
"Keluarga pasien, siapa keluarga pasien?.
"Saya dok" Adam terlonjak kaget, dokter berbicara bersamaan pintu yang terbuka.
"Anda_"
"Saya suaminya dok"
"Pasien harus menjalani operasi, pendarahan terlalu banyak, sebelumnya pernah terjadi benturan, takutnya berbahaya bagi bayi, jadi bayi yang ada didalam kandungan harus segera dikeluarkan, tolong tanda tangani persetujuan prosedur operasi.
"baik dok, tolong selamatkan istri dan anak saya dok"
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin Pak, berdoa saja ya Pak, insyaallah semua selamat, lancar"
"Amin" Adam meminta Bram, mengambailkan baju ganti, baju yang dia pakai sudah dipenuhi oleh noda darah sang istri.
Selama sang istri menjalani operasi, Adam ingin meminta kepada sang maha kuasa, agar sang istri dan anak-anaknya diberi selamat.
Sebenarnya Adam sudah tidak kuat, tapi disini dia harus tegar, siapa yang akan meminta kan doa, jika Adam sampai ikut-ikutan tumbang.
Sekitar lima belas menit Bram membawa baju ganti, dia serahkan pada tuan mudanya.
"Tuan muda, anda mandilah, saya yang akan berjaga-jaga disini"
"Terimakasih Bram"
Adam mengabil ganti, dia berjalan menuju kamar mandi rumah sakit, Bram yang memandang dari belakang punggung, hatinya ikut nyeri, merasakan penderitaan tuan mudanya.
"Kapan anda bisa merasakan bahagia tuan muda, anda sudah banyak menderita, padahal niat anda sangat mulia, anda memberi penghasilan bagi mereka yang membutuhkan pekerjaan, tanpa memperdulikan kebahagiaan diri anda sendiri, tapi kenapa masih ada saja orang yang berbuat jahat terhadap anda.
Hampir empat jam operasi berlangsung, ketika pintu terbuka, dokter mengatakan kalau, kedua bayi kembar selamat, tapi kerena masih belum cukup bulan, bayi perlu di masukkan ke dalam inkubator.
Sedangkan sang ibu bayi, masih belum sadar, masih harus menjalani perawatan intensif.
Bram menghubungi Adam, mengabarkan berita yang disampaikan oleh dokter.
"Alhamdulillah ya Allah" Adam melakukan sujud syukur kepada Allah SWT, berterimakasih telah dikabulkan doanya.
"Hamba tau, engkau maha pemurah ya Allah, engkau menyayangi semua umatmu tanpa membedakan.
Adam menyudahi membaca Alquran, dia kembali, menuju kekamar perawatan kedua bayinya. Bram sengaja memilih kamar inkubator VIP, bagi kedua bayi itu.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?"
__ADS_1
"Untuk sementara masih dalam perawatan intensif, belum melewati masa kritis, berdoa saja ya Pak, semoga ibu Aruni segera pulih"
...****...
Seminggu berlalu, kedua bayi itu, telah mengalami pertumbuhan sangat bagus. Aruni sudah melewati masa-masa kritis, tapi dia masih belum sadar.
Saat Adam mengadzani kedua putra kembarnya, Adam menangis, suaranya tersendat-sendat. Mereka yang mengasyikkan ikut menangis.
"Papa akan pindah mereka, kerumah sakit milik kita Dam, selain dekat antara perusahaan dan rumah kita, mereka bertiga bisa menjalani perawatan di ruang perawatan pribadi milik kita Dam"
"baik Pa"
Papa Alif sudah tau, sejak tiga hari Aruni menjalani perawatan, Adam tidak bisa berbohong terus, bagaimana mungkin Papa Alif tidak curiga, sudah tiga hari, Papa tidak mendengar kecriwizsan menantu kesayangan.
Papa sempat menangis, mendengar semua cerita kejadian sebenarnya. Dia bertindak tegas, tanpa memperdulikan Adam, Papa sangat marah, dia melimpahkan semua berkas-berkas kejahatan tuan Stef ke kejaksaan tertinggi.
Polisi langsung Bergerak cepat, menangkap tuan Stef,
"Kau terlalu lamban Dam, kalau kau bertindak tegas, cekatan, menantu Papa dan cucu-cucu Papa tidak akan mengalami kejadian naas ini"
"Ingat Dam, ulurkan tanganmu bagi mereka yang membutuhkan, kepalkan tanganmu bagi mereka yang tidak tau berterimakasih"
"Maaf Pa, semula Adam pikir, tuan Stef masih memiliki anak bayi, jadi Adam memberi kesempatan berubah"
"Baik Pa, maafkan Adam"
Papa Alif memindahkan menantu, dan cucu-cucunya kerumah sakit milik mereka sendiri. Selama seminggu ini Adam tidak pernah kekantor, semua pekerjaan diserahkan pada Bram.
"Sesekali lah lihat keadaan kantor Dam, kasihan Bram, memikul semua sendiri"
"Adam tau pa, besok pagi Adam kekantor"
Tuan Stef beserta antek-anteknya, sudah ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara.
Riska berhasil lolos, menurut informasi dari orang-orangnya Papa Alif, Riska melarikan diri ke Korea Selatan.
Papa Alif sudah menyerahkan berkas kejahatan Riska pada kepolisian Korea Selatan. setiap negara mempunyai kebijakan masing-masing, Papa Alif tidak bisa bertindak sewenang-wenang. jadi beliau hanya bisa berharap pada kerja kepihak kepolisian Korea.
Tapi ini akan sulit, jika Riska melakukan operasi plastik mengubah seluruh penampilan dan data-data pribadi.
...****...
"Anak ayah Asalamualaikum, bagaimana hari ini, apa anak ayah jadi anak baik hari ini"
__ADS_1
Jam empat sore Adam tiba dirumah sakit, setelah membersihkan diri, dia menyapa bayi kembarnya. Sudah satu bulan ini dia bolak-balik kantor rumah sakit, dalam seminggu, empat hari dia akan kekantor.
"Bunda Asalamualaikum, ini ayah sudah pulang lo bun, masak masih tidak disambut, masih belum mau bangun, hem"
Setelah bermain sebentar dengan kedua putra kembarnya, gantian Adam menyapa sang istri, kegiatan seperti ini, menjadi rutinitasnya sekarang.
Kedua putra kembarnya sudah tidak dimasukkan kedalam inkubator, pertumbuhan berat badan keduanya sangat bagus.
"Siapa nama kedua cucu Papa Dam"
Papa Alif yang baru keluar dari kamar mandi, menyapa putranya, Papa Alif beliau baru selesai mandi.
"Assalamualaikum Pa" Adam menyalami dan mencium tangan Papa Alif.
"Nama kedua cucu Papa, Atha dan Athar Pa"
"Hemm cukup bagus namanya"
"bagaimana istirahat Papa hari ini" walaupun setiap hari bersama, tapi pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini sudah menjadi wajib bagi Adam.
"Setelah membaca koran, oleh raga sebentar, terus menemani cucu Papa bermain, mau bagaimana lagi, anak Papa masih tidak mau bangun, menemani ngobrol papa, mungkin dia tidak suka Papa bermain dengan cucu Papa"
Adam yang tidak mengerti kenapa, ucapan Papa Alif berubah seperti itu, terbengong.
"Bukan Pa, bukan maksud Aruni seperti itu"
Sebenarnya bukan maksud Aruni, melakukannya, setelah terbangun dari siuman, Aruni masih bingung mencerna keadaan, tapi dia tertidur kembali, hingga mendengar, pembicaraan sang suami dengan kedua putra kembarnya.
Papa Alif sudah tau kalau menantunya, sudah sadar, tadi pagi dia sempat memergoki Aruni membuka mata dan membenarkan selimutnya.
Papa masih berfikir, mungkin menantunya ingin memberi kejutan atau ingin menjahili suaminya. Jadi Papa Alif membiarkan dulu tentang sudah siuman nya sang menantu. Toh dari hasil pemeriksaan dokter, pagi dan siang tadi semua bagus.
Tapi hingga hari sudah mau menjelang sore, ternyata sang menantu masih asyik dengan kepura-puraannya.
"Sayang, kamu sudah sadar, sejak kapan, kok tidak memberi tahu mas"
Rentetan pertanyaan, Adam lontarkan kepada sang istri, Adam langsung memeluk istrinya, menciumi keningnya bertubi-tubi.
Aruni sudah tidak menggunakan alat-alat medis sejak satu Minggu yang lalu, luka bekas operasi juga sudah kering. Semua setabil jadi dokter melepaskan semua peralatan penompong.
"Maaf anda siapa tuan" Aruni berusaha mendorong tubuh Adam, berusaha melepaskan diri pelukan sang suami.
"Sayang, jangan begitu, mas tau, mas salah"
__ADS_1