
Sudah seminggu sejak Aruni sadar, anak-anak berat badannya dengan cepat naik beberapa ons, semenjak mereka menyusu pada bundanya, semua tidak lepas dari kerja keras Adam, yang berjuang dengan semangat empat lima, memijat terapi payudara Aruni, siang dan malam.
"Sayang masih belum pijat terapi itunya"
"Sudah tidak usah, sekarang sudah mau pulang" Aruni tau betul modus sang suami.
Hari ini Aruni sudah di bolehkah pulang, dokter sudah mengatakan, kalau luka bekas operasi pada perut nyonya Aruni sudah benar-benar sembuh. Semua tidak luput dari campur tangan Papa Alif, beliau tidak mau menantu kesayangan merasakan sakit pada luka bekas operasi. Papa Alif mendatangkan obat termahal, terbagus, dari luar negeri.
Harga obatnya mungkin bagi sebagian banyak orang awam bisa membuat bangkrut, tapi bagi Papa Alif, menantu sekaligus anak perempuannya bisa segera pulih, tidak akan menjadi masalah walau dia menghabiskan separuh hartanya.
Ya pasti tidak mungkin kan harta Papa Alif bisa habis, hanya gara-gara membeli obat terbaik bagi menantu kesayangan.
"Mas bos itu kenapa ada dua suster yang ikut kita pulang"
"Kamu belum boleh terlalu banyak bergerak sayang, belum boleh mengangkat yang berat-berat"
"Oh, terus kenapa memilih suster yang sudah berumur"
"Mas tidak suka suster muda-muda yang genit, mas memperkejakan mereka untuk merawat anak-anak, bukan mencari yang muda untuk menggoda"
"Uh tambah cinta sama suami aku__ ups" Aruni menutup mulut, sudah keceplosan, selama ini dia tidak pernah bilang kalau dia sudah jatuh cinta pada sang suami.
"Apa sayang, katakan sekali lagi, mas tidak dengar tadi" Adam bertambah bahagia sekali hari ini, dia memang tidak pernah mempermasalahkan sang istri, mau jatuh cinta padanya atau tidak, toh cinta atau tidak sang istri tidak akan bisa lepas dari genggaman tangannya.
"Mengatakan apa, mas bos salah dengar tadi"
"Salah dengar tentang apa sayang"
"Tentang aku yang mengatakan cinta sama mas bos,_____ahhhh mas bos curang, sengaja memutar-mutar pertanyaan biar aku mengatakan lagi"
Aruni greget, sudah masuk jebakan Adam.
"Sudah sudah jangan teriak-teriak, bener sekarang sudah jatuh cinta sama mas"
"Tidak tuh"
"Masih tidak mau mengaku, hem, mau mengaku atau tidak"
"Ahhhh iya mas bos, aku mengaku, sudah jangan di ilikitik ketiak ku, geli tau"
"Jadi beneran sudah jatuh cinta sama mas"
"Iya"Aruni malu-malu menjawab, semburat merah jambu pada pipinya terlihat jelas, dia sembunyikan wajahnya pada dada bidang sang suami.
__ADS_1
"Ah, akhirnya, tidak sia-sia mas menjebak mu"
"Apa mas bos"
"Tidak, mas tidak mengatakan apa-apa"
Adam bahagia luar biasa, di balik musibah, Tuhan memberikan hadiah luar biasa. mendapat pengakuan cinta, dari istri kecil yang menjadi pengobat lukanya, anak-anak lahir selamat, yang paling spesial, sang istri tercinta, surga dunianya selamat, dan sudah pulih kembali.
"Mas bos turunkan aku, malu dilihat orang banyak"
"Biarkan saja mereka iri melihat kita, siapa suruh mereka tidak bisa menjaga matanya dengan baik"
Setelah selesai dari berbagai pemeriksaan terakhir, ibu dan anak-anak sudah boleh pulang.
Adam membopong sang istri, dia tidak membiarkan sang istri berjalan sendiri. Aruni yang malu menjadi pusat perhatian, tidak berani menampakkan wajahnya, dia sembunyikan di ceruk leher sang suami.
"Mas bos anak-anak mana"
"Anak-anak sama Papa naik mobil itu didepan mobil kita" Adam menunjuk mobil hitam yang berjalan lebih dulu.
"Oh, kenapa tidak naik satu mobil dengan kita"
"Biarkan kakeknya yang menemani, Papa sangat bahagia, tidak kah kau lihat, beliau tidak mau lepas dengan anak-anak"
"Sudah sudah, jangan cerewet terus, istirahatlah"
"Hem!!!"
Aruni tidak lagi bersuara, dia merajuk, sengaja tidak mau duduk dekat-dekat dengan sang suami, "berdosa lo menolak suami" kata-kata pamungkas Adam, yang selalu bisa menaklukkan keras kepala sang istri, bila sudah mendengar kata pamungkas itu sang istri pasti akan tunduk padanya.
mobil bergerak perlahan meninggalkan pelataran rumah sakit, membelah jalanan kota, Adam, Aruni, Bram duduk satu mobil dengan kak Atin, disupiri oleh Pak Darman.
Sementara Papa Alif, duduk satu mobil dengan anak-anak, dan para susternya, yang disupiri oleh supir pribadi Papa Alif.
Empat puluh lima menit kemudian, mobil tiba di pekarangan rumah.
"Ahhh, segarnya udara rumah" baru saja pintu mobil dibuka Aruni sudah bertingkah konyol, melongokkan kepala keluar menghirup udara.
"Sayang hati-hati, jangan pecicilan seperti ini boleh tidak"
Adam dibuat terkejut sang istri, pintu baru dibuka sang istri mendadak berontak melepaskan diri dari pelukan, hanya untuk menghirup udara segar.
"Iya iya, maaf mas bos, habisnya kangen sama udara segar dirumah.
__ADS_1
"lain kali jangan seperti ini sayang, ingat kamu sudah jadi bunda sekarang"
"Iya maaf"
Mereka masuk kedalam rumah, Papa Alif tidak mau istirahat, dia langsung meminta suster untuk meletakkan salah satu dari sikembar kedalam pengakuannya.
"Papa tidak istirahat dulu, tidak capek"
"Papa tidak capek, wong dirumah sakit Papa juga hanya duduk-duduk saja kok, capek dari mana"
"Lihatlah sayang Papa sangat bahagia ya, dengan kehadiran anak-anak"
"Iya mas bos, Runi juga senang kalau Papa bisa bahagia"
"Mbak Atin, tolong tunjukkan kamar suster ya, biarkan mereka istirahat sebentar"
"Baik, tuan, anak-anak bagaimana tuan"
"Anak-anak biarkan dijaga Papa dan mbok kem, dulu"
"Bram istirahatlah, kamu sudah capek akhir-akhir ini, terimakasih Bram"
"Jangan bilang begitu tuan muda, kalau saya tidak bekerja dengan anda, saya bisa bekerja dimana lagi"
"Sudah sudah, jangan Melo seperti ini, geli saya mendengarnya, besok tolong sampaikan undangan ku pada paman dan tante, untuk datang di acara syukuran kelahiran sikembar"
"Baik tuan muda, pasti akan saya sampaikan"
Adam mengajak sang istri, masuk kedalam kamar, dia menyiapkan air hangat untuk sang istri mandi, sebelum istirahat.
"Sayang mandilah dulu sebelum istirahat ya"
"Iya"
Selesai mereka berdua mandi, Adam menyuruh sang istri duduk di ranjang. Adam memberi nasehat sang istri untuk selalu mendengarkan kata-katanya.
"Dengar tidak sayang, jangan lagi diulangi ya, coba bayangkan apa yang akan mas alami, seandainya Sayang benar-benar Allah panggil.
Manusia memang tidak bisa melawan kehendak takdir, tapi setidaknya jangan membahayakan diri sendiri lagi, mengerti"
"Iya maaf mas bos, lain kali akan meminta ijin dulu kalau mau beli bakso"
hhh Adam memeluk sang istri, dia gemes sekali, kenapa coba repot-repot keluar sendiri, kalau cuma kepengen makan bakso, Adam memperkejakan banyak pelayanan, hanya karena, supaya sang istri nyaman kalau perlu apa-apa tidak perlu repot-repot mengerjakan sendiri.
__ADS_1
Tapi yang namanya Aruni, si istri polos tidak tau bahayanya dunia luar.