
Walaupun dengan berat hati Aruni akhirnya berdiri menerima uluran tangan suaminya, ia juga menyadari waktu semakin sore bahkan menuju petang, akan sangat gelap bila tidak segera meninggalkan area pemakaman.
Sebenarnya waktu masih menunjukkan pukul enam kurang lima belas menit tapi di karenakan banyak sekali pohon-pohon rindang jadi terlihat sedikit petang dan mencekam.
Jalan setapak yang mereka laluipun, jadi sedikit agak gelap karena tidak adanya lampu penerangan jalan, mereka bertiga juga tidak ada yang mengingat jika telepon seluler yang mereka bawa memiliki fitur lampu penerangan atau kalau orang Jawa bilangnya senter.
Sebenarnya area pemakaman juga tidak terlalu jauh dari pemukiman warga penduduk, tapi tidak tau kenapa tidak ada warga yang berinisiatif mengusulkan agar memberi lampu penerangan di sepanjang jalan setapak yang menuju arah pemakaman.
Tiba dirumah hari sudah benar-benar petang, azan sudah berkumandang bersahut-sahutan, mereka memilih untuk segera membersihkan diri terlebih dahulu.
" mas bos yang mandi dulu atau aku yang mandi dulu?"
"biarkan Pak Darman yang mandi dulu sayang"
Pak Darman beliau adalah nama supirnya Adam, walaupun Beliau belum begitu lama bekerja tapi orangnya sangat jujur dan bertanggung jawab, Pak Darman juga tulang punggung bagi keluarganya, beliau masih harus menghidupi kedua orang tuanya yang sudah renta, serta anak dan istrinya, sebap itulah Adam masih menerimnya bekerja, walaupun beliau memang sudah sedikit sepuh.
"Pak Darman nya sudah pergi ketempat kak Atin tuh, katanya mau mandi di sana sekalian mau sholat Maghrib.
" ya sudah kita mandi berdua saja untuk menghemat waktu"
"mas bos tidak mau, yang ada bukanya menghemat waktu tapi bikin telat"
dengan sedikit menyeret tangan istrinya dada Adam bergetar menahan tawa.
"kalau kamunya menurut pasti tidak akan telat"
Aruni sudah tau pasti suaminya mau mengajaknya mandi plus plus, ia sudah hapal dengan kemauan suaminya. Karena waktu yang sangat mepet Adam tidak melakukan apapun hanya mandi berdua dan ada sedikit diselingi sentuh sana sentuh sini.
"sudah sayang ayo buruan pakai bajunya, nanti telat sholat Maghrib nya"
"ya kan mas bosnya yang sudah bikin telat"
__ADS_1
Adam memalingkan wajah menahan senyum di bibirnya. Mereka berdua segera berwudhu dan melaksanakan shalat berjamaah dirumah.
"mas bos sudah lapar belum?, tapi dirumah tidak ada bahan untuk dimasak"
setelah mencium tangan sang suami usai shalat, Aruni bergelayut manja duduk dipangkuan suaminya sambil jari telunjuknya bermain di dada suaminya membuat pola melingkar - lingkar.
"nanti ya sayang kita cari makan di jalan"
"jadi kita tidak menginap semalam disini"
"sekarang belum bisa, mas besok pagi harus kekantor ada sedikit kerjaan yang harus mas kerjakan"
"bukanya cuti mas bos masih satu hari besok?, tapi ya sudahlah sekarang kita kerumah kak Atin dulu, menyerahkan barang yang kemaren kita beli untuk anaknya kak Atin dan orang tuanya, sekalian minta tolong kepada mereka untuk membagikan hadiah buat anak-anak kecil kampung ini.
Aruni tidak bisa memaksa suaminya untuk menginap ia tau betul beban kerja yang ditanggung suaminya. Banyak sekali nasib orang yang bergantung padanya, jadi dia harus bisa memahami kondisi suaminya.
Setelah beramah-tamah dengan keluarga kak Atin, serta menyerahkan hadiah untuk di bagi-bagikan, Aruni dan Adam berpamitan untuk segera kembali ke kota, mereka sengaja menunggu didalam mobil untuk memberikan ruang bagi kak Atin berpamitan dengan anak dan orang tuanya. Mobil perlahan-lahan mulai meninggalkan kampung halaman mereka.
"baik tuan"
sekitar menempuh perjalanan kira-kira satu jam Pak Darman menepikan mobilnya di pelataran masjid yang letaknya tidak jauh dari rumah makan, mereka menunaikan shalat isya di masjid tersebut.Malam ini jalan lumayan sepi sehingga sudah menempuh hampir separuh perjalanan.
"kita makan dulu baru melanjutkan perjalanan"
"baik tuan"
Kak Atin dan juga Pak Darman menjawab dengan serempak, sementara Aruni sendiri sejak meninggalkan kampung halamanya belum sekalipun mengeluarkan suara.
"kenapa sayang, hem"
"tidak kenapa kenapa mas bos, ayo kita makan dulu aku juga sudah lapar"
__ADS_1
Aruni sengaja menghindar dari tatapan mata suaminya. Tidak tau kenapa Aruni merasa sedih sejak meninggalkan rumah almarhum orang tuanya, ia sedih rumah peninggalan orang tuanya semakin lapuk dimakan usia, sementara dirinya belum mampu merenovasinya.
Adam tidak memaksa, jika istrinya belum mau mengatakan apa penyebab istrinya nampak murung setelah meninggalkan kampung halaman, ia akan perlahan-lahan bertanya jika sudah sampai di rumah.
Pesanan sudah diletakkan di atas meja, mereka berempat makan dalam diam, tidak satupun dari mereka berempat yang membuka suara.
"Apakah sudah kenyang semuanya?
"sudah tuan"
lagi dan lagi kak Atin dan Pak Darman menjawab serempak.
"bagaimana denganmu sayang? hem? kenapa makanya sedikit sekali?
"sudah kenyang mas bos, sungguh, ini sudah tidak muat perutku"
" ya sudah ayo" setelah Adam membayar tagihan makanan mereka, Adam menggandeng tangan istrinya keluar dari rumah makan, mereka berempat berjalan beriringan menuju mobil.
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang , setelah tiba di daerah perkotaan. Jalanan lumayan padat sehingga Adam menyuruh Pak Darman untuk tidak mengendarai mobil terlalu cepat, tidak mengapa jika sampai di rumah terlalu larut malam, yang terpenting keselamatan yang paling utama.
pukul satu dini hari mereka akhirnya sampai di rumah, Adam menyuruh Pak Darman dan Kak Atin untuk segera beristirahat, tidak perlu membereskan bekas bekakas peralatan yang mereka bawa tadi.
Adam membopong tubuh istrinya, karena Aruni tertidur pulas setelah menempuh kembali perjalanan kira-kira sekitar dua puluh menitan, sesudah mereka makan hingga sekarang.
Ia membaringkan tubuh istrinya di ranjang, melepaskan sepatu yang dikenakan istrinya, ia sendiri masuk kedalam kamar mandi, mengganti pakaiannya menggosok gigi dan mencuci muka, ia juga membantu menggantikan baju tidur istrinya, setelahnya ia juga ikut berbaring. Adam memeluk tubuh istrinya sambil bergumam, " kamu ini tidur apa pingsan hem?, ku ganti baju kau pun bangun". Tak lupa pula sambil menciumi seluruh wajah istrinya.
Sebenarnya dia ingin membangunkan tidur istrinya,ia ingin bertanya ada masalah apa, mengapa sang istri yang biasanya ceria dan pecicilan tiba-tiba menjadi murung dan tidak banyak bicara.
Karena melihat istrinya yang tidur bagaikan pingsan, bahkan di usel-usel sana sini pun tidak bangun ia pun tak tega untuk membangunkan tidur istrinya.
Adam terus menerka-nerka, sebenarnya apa yang terjadi, tapi semakin dipikirkan semakin ia tak tahu apa penyebabnya, akhirnya dia menyerah untuk memikirkannya, Karena seharian ini istrinya selalu bersamanya.
__ADS_1
"selamat tidur istriku semoga besok pagi kamu sudah ceria lagi" mungkin karena hari ini dirinya juga lumayan capek sehingga tidak begitu lama ia juga terlelap dalam tidurnya.