
Udara pagi berhembus begitu menyejukkan, ada berapa orang berolahraga di taman-taman yang sengaja dibuat bagi siapa saja yang mau menggunakan.
Ada yang menghirup dalam-dalam, mengisi paru-paru dengan udara bersih, menampungnya sebanyak mungkin. Ada yang hanya duduk-duduk santai sambil menikmati pemandangan.
Tuhan membagikan udara secara gratis bagi semua makhluk siapa saja yang mau menghirupnya.
Jika udara diluar berhembus sejuk sejak pagi, tapi tidak didalam kantor Adam's Group, dari pukul sembilan pagi, setelah Sekertaris Bram tiba dikantor, udara menjadi terasa panas dan sesak.
Hari ini tiba waktu pemotretan dan pembuatan video klip iklan produk baru yang rencananya akan segera diluncurkan. tapi tanpa ada pemberitahuan apa-apa sang model tidak datang, managernya juga tidak bisa dihubungi.
Waktu terus berjalan, hingga sekarang hampir jam dua belas siang, tidak ada informasi yang didapatkan, tentang sang artis dan timnya.
Aris cadangan juga kebetulan mendadak sakit, sungguh pelengkap penambah suasana menjadi horor.
Sekertaris Bram dari mendapat kabar sang artis tidak datang, hingga sekarang waktu hampir habis, sudah berapa puluh kali dia menggebrak meja rapat tim devisi periklanan.
"Apakah kalian tidak memiliki solusi, Apakah kalian hanya bisa makan gaji buta, perusahaan membayar tinggi kalian, gunakan otak kalian, ajukan denda pinalti pada artis yang tidak profesional, ingat saya mau hari ini surat denda pelanggaran kontrak harus sudah ditangan artis itu"
Bram sudah sangat geram, dari tadi pagi hingga sekarang, banyak sekali kebetulan-kebetulan yang seperti sedang mempermainkannya.
Tim devisi periklanan juga tidak mendapatkan artis lain, artis cadangan mendadak sakit, artis yang sudah tanda tangan kontrak tidak datang, ditambah lagi sang bos tidak datang kekantor hari ini. Semua pekerjaan menumpuk di pundaknya.
Tok tok " Masuk" Bram mempersilahkan masuk orang yang meminta ijin.
"Pak diluar ada artis Lisa Chen ingin bertemu dengan Bapak"
"Bukankah artis ini sebelumnya sudah kita tolak"
"Iya Pak, tapi dia hari ini datang dan memaksa mau bertemu dengan Bapak"
"Menjelekkan saja, usir dia dari kantor, kalau tidak bisa, suruh satpam menyeretnya keluar"
"Baik pak"
Wakil sekretaris keluar, menemui artis yang bernama Lisa Chen yang masih menunggu dilobi lantai bawah.
"Maaf nona, Sekertaris Bram tidak bisa bertemu dengan anda, beliau sedang ada rapat penting"
"Bukankah sekarang waktunya istirahat, jam makan siang, kalian pasti berbohong"
"Maaf kami juga tidak tau, tapi beliau sudah berpesan , tidak ada yang boleh mengganggu jalannya rapat"
"Heh, berlagak sekali, aku jamin tidak lama lagi, kalian pasti akan mengemis-ngemis, memohon kepadaku untuk Suting bintang iklan produk perusahaan kalian"
__ADS_1
Tidak ada yang menggubris lagi, semua pegawai menjalankan pekerjaan masing-masing,
"Tidak akan ada artis yang bisa kalian ajak kerja sama"
Lisa Chen pergi dengan keangkuhan, setelah mengatakan kata ancaman.
Sore hari, pulang dari kantor Bram menuju rumah Papa Alif, dia ingin mendiskusikan masalah yang terjadi, seperti disengaja.
Adam dari kemaren siang sudah merasa tidak sehat, mendadak pusing, mual tidak berselera makan.
"Selamat sore tuan muda, tuan besar"
"Sore Bram, capek ya, maaf ya, mandilah dulu biar seger"
"Baik tuan besar"
Bram berlalu kekamarnya untuk segera membersihkan diri, hari ini dia sangat lelah.
"Eh keponakan Om, sudah mandi juga sudah wangi, sini gedong sama Om"
Bram yang baru keluar dari kamar, dia melihat dua bocah kembar itu sedang tertatih-tatih belajar berjalan.
Badan kedua bocah kembar itu terlalu gembul jadi agak terlambat berjalan.
"Bram ayo makan dulu, biarkan anak-anak dijaga oleh suster"
"Baik tuan muda"
Setelah memberi ciuman diperut sikembar hingga dia tertawa lepas, Bram menyerahkan anak-anak kesuster.
Bram, Adam, Papa Alif dan Aruni makan bersama sesekali dibumbui dengan candaan-candaan ringan, Adam yang masih belum berselera makan sengaja minta disuapi oleh sang istri. Ternyata makanan yang dia telan tidak dimuntahkan lagi.
"Rumah kita sekarang ada tiga bayi Bram"
Papa Alif sengaja menggoda putranya, tidak biasanya makan minta disuapi sang istri.
"Apa non Aruni sedang hamil, kok tingkah tuan muda akhir-akhir ini sering aneh"
Tidak ada yang bersuara, semua pada melongo, Adam segera menoleh kearah sang istri.
"Sayang apa kamu hamil"
"Tidak tau, aku tidak merasakan apa-apa, tidak mual atau muntah-muntah"
__ADS_1
"Kapan terakhir kali berhalangan sayang"
"Tidak ingat"
"Nanti kita tes ya"
"Iya sekarang habiskan makanannya"
Mereka meneruskan makan malam bersama, ada binar bahagia dari pancaran senyum Adam, Papa Alif dan Bram juga sangat gembira seandainya berita ini benar
"Non Aruni Minggu depan adik saya pulang, non Aruni bisa meminta tolong padanya bilang kerepotan mengurus mereka"
"Benarkah Bram, wahh asik aku bakal punya temen ngobrol baru"
Setelah makan malam selesai, Aruni duduk-duduk diruang keluarga bersama anak-anak dan para suster, mereka bermain menggoda sikembar.
Sementara Papa Alif Sekertaris Bram dan Adam mereka bertiga masuk keruang kerja, ada masalah yang harus dibahas.
Pukul sembilan malam anak-anak sudah mulai ngantuk, suster membawa mereka kekamar ditidurkan.
"Suster boleh tidur lebih dulu, anak-anak biar saya yang menidurkan" Setelah diganti pakaiannya sikembar Aruni mengabil alih, dia ingin menidurkan anak-anaknya.
"Anak-anak sudah tidur sayang" Adam muncul dari pintu penghubung antara kamarnya dan kamar sikembar, setelah selesai berdiskusi dengan Bram dan Papa Alif Adam masuk kekamar, tapi tidak mendapati sang istri berada di dalam kamar.
"Suttt, baru saja mereka tertidur" Aruni pelan-pelan bangun agar pergerakannya tidak menggangu tidur anak-anaknya.
"Sayang ayo kita tes"
"gimana ngetesnya mas bos, kita tidak punya alat tespek dirumah"
"Mas sekarang pergi beli"
"Besok saja mas bos, sekarang sudah malam"
"Ah sayang tapi aku sangat penasaran" Adam sudah seperti anak kecil yang minta dibelikan jajan, memegang tangan sang istri sambil digoyang-goyang kan.
"Besok saja mas bos, lihat sekarang sudah hampir jam setengah dua belas malam"
"Tidak apa-apa, dekat pertigaan ada minimarket yang buka dua puluh empat jam sayang"
"Ya terserahmu lah" Aruni tidak akan bisa mencegah kemauan sang suami, bila tidak di izinkan untuk membeli alat tespek, bisa-bisa sepanjang malam Adam akan merengek terus seperti anak kecil.
Padahal umurnya sudah mau menginjak angka empat puluh lima, rambut juga sudah berwarna dua, tapi tingkahnya seperti anak kecil dihadapan sang istri.
__ADS_1