
"Anda siapa?, suster dia siapa?, suruh dia pergi sus, saya tidak mau ada orang asing disini"
Sambil mengernyit menahan sakit Aruni bertanya pada suster, siapa Adam kenapa ada di ruangannya.
"Sa sayang, ini aku suamimu sayang, jangan begitu, jangan membuatku takut sayang, kumohon"
Adam mendekat ke arah ranjang, tapi dengan cepat Aruni menyetop langkah kaki Adam menggunakan tangan, hingga Adam diam mematung, dia sangat terkejut.
Mendengar sang istri sudah siuman, dia segera berlari keluar meninggalkan rapat, mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, menyalip beberapa kendaraan , tanpa memikirkan keselamatan diri sendiri.
Setiba di rumah sakit dia berharap bisa segera memeluk istrinya, tapi ketika dia masuk malah tidak dikenali oleh sang istri.
Istrinya menyuruh suster untuk segera mengusir keluar dirinya. Adam sudah memerah matanya menahan air mata.
Papa Alif masuk dia geleng-geleng kepala, melihat kejahilan menantu kesayangan. Baiklah Papa akan ikut bermain sebentar, Papa Alif gumam-gumam sendiri menahan senyum.
"Pa, siapa Om ini, kenapa ada disini Pa"
"Pa, apa yang terjadi kenapa istriku jadi lupa ingatan"
Adam masih bingung, belum bisa menerima kenyataan.
"Papa juga tidak tau"
Papa Alif menjawab pertanyaan dengan ambigu.
"bukankah kepalanya tidak cidera Pa, tapi kenapa dia lupa saya Pa?"
"Suruh dia pergi Pa, aku tidak mau ada orang asing disini"
"sudah-sudah ndok , jangan digoda lagi, sudah mau menangis dia"
Papa Alif tidak tega melihat Adam memerah matanya, tinggal satu kedipan, air mata Adam pasti sudah mengalir.
"Aduh duh Pa kepalaku sakit sekali"
Aruni berpura-pura sakit hingga pingsan.
"Pa, istriku kenapa Pa"
Adam yang baru tau kalau sudah dikerjain sang istri, ikut berpura-pura ketakutan.
Papa Alif tidak menggubris, tidak mau ikut lagi kekonyolan kedua anak-anaknya. Papa Alif memilih keluar memberi ruang bagi mereka berdua.
"Halo Dok, ini saya Adam, Dokter istri saya jadi lupa ingatan, dia lupa siapa suaminya, tindakan apa yang harus dilakukan Dok, digergaji?, mau dilihat apakah ada yang luka dalamnya, ok baik Dok, lakukan segera yang terbaik Dok"
Adam pura-pura menelpon Dokter, dia tau istrinya pura-pura pingsan.
__ADS_1
"Tidak, tidak ,aku tidak lupa ingatan mas bos"
"berani-beraninya, mengerjai mas ya, sudah berani ya, masih memanggil mas Om"
Adam menangkap kedua tangan Aruni, di usel-usel bagian favorit tubuh istrinya, turun ke perut, menciumi perut sang istri.
" maafkan ayah ya sayang, sudah membuat kalian dan bunda takut, kedepannya tidak akan terjadi lagi, ayah janji, akan berusaha lebih baik lagi menjaga kalian"
Aruni membelai rambut suaminya, dia tau sang suami sangat ketakutan, dia bahkan tidak tidur semalaman, menjaga dirinya.
Dokter memperkirakan bahwa Aruni akan segera sadar dari obat bius, tapi Aruni tidak kunjung bangun, Dokter mengatakan kemungkinan nyonya Aruni terlalu syok, dia merasa nyaman berada di bawah alam sadarnya, jadi dia enggan bangun.
Adam sangat cemas hingga menyuruh Dokter memeriksa sang istri kembali, Secara keseluruhan.
Dia yang mendapat dua jawaban, jadi takut sekaligus senang, takut sang istri tidak mau bangun dari alam bawah sadar, senang karena dari hasil pemeriksaan menyeluruh Dokter mengatakan bahwa sang istri hamil kembar, yang artinya dia akan mendapat dua anak sekaligus.
Sebenarnya dari pemeriksaan awal Dokter seharusnya sudah tau, tapi berhubung mereka fokus pada luka bagian leher, mereka jadi lalai memberi tahu kalau istri dari tuan Adam mengandung bayi kembar.
namanya juga manusia biasa ya pasti ada kalanya mereka melakukan kesalahan-kesalahan. Tapi tenang saja Papa Alif dan Adam pemaaf kok orangnya, tapi hanya dibatas yang wajar.
Pagi tadi Papa Alif datang menggantikan Adam menjaga Aruni, diperusahaan ada rapat dewan direksi, sehingga Adam harus menghadiri.
Ketika ditengah-tengah rapat Adam mendapat kabar bahwa istrinya sudah siuman, dia meninggalkan rapat begitu saja, tapi ketika tiba di rumah sakit, dia mendapat kejutan di jahilli sang istri.
Adam senang sang istri tidak trauma atau ketakutan, terlihat dari kejahilan yang dilakukan.
"Alhamdulillah baik nyonya"
"terus kapan aku boleh pulang"
"nanti ya, kalau luka di tenggorokan sudah sembuh, masih sakit kan?, sudah jangan cerewet, tidurlah"
"siapa juga yang cerewet"
Aruni mendorong Adam yang berbaring disebelahnya.
"haha, eh eh dorong-dorong mas, mau dihukum disini"
"tidak!!!"
Adam berbaring disebelah sang istri, tangan kanan mengelus-elus perut besar itu, berharap istrinya bisa istirahat kembali. Dan benar saja tidak begitu lama sang istri terlelap kembali.
Adam keluar dari kamar rawat istrinya, mendapati Papa Alif sedang duduk di bangku tunggu dengan tablet ditangannya.
"Pa masuklah, Papa istirahat didalam, titip istriku lagi ya Pa"
"bodoh, Aruni juga anak Papa, pergilah"
__ADS_1
"terimakasih Pa"
Tiba dikantor
Bram masuk keruangan bosnya.
"tuan muda, rapat tidak ada masalah, mereka tidak berani menunjukkan batang hidungnya"
"tidak mengapa, kita tunggu sebentar"
Adam yang sudah menunjukkan raut wajah tidak bersahabat sejak memulai rapat, secara tegas membatalkan kerja sama dengan perusahaan milik Stef, yang belum dimulai.
Meski perusahaan milik Stef memberikan proposal, yang memberikan keuntungan sangat besar, Adam menegaskan tidak mau dan tidak akan pernah bekerjasama dengan perusahaan milik Stef.
Tadinya ada beberapa dewan pemegang saham, yang mempromosikan untuk memilih proposal bekerja sama dengan perusahaan milik Stef, dari begitu banyak pilihan proposal perusahaan lain.
"apakah sudah menemukan tempat dimana Riska bersembunyi"
"maafkan ketidakmampuan saya tuan muda, masih belum"
"bodoh, tidak apa-apa, kali ini lawan kita bukan hanya satu, tapi mereka berkerja sama"
"ya tuan muda"
"selama kita masih ada perusahaan, mereka tidak akan pernah berhenti mencari masalah dengan kita, cukup waspada saja dan hati-hati"
"istirahatlah, dari kemaren kamu belum istirahat"
"baik, terimakasih tuan muda"
"hem, pergilah"
Bram pergi tidur diruangan kerjanya, dia memilih melewatkan makan siang, badannya terasa lelah, dari kemaren pagi sejak kejadian naas itu, hingga sekarang jam dua belas siang, dia tidak tidur juga tidak bisa beristirahat, Bram sibuk mencari petunjuk, siapa saja yang bersekongkol terhadap penyelamatan Riska.
Sementara diruangan Adam, dia melakukan panggilan telepon dengan sang Papa, mereka mendiskusikan langkah yang harus dilakukan.
"ya Pa, aku tahu, Papa istirahatlah di ranjang sebelah setelah makan, minta tolong mbok kem menjaga istriku, sebentar lagi aku datang"
"ya kau juga, jangan lupa makan siang dulu"
"baik Pa, Asalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Adam menutup panggilan telepon, dengan Papanya, dia memanggil wakil sekretaris untuk memesankan makan siang.
Biasanya dia jarang sekali makan makanan dari luar, istrinya selalu membawa bekal sendiri. Adam jadi merindukan sang istri, belum juga beberapa jam dia meninggalkan sang istri, tapi dia sudah sangat rindu.
__ADS_1