
Di dalam mobil yang melaju menuju ke arah kediaman keluarganya, Adam duduk sambil memeluk tubuh istrinya, tak henti-hentinya ia menciumi apa saja yang bisa ia cium, rambut, kening, pipi, bahkan keleher juga, sambil mendengarkan celotehan istrinya, sementara tangan kanannya ia letakkan di atas perut sang istri.
"mas bos nanti di rumah Papa aku kepingin makan salad buah, kita mampir ke toko buah dulu"
Adam hanya menjawabnya dengan kata "hem" , sementara bibirnya tetap bergerilya di mana-mana.
"tunggu tadi siang kamu tidak makan nasi, dan hanya makan buah saja, tidak, nanti harus makan nasi dulu baru boleh makan buah"
"tapi aku tidak ingin makan nasi, aku hanya ingin buah dan yang agak masam"
"Anak kita memerlukan banyak sekali gizi seimbang sayang"
"ya baiklah, nanti coba aku paksakan untuk makan sedikit nasi, walaupun aku sungguh tak berselera makan"
"nanti sepulang periksa ke dokter kita beli susu untuk ibu hamil dan kebutuhan lainnya"
"iya"
Tidak begitu lama setelah mereka berhenti untuk membeli buah, mereka sekarang sudah sampai di depan pintu gerbang rumah orang tuanya.
"tin tin "
"eh tuan muda dan non Aruni sebentar saya bukakan pintunya"
"ada tamu siapa mang? kok ada mobil yang parkir di situ"
" eh, itu tuan, anu, em mantan istri dan mantan mertua tuan muda"
"ya sudah, tolong parkirkan mobilnya ya mang, terimakasih"
"baik tuan muda",
Walah walah orang begitu baik,sopan, tampan kaya, kok masih saja diselingkuhi, memang sudah salah kaprah itu Bu Riska, sekarang saja baru menyesal, setelah tuan muda bahagia bersama istri barunya. Untung pisan non Aruni itu baik, juga sangat sopan orang nya.
Adam tidak melepaskan genggaman tangan istrinya walaupun Aruni mencoba untuk melepaskan Nya.
"Asalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
__ADS_1
terdengar sahutan suara dari dalam rumah, Aruni dan Ada menyalami mereka bertiga,
"Papa hari ini apa kabar?"
" Alhamdullilah sehat nduk"
" Om, Tante apa kabar?"
"Alhamdullilah baik"
Riska yang mendengar dirinya dipanggil tante melotot serta giginya gemereletuk menahan geram. Adam dan papanya menahan senyum mendengar perkataan polos Aruni.
Papa Adam sendiri sudah sangat menyayangi Aruni, ia merasa sangat terhibur dengan tingkah polos menantunya. Keceriaan Aruni memang membawa dampak positif bagi Adam dan papanya. Bagi Papa, Aruni seperti putrinya sendiri , putri yang beliau inginkan tapi tidak pernah kesampaian.
" Papa mbok Kem diman?"
" ada didapur tadi"
" ya sudah, aku kedapur dulu ya Pa, mas bos, mau naroh buah ini sekalian mau lihat mbok Kem masak apa"
" hati-hati sayang jalanya"
"iya"
Aruni meninggalkan ruang tamu menuju dapur, ia ingin membuat salat buah, sebenarnya sejak tadi dia sudah membayangkan segarnya memakan salat buah. Ia sudah tidak perduli lagi dengan apa yang akan dibicarakan oleh mereka.
" mas beri aku satu kali kesempatan lagi, aku janji akan memperbaiki semuanya, tolong beri aku kesempatan lagi, aku tahu aku sudah salah"
"nak Adam tolong dipertimbangkan sekali lagi keinginan Riska untuk kembali, mengingat budi jasa saya terhadap keluarga nak Adam"
"maaf aku tidak bisa menerimamu kembali, sudah berkali-kali aku beri kesempatan tapi kamu tidak mau menggunakan"
"Mas tolong maafkan aku, beri aku kesempatan lagi, aku janji akan memperbaiki semuanya"
dengan tidak tahu malunya Riska bersimpuh di hadapan Adam, ia menangis tersedu-sedu berharap agar Adam mau kembali padanya.
Adam tidak bergeming ia membiarkan Riska bersimpuh di depannya. Kedatangan Riska dan ayahnya sebenarnya untuk meminta papanya Adam menerimanya kembali.
berharap mantan besannya dapat membantu membujuk Adam untuk kembali lagi pada putrinya, dengan mengungkit budi jasanya.
__ADS_1
Papa Adam sudah menjelaskan bahwa masalah ini beliau tidak dapat membantu, semua keputusan ada pada Adam.
Kalau menghitung jasa budi mantan besannya, sebenarnya keluarga Adam sendiri sudah banyak sekali membatu mereka. Dulu kedua orang tua Adam mengalami kecelakaan tabrak lari, dan ibunya Adam memerlukan donor darah, kebetulan persediaan Bank darah yang sama dengan beliau lagi kosong, dan ayahnya Riska pada waktu itu sedang menjaga ibunya Riska yang sedang dirawat juga dirumah sakit tersebut, memiliki darah yang sama, sehingga Papanya Adam, seorang Alif Suseno bersedia berlutut kepada Ayahnya Riska agar bersedia mendonorkan darahnya.
"maaf saya sudah bahagia sekarang"
"Apakah kebersamaan kita selama ini sudah tidak berarti lagi bagi mu mas"
Adam sudah tidak mau mendengarkan perkataan mantan istri dan mantan mertuanya, baginya masalalu dengan mantan istrinya sudah selayaknya dibuang, ia hanya ingin menyabut masa depan yang bahagia bersama istri dan calon anaknya.
"Pa aku mau ke dapur mau lihat menantu Papa, apa yang sedang dia lakukan"
" ya pergilah"
sepeninggalnya Adam tidak ada yang mengeluarkan suara, mereka larut dalam pikiran masing-masing. Riska larut dalam pikirannya sendiri, ia masih belum percaya bahwa Adam bisa begitu cepat melupakannya, mengingat dulu Adam yang patuh dan tunduk padanya, bahkan Adam akan tetap memaafkannya, meskipun berkali-kali disakitinya, Riska tidak menyadari bahwa seseorang bisa berubah sesuai keadaan, ya Adam berubah karena Riska yang selalu membohonginya, Riska juga yang selalu menginjak-injak harga dirinya sebagai seorang suami.
sementara papanya Riska sendiri memikirkan bagaimana caranya agar bantuan dari Adam kembali mengalir ke padanya, karena semenjak Adam rasmi bercerai dengan putrinya enam bulan yang lalu Adam sudah menyetop total pemberian uang kepada mantan istri dan mantan mertuanya.
Kerena sudah tidak ada yang dapat diperbuat , Riska dan ayahnya pergi begitu saja tanpa pamit. Sementara Papa Alif sengaja tida menghentikan langkah kaki mereka yang tidak punya sopan santun karena pergi tanpa pamit.
"sudah pergi mereka Pa?"
" sudah, untung kamu tegas, Papa sudah tidak mau punya menantu yang lain, kecuali anak perempuan Papa Aruni"
"paling-paling nanti kalau cucu Papa sudah lahir bakalan berpindah ke lain hati"
" hhhhh mana mungkin pa---pa, tunggu apa tadi kamu bilang, cucu?, coba katakan sekali lagi"
" iya papa sebentar lagi akan memiliki cucu"
"benarkah sebentar lagi Papa akan bisa menimang cucu?"
" ya tadi kita sudah mengecek, dan lima alat tesnya positif"
" Alhamdullilah ya Allah, saya masih di beri kesempatan untuk melihat cucu, sebentar lagi saya akan bisa menimang cucu terimakasih ya Allah Alhamdullilah"
" nanti jam tujuh kita akan memeriksakan kandungan, apakah Papa mau ikut?"
" ya Papa akan ikut, Papa akan bertanya kepada dokter bagaimana keadaan cucu Papa"
__ADS_1
Adam senang melihat papanya begitu bahagia mendengar akan segera menimang cucu. Semenjak mamanya meninggal lima tahun yang lalu, papanya hanya bahagia diluarnya saja. Adam sering melihat papanya termenung seorang diri.
Mama terlalu banyak memikirkan keadaan rumah tangga anaknya yang berantakan, sehingga jadi pemicu ambruknya beliau.