
"Pa, kenapa ada orang ini disini Pa"
"Sayang mas minta maaf, tolong jangan begini" Adam sudah menitikkan air mata.
"Salah sendiri,___ mas kemana saja, aku sangat takut mereka akan menendang anak-anak kita didalam perutku, huaa huaaaa"
Aruni menangis sejadi-jadinya, dia menumpahkan semua ketakutan sewaktu dia disandra, Aruni memukuli dada bidang sang suami. Teringat jelas ketika darah mengalir deras dari paha, seperti buang air kecil, bagaimana rasa cemas mengalahkan rasa sakit.
Aruni sangat takut, bagaimana keadaan anak-anak didalam perutnya, bagaimana kalau anak-anaknya belum dikeluarkan dia sudah meninggal.
Semua pikiran-pikiran buruk terlintas dibenak Aruni. Adam membiyarkan sang istri menumpahkan tangisnya, membiyarkan sang istri mengungkapkan ketakutan yang dialami.
Papa Alif dan kak Atin keluar, mereka membiarkan sepasang suami istri melepaskan rindu mereka.
Setelah tangisnya reda Aruni meminta Papa Alif masuk, dia menanyakan bagaimana keadaan anak-anaknya pada Papa.
Pandangan mata Aruni terhalang oleh boks bayi, sehingga dia tidak bisa melihat keadaan kedua putra kembarnya.
"Pa bagaimana keadaan cucu-cucu Papa"
Aruni pura-pura mengabaikan sang suami, masih ada sedikit rasa jengkel, ketika teringat, dia memanggil-manggilnya sang suami untuk menolong tapi sang suami tak kunjung datang, ketika dia seperti mau sekarat, yang terlintas dibenaknya , hanya wajah sang suami yang menangis tersedu-sedu bersimbah air mata.
"Cucu-cucu Papa sehat, mau gendong?"
"Apa boleh"
"Ya tentu saja boleh, sebentar ya biar mbk Atin panggilkan suster, bantu membopong"
"Iya pa, mereka mirip siapa Pa?"
"Belum tau ndok, masih kecil, biasanya wajah bayi akan berubah-ubah, nanti setelah anak-anak baru terlihat mirip siapa"
"Nanti kalau sudah besar, mereka harus mirip dengan Aruni ya Pa, tidak boleh mirip mas bos"
"Ya jangan begitu sayang, aku kan ayahnya, satu-satu ya, satu mirip bundanya, satu mirip ayahnya"
"Hemm siapa anda"
Papa Alif geleng-geleng kepala melihat tingkah putra dan menantunya, pura-pura acuh tapi sebenarnya, meraka saling membutuhkan.
__ADS_1
Adam menahan senyum, dia tau sang istri sedang melakukan aksi protes, merajuk.
"Sayang, sini mas bantu lap muka dulu, belum dilap kan mukanya dari bangun tadi, sini coba dicium dulu, ada bau jigong atau tidak"
Adam menciumi seluruh wajah sang istri.
"Mas yang bau jigong, seluruh wajah mas bos bau jigong"
"iya, iya, mas yang bau jigong, maaf ya, sudah jangan ngambek lagi, malu lo, itu anak-anak sudah mau minta gendong bundanya, sini mas lap dulu mukanya"
Aruni membiyarkan sang suami, mengelap seluruh wajah dan tangannya. Enak saja di bilang bau jigong, tapi masih saja diciumi seluruh wajah ini.
"Nanti Pak Adam bantu ibu Aruni melakukan pijatan terapi paska menyusui ya Pak, pelan-pelan saja, nanti kami akan mengajari Pak Adam, cara melakukan pijatan terapi pada area payudara"
"Kenapa harus melakukan terapi pijat sus"
"Karena biasanya ibu-ibu paskah bersalin, mereka secara alami akan mengeluarkan air susu ibu, tapi ibu Aruni tidak sadarkan diri sekian lama, paska operasi, jadi perlu melakukan pijatan terapi untuk merangsang kembali air susu ibu"
Jangan modus ya Dam kalau sedang mengemban tugas negara, negara kekuasaan anak-anak maksudnya.
"Baik sus, segera kasih tau saya kalau begitu, bagaimana cara memijatnya"
Aruni memandang sebel sang suami, dilihatnya sang suami sudah cengar-cengir tidak jelas.
"Apa sih sayang, siapa yang modus, ini murni melaksanakan tugas yang dipercayakan anak-anak pada ayahnya"
"Terus kenapa itu cengar-cengir, itu air liurnya sudah mau tumpah" Adam buru-buru mengelap mulutnya.
"Tidak ada air liurnya sayang, mana, kering kok, nggak ada"
"Sudah di hisap sama si lalat, mas bos telat ngelapnya keburu habis"
Suster tersenyum, melihat pertengkaran romantis pemilik rumah sakit ini, jarang-jarang bisa melihat tontonan langka ini.
Kalau saja dia dibolehkan, mengabadikan momen berharga ini, sudah dari tadi dia merekamnya, tapi sayang nya, sedari awal mendapat tugas, merawat istri sang bos rumah sakit, sudah mendapat wejangan, tidak boleh melakukan hal-hal diluar tugas.
"Hem sudah berani ya mengerjai mas"
"Sudah jangan ganggu aku mas bos, ini aku lagi belajar gendong"
__ADS_1
Suster meletakkan salah satu dari bayi kembar itu kedalam pangkuan Aruni. dia lumayan takut, hampir dua puluh satu tahun, ini yang pertama Aruni membopong bayi kecil yang baru lahir.
Dikampung dulu, dia hanya pernah menggendong anak-anak yang sudah berumur satu tahun lebih.
"Nanti ibu Aruni harus belajar menggerakkan kaki ya, karena ibu Aruni sudah satu bulan lebih tidak bergerak, nanti kita akan pelan-pelan memapah anda"
"Baik sus terimakasih"
"Sama-sama bu, sudah menjadi kewajiban saya, melaksanakan tugas ini"
Sekitar Dua puluh menit, Aruni memangku putra kembarnya secara bergantian, sama halnya dengan Adam pun demikian, dia belajar membopong tubuh kecil putra-putranya. Tangannya bergetar, dia terharu, dia bisa menggendong putra-putranya seperti yang selalu dia impikan selama ini.
Selama sebulan ini dia hanya berani memandang tubuh mungil itu, kini dia bisa merasakan kulit mereka saling bersentuhan, bahkan Adam bisa mencium wajah mungil putra-putranya, mencium aroma khas bayi dari tubuh kecil yang ada dalam gendongannya.
Setelahnya suster mengajari cara pijat terapi pada Adam.
"Seperti ini tuan, anda cukup memberi pijatan pelan di sekitar area ini, jangan terlalu keras, bisa menyakiti payudara ibu Aruni, dan pilin secara perlahan diarea yang ini, tuan Adam bisa melakukan pijatan pagi dan malam, agar susu ibu cepat terangsang keluar"
"Baik sus, serahkan pada saya sus, tugas berat ini"
Suster tersenyum.
Adam memegang payudara milik sang istri seperti yang diajarkan suster barusan, dia memijat pelan dan memilin, bagian-bagian, yang contohkan tadi.
"ck"
Aruni berdecak, wajah mesum sang suami, membuatnya sebel, untung Papa Alif sudah keluar, kalau belum, dia pasti akan menjitak kepala putranya.
"Apa sih sayang"
"Nggak usah cengar-cengir, itu pikiran mas bos tertulis jelas dijidat mas bos"
"Mas mana ada pikiran seperti itu sih sayang, mas melakukan tugas berat ini dengan sepenuh hati, jangan berpikir yang aneh-aneh deh"
"Hem terserahlah, suka-suka mas bos"
Aruni memalingkan wajah, dia gregetan sendiri, tangan sang suami memang memijat sesuai instruksi dari suster, tapi jakun nya sedari tadi nak turun, seperti seseorang sedang meminum air.
"Harus memijat berapa lama sus"
__ADS_1
"Waktu maksimal lima belas sampai dua puluh menit tuan, tapi semakin lama akan semakin bagus"
"Baik akan saya laksanakan pekerjaan berat ini"