yang meminta untuk pulang, baiklah ayo!”
Faaz pun kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan standar meninggalkan daerah hutan belantara itu. Ia akhirnya berhasil membuat sang istri kembali pulang ke rumah.
Dalam hati Faaz tersenyum bahagia setidaknya kali ini rencananya untuk memberikan pelajaran pada Mey berhasil.
Sesampainya di halaman rumah, Mey langsung turun dari dalam mobil sembari melangkah panjang menuju pintu.
Wanita cantik itu dengan wajah cemberutnya memasuki rumah.
“Faaz, bibi Ran.. kemana?” tanya Mey, saat menyadari bahwa bi Ran, tidak ada di rumah.
“Cuti dan akan kembali Minggu depan.”
“Terus gak ada makanan dong di dapur?” sambung Mey kembali.
“Sepertinya tidak ada, kamu lapar?”
__ADS_1
“Ya iyalah, kamu pikir nangis berjam-jam itu gak nguras tenaga apa?”
“Ya sudah kalau begitu kamu bisa goreng telur di dapur,” ucap Faaz.
“Ahhh gak mau telur!” rengek Mey.
“Terus mau apa?”
“Nasi goreng!”
“Ya uda masak sana, bahan-bahannya kan lengkap di kulkas.”
“Masakin!!!!!” pinta Mey, sembari bermanja.
Oh astaga, Mey seolah melupakan pertengkaran yang pernah terjadi diantara ia dan juga Faaz. Bahkan kini sifat manjanya kembali muncul dan berhasil membuat Faaz menghela nafas.
“Buatin ya? Please!”
“Hem, yaa!”
“Pakai telur mata sapi sama tomat jangan lupa. Oke?”
“Iya bawel!”
“Ya uda aku ke atas dulu mau mandi, Babay suamiku!” Mey, melambaikan tangannya dengan begitu manis.
Hingga perlahan punggung belakang Mey pun menghilang dari pandangan Faaz dan di saat yang bersamaan pula sebuah senyuman akhirnya terukir di bibir lelaki tampan itu.
Beberapa saat nasi goreng selesai, ponsel Mey berdering saat Faaz di kamar. Mey, tampak masih di kamar mandi. Faaz pun mengintip siapa yang menghubungi nomor istrinya itu dimalam hari.
MY BE " Siapa My Be?" lirih Faaz.
Tapi saat itu Faaz mengurungkan niatannya, karena ia baru saja berbaikan. Sehingga Faaz meletakkan nasi goreng di meja sofa dan menunggu Mey, yang sedang mandi.
Kring!
Ponsel Mey kembali berdering, Faaz saat ingin menjawab, tiba saja ponsel Mey mati. Lalu kembali meletakkan ponsel istrinya itu dimeja hias.
__ADS_1
Tbc.