
Pagi yang cerah, seperti biasa Adam akan menemani sang istri berjemur sambil menyuapi sarapan, kalau dulu hanya mereka berdua yang berjemur sekarang dan seterusnya akan ada sang Papa dan tidak lama lagi bertambah anggota lain yang akan ikut berjemur matahari pagi bersama dengan mereka.
"sayang mas berangkat kerja ya, hari ini Papa akan ikut kekantor, ada urusan yang memerlukan persetujuan beliau"
"iya mas bos, tapi cepat pulang ya"
"iya, dirumah hati-hati ya, jangan keluar rumah , dengar tidak"
"iya iya, sudah lepas aku mau kekamar mandi"
"ya sudah hati-hati kekamar mandinya, mas sama Papa berangkat kerja dulu"
Adam mencium sekilas pipi sang istri yang sudah berontak melepaskan pelukannya mau kekamar mandi.
Adam ragu-ragu, dia enggan meninggalkan istrinya dirumah sendiri, walaupun ada pelayan dan pengawal yang menjaganya, tapi hatinya tidak tenang, sebenarnya dia hanya akan bekerja sampai siang saja, mungkin sekitar jam satu atau jam dua siang, dia dan Papanya sudah bisa pulang kerumah.
Setelah mengintruksikan pada para pengawal untuk menjaga sang istri, Adam berangkat kekantor bersama sang Papa yang disupiri oleh Pak Darman.
Sementara Aruni baru keluar dari kamar mandi, dia melihat mobil yang membawa suaminya sudah tidak terlihat, semenjak usia kandungan menginjak delapan bulan, Aruni jadi sering bolak balik ke kamar mandi untuk buang air kecil, kaki juga sudah mulai bengkak.
Baru saja dia berniat kedapur mengambil cemilan, dia mendengar suara penjual bakso keliling yang lewat.
"kak Atin aku kepingin makan bakso"
"tapi kita tidak boleh keluar lo Aruni"
"tapi aku sangat kepengin kak" Aruni sudah membayangkan nikmatnya kekenyalan bakso, dan harum aroma kuahnya, dia menelan ludah memandangi pintu gerbang yang sedari tadi suara tik tok tik tok tidak berhenti-henti, seperti sengaja memancing orang untuk mendatanginya.
"nanti ya kalau tuan sudah pulang kakak belikan diluar, atau bagaimana kalau kita bikin sendiri saja"
"tidak kak, aku kepinginnya yang dari penjual keliling itu"
Akhirnya Aruni menyerah, setelah tidak berhasil membujuk kak Atin dan para pengawal untuk membuka pintu gerbang, dia ingin membeli bakso. heh sudahlah, masuk kedalam kamar mencoba mengalihkan perhatian dengan cara membaca buku panduan ibu menyusui bayi pasca persalinan.
"ah tidak bisa, aku tidak dapat menahannya lagi, aku tidak akan bisa konsentrasi kalau begini"
Aruni sudah mencoba menutup telinga menggunakan buku, tapi tidak begitu lama tangannya lelah, dan dia bisa mendengar suara tik tok tik tok lagi, suara itu seperti hipnotis yang memanggil-manggilnya untuk segera mendekat.
"ah mereka sedang makan kan, coba saja keberuntungan ku"
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan kak Atin yang sedang sibuk menyiapkan makanan keatas meja, Aruni menyelinap keluar dengan mengendap-endap di samping pos satpam yang terdapat disebelah pintu gerbang.
"berhasil, untung mereka sedang sibuk makan, aku sekarang bisa menikmati bakso yang sangat menggodaku, Aruni mengejar pedagang bakso yang sudah melewati beberapa rumah.
"mang tunggu, aku mau beli baksonya"
"oh iya neng, hati-hati jalanannya, jangan terburu-buru"
Mamang penjual bakso cukup baik, melihat wanita hamil besar sudah lumayan susah berjalan, dia mengingatkan pada Aruni yang setengah berlari menuju kearahnya.
"huh huh, mang huh aku mau huh enam porsi huh baksonya"
"iya neng lain kali tidak usah lari-lari, cukup panggil mamang saja, nanti mamang bisa putar balik lagi kesana"
"tidak apa-apa mang, sambel sama saosnya dipisah ya mang"
"baik neng, ini silakan si neng duduk dulu di kursi plastik yang selalu saya bawa dagang keliling"
"terimakasih mang"
Aruni duduk di kursi sambil melihat anak-anak yang sedang bersepdah, sudah lama dia tidak melihat suasana diluar rumah.
"ini neng baksonya"
"ini mang uangnya, kembaliannya buat mamang saja"
"terimakasih neng, semoga lahirannya lancar ya neng"
"Amin, terimakasih mang, saya permisi"
Baru saja Aruni membalikkan badannya berniat pulang, sudah di kejutkan oleh dua mobil hitam yang berhenti didepan groboknya mamang bakso. Turunlah beberapa pria menggunakan masker dan kacamata hitam, yang langsung menangkap Aruni dan membekapnya.
"eh eh apa yang kalian lakukan, kasihan si neng sedang hamil besar"
"jangan banyak bicara kalau kamu sendiri mau aman"
mamang tidak berani berkutik lagi, apa lagi lehernya ditodong menggunakan pisau oleh salah satu orang dari mereka. mau menolong pun percuma, mereka lebih banyak orangnya.
Aruni sendiri tidak sempat berteriak meminta tolong, dia sudah tidak sadarkan diri setelah dibekap obat bius menggunakan kain.
__ADS_1
Bakso yang ada pada genggamnya terlepas jatuh.
"tolong tolong tolong, ada penculikan" mamang yang sadar dari rasa takut, setelah melihat wanita yang baru saja memberikan rezeki padanya, dibekap hingga pingsan, dan digotong oleh dua orang dimasukkan kedalam mobil.
"tolong, tolong, itu si neng sedang hamil besar diculik oleh segerombolan orang" tapi tidak ada yang mendengar, kebetulan anak-anak yang bersepeda tadi juga sudah pergi.
Mamang tadi melihat Aruni keluar dari rumah yang pintu gerbangnya terbuka sedikit. Dia tertatih-tatih mendorong gerobok segera memanggil penghuni lain dari rumah tersebut.
"ada apa mang, kenapa teriak-teriak disini, siapa yang diculik, dan siapa yang membukakan pintu gerbang untuk mamang"
"itu tadi si neng yang hamil besar membeli bakso saya, terus ada segerombolan orang yang membekap dan membawanya pergi"
kedua penjaga dan satu satpam yang baru ngeh kalau nona mudanya telah diculik, kalang kabut mencari jejak penculik.
salah satu dari pengawal segera menelepon tuanya, dan salah satunya menanyai mamang tukang bakso bagaimana kejadiannya.
"bagaimana"
"bos tidak bisa dihubungi"
"Apa yang terjadi, kenapa kalian kalang kabut seperti ini"
"non Aruni diculik mbok"
Pak satpam yang menjawab, dia sangat takut, dia sudah lalai, tidak seharusnya mereka bertiga makan bersama-sama.
"apa, bagaimana bisa, barusan dia masih didalam kamar"
Kak Atin yang mendengar penjelasan pak satpam segera berlari kekamar majikannya, dan benar saja Aruni tidak ada didalam.
Mbok kem sendiri langsung bergetar takut, maklum sudah tua jadi lumayan syok.
"bagaimana ini, kenapa aku meninggalkan dia sendirian" kak Atin sudah pucat pasi wajahnya, dia mondar-mandir di hadapan mbok kem yang duduk di teras rumah, mbok kem tidak kuat menopang tubuhnya lagi.
"bagaimana, tuan sudah bisa dihubungi apa belum" Kak Atin bertanya pada dua pengawal.
"tutup pintu gerbangnya, jangan biarkan orang lain masuk"
Kedua pengawal itu segera meninggalkan rumah, melaju menggunakan mobil yang ada di garasi. Setelah berbicara ditelpon, memberi tahu kejadian yang sudah terjadi kepada Sekertaris Bram, karena sang bos tidak bisa mengangkat telepon.
__ADS_1