ISTRI KECILKU PENGOBAT LUKAKU

ISTRI KECILKU PENGOBAT LUKAKU
bab16


__ADS_3

"sudah sudah sayang, jangan menangis lagi ya, mas minta maaf"


"hiks hiks, mana ada orang yang habis berbuat jahat akan hilang secuil"


"sayang sungguh, mas tidak berbuat curang atau berbuat jahat"


"aku tadi telpon mas bos, aku telpon berkali-kali tapi tidak diangkat, aku pikir mas bos sudah ketemu dengan wanita-wanita cantik itu, seperti di TV, terus mas bos tidak mau aku dan anakku lagi hiks hiks"


Adam tersenyum, dia gregetan sendiri dengan sang istri, bagaimana Adam memperkenalkan sang istri pada rekan-rekan bisnis coba, kalau sang istri begitu polos, bisa-bisa otak sang istri diracuni yang tidak-tidak.


"sudah jangan menangis lagi, tunggu mas mandi sebentar ya"


Setelah mencium kepala sang istri Adam bergegas masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri dari bakteri-bakteri yang menempel di tubuh, begitu banyak berjumpa dengan orang pasti membawa pulang bakteri.


Tidak butuh waktu lama untuknya mandi, dia sudah keluar dengan tubuh yang lebih segar, hanya melilitkan handuk di pinggang, dia menyusul sang istri yang masih sesenggukan dibawah selimut.


"sini mas peluk"


setelah membuang handuk dengan asal, Adam memeluk sang istri.


"anak ayah, kenapa kalian membiarkan bunda menangis, bukankah sudah ayah bilang, kalian harus menjaga bunda, jangan biarkan bunda menangis"


"mas bos, kenapa kok manggilnya kalian, memangnya ada berapa banyak anak kita"


Adam lupa kalau sang istri belum tau bahwa anak mereka kembar.


"coba tebak anak kita berapa"


"tidak tau, kan belum di USG"


waktu melakukan USG pas terjadi kejadian naas waktu itu, sang istri memang sedang dalam keadaan diberi obat bius, dan hari ini juga Dokter tidak menyinggung masalah anak kembar, Dokter hanya mengecek kesehatan ibu dan janin serta memberikan vitamin.


"mas di beri dua jagoan-jagoan"


"ha benarkah, pantas kok perutku besar sekali, padahal kan waktu tetangga dikampung ku hamil tidak sebesar perutku"


Aruni menutup mulutnya, karena terkejut, ada binar bahagia di setiap nada bicaranya, dia sudah lupa kalau dia baru menangis.


"sudah diam, tidurlah, ini sudah malam sayang, kaki dan tangan diam jangan pecicilan seperti ini"


"mas bos, kenapa sekarang susah sekali mau peluk mas bos"


Bahu Adam bergetar menahan tawa, dia sudah tidak mau menanggapi ocehan sang istri, waktu semakin larut, Aruni masih mengoceh ini dan itu, masih bla bla bla hingga dia tertidur. Adam bangun menarik selimut yang nasipnya tersangkut dibibir ranjang akibat tendangan kaki sang istri, menutupi tubuh mereka berdua ikut menyusul sang istri kealam mimpi.


Keesokan pagi


"Assalamualaikum, selamat pagi Pa"


"waalaikumsalam, selamat pagi ndok, itu kenapa, kok matanya bengkak, apa mas mu jahat pada mu ndok"

__ADS_1


"tidak Pa"


"menantu Papa cengeng ditinggalkan sebentar saja sudah nangis"


Adam yang baru mengambil buah dari dapur, menyahut pembicaraan Papa dan menantunya.


"jangan khawatir ndok, kalau Adam berani macam-macam, Papa coret namanya dari daftar ahli waris"


Papa Alif tau kekawatiran sang menantu, dia terharu menantunya begitu mencintai sang anak, "andai saja Adam bertemu dengan mu lebih cepat ndok, pasti mamamu ikit merasakan kebahagiaan ini" Papa Alif diam-diam mengusap air matanya, tanpa ketahuan oleh kedua anak-anaknya.


Mereka bertiga berbincang-bincang, sambil sarapan buah dan berjemur matahari pagi dihalaman belakang rumah.


"Assalamualaikum, selamat pagi tuan besar, tuan muda, non Aruni"


"Waalaikumsalam"


mereka bertiga sama-sama menjawab dengan serempak.


""sini Bram sarapan" Bram mendekat, melihat sarapan ketiga bosnya dia begidik sendiri, air liurnya mengucur deras, apalagi membayangkan asamnya buah kiwi jeruk strawberry apel hijau, masih dipadukan dengan buah pisang, hiii rasanya kaya apa itu.


"ini tuan Bram sarapan anda"


kak Atin datang membawa sarapan Sekertaris Bram.


"Bram tidak suka sarapan seperti sarapan kita Pa"


"tidak mengapa Bram, yang terpenting sehat"


Bram sarapan nasi pecel lauk tempe goreng dan ayam goreng.


pukul delapan tiga puluh menit Adam dan Bram berangkat ke kantor


"sayang mas berangkat kerja ya, hati-hati dirumah, jangan keluar rumah"


"iya mas bos, hati-hati ya kerjanya"


Adam mengecup kening sang istri juga mencium perutnya, berpamitan dengan calon dua jagoan-jagoannya.


"berangkat kerja dulu ya Pa, jangan keluar rumah, kalau ada apa-apa segera hubungi Adam"


"iya pergilah"


"Assalamualaikum"


"waalaikumsalam"


Seharian ini Adam sangat sibuk sekali, dia hanya istirahat makan siang sebentar sambil menelpon sang istri dan Papanya, setelahnya dia terus disibukkan dengan setumpuk berkas-berkas penting hingga sore menjelang pulang.


"tuan muda, Riska menghilang dari rumah itu"

__ADS_1


Setelah mengetuk pintu, dan mendapat sahutan dari dalam, Bram masuk melaporkan masalah yang terjadi.


"bagaimana mereka mengawasinya"


"anak buah kita, mengawasi dua puluh empat jam, mereka tidak melihat ada orang yang keluar dari rumah itu, tidak ada pergerakan yang mencurigakan tuan muda"


"apakah sudah menggeledah semua tempat"


"semua sudah di geledah, tidak ada orang sama sekali, tunggu"


Bram mengabil telpon dari dalam saku celana, dia menghubungi bawahnya, "segera periksa tadi yang katanya ada tukang sampah yang mendorong gerobak sampah"


"bagaimana Bram"


"kita kecolongan tuan muda, nampaknya mereka mengetahui kita memantaunya, ada seorang tukang sampah yang mendorong gerobak sampah"


"ya aku mengerti, bawah kita pasti tidak menyangka kalau Riska rela bersembunyi ditumpukkan sampah yang berbau busuk, untuk lari dari pantauan"


Tidak lama kemudian telpon Bram berbunyi, Bram mendapat laporan kalau gerobak sampah sudah terguling di tepian jalan, sampah sudah berhamburan keluar.


"suruh mereka melacak penerbangan keluar, juga melacak yang didarat maupun pelabuhan Bram"


"baik tuan muda"


"ok untuk sementara biarkan anak buah kita yang melacak keberadaan Riska, kita fokus pada bukti-bukti perusahaan Stef"


"semua sudah beres tuan muda"


"kita bawa pulang, biar ku periksa dirumah"


"baik tuan muda" Bram keluar dari ruang kerja bosnya, dia mengambil berkas-berkas di meja kerjanya, memasukkan kedalam map berukuran besar.


"Nanti malam saya tidak bisa menginap tuan muda"


"kenapa, mau pergi berkencan?, bawa kehadapan Papa, biar Papa Alif yang menilai, apakah dia pantas untukmu atau tidak"


"bukan begitu tuan muda, tadi ayah dan ibu menelpon menyuruku pulang makan malam bersama mereka"


"ada acara apa dirumah, kenapa tidak memberitahu kami"


"saya belum tau, katanya mereka akan memperkenalkan anak dari teman ayah"


"oh, ya sudah, sampaikan salam kami pada paman dan bibi, semoga mereka sehat selalu, kalau ada apa-apa segera beritahu kami"


"baik tuan muda, terimakasih atas semua kebaikan keluarga anda"


"cih"


sambil berkata cih Adam memukul lengan Bram menggunakan map yang diberikan kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2