
"bagaimana Dok, apakah ada yang serius"
Adam berpapasan dengan Dokter pribadi yang merawat sang istri, baru keluar dari kamar rawat inap istrinya.
"tidak ada yang serius tuan Adam, kami baru melakukan pemeriksaan ulang, Tuan Alif mengatakan bahwa nyonya Aruni meminta pulang. luka di tenggorokan sudah sembuh total, sedang penyangga leher tunggu dua Minggu lagi baru boleh dilepas"
"Berbahayakah bila istri saya melakukan banyak gerakan"
et et kok pertanyaan nya ambigu begitu, mau ngapain tuan Adam istri lu masih belum sehat.
"untuk tubuh tidak ada masalah, untuk bagian leher sebaiknya berhati-hati dulu, tunggu dua Minggu kita lakukan pemeriksaan ulang"
Pak Dokter menjawab dengan tersenyum.
"baiklah kalau begitu saya permisi tuan, bila tidak ada pertanyaan yang lain"
"ya baiklah, terimakasih Dokter"
"sama-sama tuan Adam"
Setelah Dokter berlalu pergi, Adam melangkah menuju kekamar rawat inap istrinya. Tadi pagi sewaktu dia mau berangkat kekantor sang istri memang belum bangun, siangnya setelah makan siang dia kembali kerumah sakit untuk membujuk sang istri makan.
Sudah hampir satu bulan Aruni dirawat di RS, dia sudah sangat bosan, tidak bisa menghirup udara segar, kemana-mana diikuti pengawal.
Sebenarnya luka pada tenggorokan Aruni sudah sembuh dari tiga Minggu yang lalu, dia juga sudah diperbolehkan makan makanan seperti biasa, tadinya dia hanya boleh makan yang halus-halus saja.
Adam bersikeras sang istri harus dirawat sampai sembuh total, hingga sang istri merajuk tidak mau makan bila tidak dipaksa.
Pagi ini rupanya sang istri memanfaatkan ketiadaan dirinya, dia merengek pada Papa Alif, sudah tidak betah dan minta pulang. tentu saja apapun yang diminta menantu kesayangan Papa Alif pasti akan dikabulkan, asalkan yang baik-baik, tidak berbahaya.
Adam masuk setelah mengetuk pintu dua kali, dia melihat sang istri memalingkan muka, tidak mau bersitatap dengannya. Adam tau sang istri merajuk sedang jengkel padanya.
"sudah makan Pa"
"kalau Papa sudah makan Dam, kalau anak Papa mau makan dirumah katanya"
"tadi aku berpapasan dengan Dokter, Dokter mengatakan harus melihat dulu tenggorokannya sakit atau tidak, untuk menelan makanan, bisa menghabiskan makanan ini atau tidak, kalau belum bisa habis, harus menunggu satu bulan lagi baru boleh pulang Pa"
"tidak, tenggorokanku sudah sembuh mas bos, ini lihatlah"
Aruni buru-buru meminta nasi dan lauk dari mbok kem, dia makan dengan lahap, memperlihatkan pada suaminya bahwa dia sudah sembuh.
Papa Alif dan Adam tersenyum melihat tingkah Aruni, begitu mudahnya ditakut-takuti.
__ADS_1
"pelan-pelan makannya, tidak ada yang berebut denganmu"
"iya"
Pukul dua siang Adam selesai melakukan pembayaran administrasi, mbok kem dan kak Atin juga selesai merapikan barang-barang yang digunakan Aruni selama berada di rumah sakit.
Cukup banyak ya barang-barangnya, siapa lagi coba biang keladinya kalau bukan Adam, dia ingin sang istri merasa nyaman saat dalam masa perawatan.
Tapi kalau hanya diperbolehkan didalam ruangan dan koridor, siapa coba yang tidak bosan senyaman apapun fasilitas ruangan rawatnya. ya ya sang nyonya bos sudah bosan.
"sudah sampai sayang, hati-hati jalanannya"
Adam memapah sang istri turun dari mobil, kalau dilihat-lihat, kasihan sekali istrinya, sudahlah badannya kecil perutnya buncit besar, untuk jalan saja sudah kesusahan. Tapi Adam suku lupa ingatan kalau sedang merasakan kenikmatan tubuh kecil ini.
"mas bos itu kenapa banyak orang dirumah kita"
"mereka baru selesai memasang lift sayang, kedepannya kamu tidak boleh menggunakan tangga lagi.
"terimakasih mas bos"
Aruni memeluk suaminya, memberi hadiah kecupan di pipi kiri dan kanan.
"yang disini tidak dikasih hadiah sayang"
"memangnya boleh mas bos, ini tengkorak leher aku masih dibungkus kaya gini"
"lehernya kan tidak perlu bergerak sayang, sini aku bantu melepaskan pakaian, aku bantu mandi ya"
Adam melancarkan rayuan pada sang istri, Aruni yang polos hanya menurut saja dibawa masuk kedalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, dia tidak tau kalau sang suami sedang modus.
Untung Papa Alif sudah masuk kedalam kamar, beliau ingin segera istirahat, jadi tidak mendengarkan semesum apa anaknya.
Maklum ya, sudah hampir satu bulan Adam hanya bisa menatap dan memeluk tubuh istrinya saja, tapi tidak bisa ber ***-*** dengan sang istri, selain tempat yang kurang privat, Adam juga tidak mau mengumbar kemesraan didepan para pengawal dan pelayan.
Otak Adam masih waras, dia masih memikirkan kasian kak Atin dan para pengawal yang jomblo.
Untuk sementara Papa Alif, akan tinggal dirumah milik Adam, rumah Papa Alif sedang Adam renovasi. karena seperti yang dikatakan Adam dulu, dia ingin sang Papa menghabiskan masa tuanya, dengan ditemani anak cucu-cucu dan menantunya.
Di dalam kamar mandi, Adam membantu sang istri membasahi tubuh agar tidak terkena gips yang menempel dileher, diikuti Adam juga mengguyur tubuhnya sendiri, dengan murah hati masih membantu menyabuni tubuh istrinya sambil raba sana raba sini, hisap sana hisap sini.
"mas bos, sudah ya, ini sudah dingin"
"hem"
__ADS_1
Adam melepaskan hisapan, mengguyur sekali lagi tubuh sang istri dan tubuhnya sendiri, mengabil handuk dibalutkan ketubuh istrinya.
Dia sendiri hanya melilitkan sebatas pinggang, membopong sang istri meletakkan diranjang dengan perlahan-lahan, melanjutkan babak kedua.
"toktok toktok, tuan muda dibawah ada Sekertaris Bram"
"ya mbok"
Adam terbangun mendengar ketukan pintu, didalam pelukannya, sang istri tertidur pulas, istrinya terlihat kelelahan setelah meladeninya, bahkan dia tidak terganggu sama sekali oleh gerakan tangan Adam yang ditarik keluar dari bawah lehernya.
Mereka berdua masih sama-sama belum berpakaian.
Setelah berpakaian.
Adam turun kebawah, melihat Bram sudah duduk diruang tamu bersama Papa Alif.
"bagaimana Bram"
"ini tuan muda" Bram mengeluarkan beberapa lembar foto yang dikirim oleh anak buahnya.
" hampir sebulan ini tidak ada pergerakan sama sekali, rupanya mereka disini"
"Awasi terus Bram, jangan biarkan mereka lolos"
"baik tuan muda"
"makan malam lah disini Bram, sebentar lagi sudah waktunya makan"
"terimakasih tuan besar, saya masih ada pekerjaan yang harus dilakukan, tidak bisa makan malam disini.
"makan malam dulu disini, masalah itu tidak perlu buru-buru Bram "
"baik tuan muda, terimakasih sudah merepotkan"
"ingat Bram kamu itu sudah saya anggap anakku sendiri, jangan terlalu sungkan, anggaplah juga kami keluargamu sendiri"
"saya mengerti tuan besar"
"berjuanglah bersama Adam, Bram"
"siap tuan besar" Bram memberikan hormat pada Papa Alif yang disambut gelak tawa oleh mereka bertiga.
"tenanglah Bram, kamu juga akan mendapat, bagian dari saya, sekolahkan adikmu yang tinggi, rawat kedua orang tuamu dengan baik"
__ADS_1
"terimakasih tuan besar atas kemurahan hati Anda, sehingga adik dan kedua orang tua saya bisa hidup makmur sekarang"