
Seperti biasa sepulang dari Masjid Adam sudah tidak melihat istrinya di dalam kamar, biasanya pada jam segini Aruni memang di dapur membantu menyiapkan sarapan pagi.
"sayang dimana telepon seluler ku?"
dari lantai atas Adam memanggil manggil Aruni.
Smenjak menikah dengan Aruni, Adam berubah seratus delapan puluh derajat, ia menjadi sangat manja, sedikit-sedikit sayang tolong ini, sayang tolong itu, seperti sekarang ini padahal telepon genggamnya selalu bersamanya tapi kenapa yang di tanya malah istrinya.
Adam sudah sangat ketergantungan dengan istrinya, seperti tidak akan pernah bisa melakukan apapun tanpa Aruni. Moodnya pun mengikuti suasana, jika Aruni ada didekatnya maka aura yang terpancar akan secerah mentari pagi, tapi bila Aruni tidak nampak dari pandangan matanya, maka yang terpancar seperti ada hembusan angin dari kutub Utara.
Bisa dibayangkan bagaimana tertekannya para staf di kantor, karena Aruni tidak bisa ikut kekantor setiap hari. Mungkin mereka juga sudah terbiasa kali ya, dan Adam juga tidak akan pernah memarahi pegawainya tapa sebap.
Dari lantai bawah Aruni sudah jengah mendengarkan teriakan suaminya, seperti sudah mau sekarat bila tidak ada dirinya.
"sudah sudah sana kamu urus bayi besar mu"
kak Atin sendiri pun jadi heran, kok bisa tuanya berubah begitu, dulu ketika bersama istri pertamanya ia tidak sebegitunya, tapi sekarang bagaikan bumi dan langit perbedaanya.
" baiklah kak, nanti tolong sekalian potongkan buah dan taruh di kotak buah ya kak, hari ini mas bos nyuruh aku ikut kekantor"
" Ok, apa mau sekalian dibawakan bekal"
" boleh, tapi buat mas bos saja, aku lagi tidak berselera"
"baiklah"
" kalo begitu aku keatas dulu kak, mau lihat ada bencana apa sebenarnya"
Aruni segera meninggalkan dapur ia ingin melihat ada apa sehingga suaminya berteriak-teriak seperti anak ayam kehilangan induknya, ia segera mencari keberadaan suaminya.
"Ada apa kenapa pagi-pagi sudah berteriak-teriak"
" sayang dimana telepon seluler ku?"
" lah biasanya kan tidak pernah jauh dari mas bos, sudah seperti suami isteri tidak terpisahkan".
" ya tidak tau, aku lupa naruhnya dimana"
__ADS_1
"terakhir mas bos makeknya dimana?.
" ya kalau ingat aku tidak akan tanya sayang, tunggu, apa jangan-jangan di ruang olahraga ya?, tadi malam" ,,,,,,
"ya sudah sana mas bos ambil, aku mau menyiapkan baju buat mas bos kerja nanti".
"sayang cium dulu sebentar"
Adam men charge mood booster sebelum pergi mengambil Hp, ia sudah pusing sendiri akibat ulahnya sendiri, kenapa baru ingat sekarang kalau tadi malam ia meninggalkan telepon genggam nya diruang olahraga setelah istrinya ngomel-ngomel.
" Kak Atin kami berangkat dulu ya, nanti malam tidak usah menunggu kami untuk pulang makan, kami mau mengunjungi papa dirumahnya, kalau kak Atin sudah beresan, kak Atin ajak yang lain istirahat saja"
"baiklah"
setelah Adam melarang istrinya bekerja seperti biasa, Aruni mengusulkan untuk mengambil lagi dua asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaan kak Atin. Selama menikah hampir dua bulan, Adam memang sering mengajak istrinya kekantor, biasanya para staf akan sangat bahagia bila sang bos membawa serta Bu bos-nya, karena bila ada istrinya sang bos akan lebih manusiawi dalam segala hal.
"mas bos nanti berhenti sebentar di minimarket, ada yang ingin aku beli"
"mau beli apa?"
Aruni membisikkan sesuatu ditelinga suaminya, ia sudah merasa ada keanehan di dalam dirinya, ia jadi sering tidak berselera makan, lebih suka makan buah yang agak masam, dan akan muntah bila mencium bau yang menyengat.
Adam langsung memeluk Aruni, ia sangat bersyukur sekaligus senang, dia ciumi seluruh wajah istrinya,dan tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih.
Adam tidak menyangka akan segera diberi kepercayaan dari Alloh, senyum tak pernah lepas dari bibirnya.
" Nanti setelah pulang dari kantor kita ajak saja Papa makan diluar mas bos, kasihan beliau selalu makan sendiri di rumah"
"manut ndoro putri saja"
"ya mau bagaimana lagi beliau tidak mau tinggal sama kita, nah itu minimarket"
pak Darman langsung memberhentikan mobilnya di dekat minimarket.
"ayo sayang, pelan-pelan turunnya"
Adam menggandeng tangan istrinya sudah seperti orang pesakitan, padahal istrinya sudah hamil atau belum masih belum pasti.
__ADS_1
Pak Darman sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah bos-nya memangnya nyonya sakit apa sampai sebegitunya sikap bosnya itu.
Aruni sendiri jadi sangat malu, tapi ia membiarkan sikap suaminya, ia tau suaminya sudah lama menantikan kehadiran sang buah hati, jadi sikapnya agak berlebihan.
" permisi, ada tespek tidak?"
"ada mau merek apa?"
" yang paling bagus dan yang paling akurat yang mana?"
kemudian penjaga minimarket itu menunjukkan semua merek dan menunjukkan yang menurutnya yang paling bagus. Adam pun membeli setiap merek satu buah.
Setibanya di lobi kantor Adam menggandeng tangan istrinya memasuk, seperti biasa para pegawai akan menyapanya, dulu bila ada pegawai yang menyapa boro-boro dijawab dilirik pun tidak, sekarang masih mendingan, bila bersama istrinya dan ada yang menyapa maka ia akan menyahut dengan kata pamungkasnya" hem".
berbeda dengan Aruni bila ada yang menyapa ia akan tersenyum ramah dan menyahuti kembali" selamat pagi juga"
Tiba di kantor pribadinya, Adam mengajak istrinya untuk segera mengetes urinnya.
" mas bos keluar dulu"
" memangnya apa yang belum pernah aku lihat dari dirimu sayang, ayo coba sini"
Aruni hanya bisa menghela nafas pelan, mereka berdua sama-sama membaca pemakaian, dengan harap-harap cemas menantikan hasil.
"semoga saja tidak mengecewakan ya mas bos"
" tidak mengapa sayang, apapun hasilnya kita akan tetap bersabar"
Adam tidak ingin membebani istrinya dengan masalah kehamilan, kalau dikasih ya alhamdullilah, kalau belum ya tidak apa-apa ia akan tetap bersabar.
"alhamdullilah"
mereka berdua sama-sama melihat hasilnya, dan ternyata lima buah tespek semuanya bergaris dua. Adam bahkan sampai bersujud syukur, ia mengangkat istrinya untuk dia bawa berputar-putar.
" nanti kita beritahu Papa, pasti beliau sangat senang"
Seharian ini dilalui Adam dengan senyum tak pernah lepas dari bibirnya, bahkan para staf sampai bertanya-tanya, apakah matahari terbit dari arah barat, seharian bosnya selalu tersenyum.
__ADS_1
Pukul empat sore Adam bersama istrinya meninggalkan kantor menuju rumah orang tuanya. Sebenarnya ia ingin sepulang dari kantor segera memeriksakan kandungan istrinya, tapi tadi pagi dokter yang ia telepon untuk membuat janji mengatakan bahwa hari ini jadwalnya sudah full, dan baru jam tujuh malam kosong.
Adam tidak mau menggunakan kekuasaannya untuk berbuat sewenang-wenang, walaupun dia sendiri pemilik saham terbesar di rumah sakit tersebut.