
Di kantor didalam ruang kerja bos tertinggi pemilik perusahaan Adam's Group, bunyi telepon seluler tidak henti-hentinya berdering.
Adam sang pemilik berada didalam ruang terpisah, rapat bersama rekan bisnis, Tidak biasanya dia meninggalkan telpon genggamnya jika berjauhan dengan sang istri.
Tentu saja para pengawal tidak bisa menghubunginya, sudah puluhan kali ponsel itu berdering.
Kini tiba giliran sekretaris Bram yang terlonjak kaget, ada yang bergetar didalam saku celananya.
Sekretaris Bram sengaja mengubah mode getar pada ponselnya di waktu-waktu tertentu. biasanya tidak ada yang berani menghubungi disaat suasana sepenting sekarang.
Waktu hampir menunjukkan istirahat jam makan siang, dia sengaja membiarkan ponselnya bergetar beberapa kali.
Bram mengumpat dalam hati, lain kali aku harus mematikan ponselku jika sedang rapat penting seperti sekarang ini.
Waktu istirahat jam makan siang tiba.
Adam memberhentikan rapat untuk sementara hingga jam makan siang selesai.
"kita istirahat sebentar, silahkan semuanya menikmati jamuan yang akan dihidangkan oleh para pegawai sebentar lagi"
"Bram cepat kau angkat telponmu, sungguh menjijikkan, celanamu bergetar dari tadi"
selama rapat, seperti biasa Bram akan duduk atau berdiri disebelah Adam, sehingga gerakan sekecil apapun pasti akan terlihat jelas di mata Adam.
"maaf tuan muda, lain kali saya akan mematikan hp saya, jika sedang rapat"
Adam keluar meninggalkan ruang rapat, diikuti sang Sekertaris, dia berniat mengambil berkas yang tertinggal.
"ada apa kenapa menghubungi terus menerus"
Bram yang semula pintar pun menjadi bodoh karena marah, tentu saja kalau orang menelpon tak ada henti-hentinya, pasti ada sesuatu yang mendesak.
"apa, bagaimana bisa, apa yang kalian kerjakan"
Bram mematikan telpon secara sepihak, dia berlari menuju keruang kerja tuan muda.
Adam yang baru akan memegang handle pintu terkejut melihat Bram lari ngos-ngosan kearahnya.
"kenapa"
"tuan muda" Bram membisikkan kata-kata ke telinga Adam, yang langsung berteriak, "bagaimana bisa"
Adam masuk kedalam ruangan, dia baru sadar kalau teleponnya tertinggal, Adam membuka telponnya ada banyak sekali panggilan tak terjawab.
"kumpulkan anak buah kita Bram"
"baik tuan muda"
""cek CCTV dirumah dan sekitar"
__ADS_1
" sudah saya perintahkan pengawal memeriksa CCTV,,,,,
Belum selesai Bram berbicara, telponnya sudah berdering, dia sudah mengubah teleponnya ke mode dering.
"baik, tetaplah berjaga-jaga disitu, sebentar lagi tuan besar akan segera pulang"
"tuan muda, saya akan menyuruh pak Darman mengantar tuan besar pulang"
"ya, Papa jangan diberi tahu dulu"
"baik tuan muda"
Setelah meminta maaf pada rekan bisnis, perihal penundaan rapat yang mendadak.
Adam bergerak menuju lokasi yang telah disepakati.
Lima belas menit yang lalu Adam mendapat telepon dari nomer yang tak dikenal, meminta pertukaran, membatalkan laporan tuan Stef yang ditukar dengan sang istri.
Tanpa berpikir dua kali, Adam langsung menyetujui, nyawa sang istri lebih penting.
"Saya sudah tiba di lokasi"
Tiba di lokasi Adam mendapat telepon, lagi-lagi dari nomere baru yang tak dikenal.
"maaf lokasinya diubah, silahkan anda jalan kaki lima ratus meter dari sini kearah selatan"
"jangan coba-coba mempermainkan saya"
"sekarang bukan saatnya bagi anda untuk tawar-menawar dengan saya tuan Adam"
"jangan sampai saya melihat istri saya, lecet sedikitpun, kalau tidak akan saya hancurkan sampai ke akar-akarnya.
Sementara ditempat lain, Aruni yang sudah sadar dari pengaruh obat bius, merasakan perutnya sakit.
"tolong, tolong, adakah orang lain diluar"
Dia melihat sekeliling, tidak ada apapun disekitarnya, dia ingat, dia tadi sedang membeli bakso, tiba-tiba dibekap segerombolan orang menggunakan kain, seterusnya dia sudah tidak sadarkan diri.
"Adakah orang diluar, tolong perut saya sakit sekali"
Aruni mencoba menggedor-gedor, dinding kayu tempatnya bersandar, menggunakan tangan yang terikat erat.
sakit yang semula hanya seperti mau buang air besar, sekarang rasa sakitnya semakin terasa menekan perut bagian bawah dan pinggangnya.
"tolong, tolong selamatkan saya"
Dengan sisa-sisa tenaga, dia mencoba memanggil suara beberapa orang yang ada diluar, tapi tidak ada yang perduli.
"ya Allah ini sakit sekali"
__ADS_1
Dengan tangan bergetar Aruni mencoba meraba paha, dia merasakan ada yang mengalir keluar.
Kalau saja kaki dan tangannya tidak diikat, mungkin dia bisa duduk dengan benar, dan sakitnya tidak terlalu.
"tolong, tolong, permisi tolonglah saya"
"ada apa, kenapa berisik sekali, mengganggu saja"
"tuan tolong selamatkan saya, perut saya sakit sekali"
"tahan saja dulu, nanti juga sembuh sendiri"
"tuan"
"jangan berisik, atau aku pukul kau"
Pria itu keluar tanpa memperdulikan Aruni.
Aruni tidak berani bersuara lagi, sakit yang mendera semakin tidak tertahankan, dia menggigit bibirnya, tubuhnya bergetar, wajah semakin pucat keringat dingin bercucuran.
dia takut mereka akan benar-benar memukul atau menendang perut dan mencelakai anak-anaknya, bila dia mengeluarkan suara.
"Tuhan, selamatkan anak-anak ku, sakit sekali ahhh, mas bos tolong, mas bos sakit, aku tidak kuat lagi mas bos, ahhh"
Tubuh Aruni bergetar hebat menahan sakit, cairan yang keluar dari pahanya semakin deras, dia sudah tidak kuat, hingga tidak sadarkan diri.
"sayang, sayang, bertahanlah, sebentar lagi kita sampai, sayang maafkan mas, sayang"
Setelah diberi arahan tempat pertukaran antara sang istri, dengan berkas-berkas bukti kejahatan tuan Stef, ditentukan.
Anak buah Bram langsung bergerak cepat menuju ke lokasi.
mereka mengepung sebuah bangunan kosong berdinding kayu, yang tidak jauh dari lokasi yang ditentukan. ada beberapa orang pria yang berjaga-jaga, ada beberapa lagi yang duduk sambil bermain poker.
Sebelum melakukan misi, Adam sudah memasang pelacak pada tubuhnya yang tersambung langsung pada monitor anak buah Bram.
Membuat Bram dan anak buahnya bergerak cepat, bahkan sebelum Adam tiba di lokasi.
Tidak ada tuan Stef dilokasi, hanya ada beberapa anak buahnya, tidak memerlukan pertarungan sengit, mereka dengan cepat lumpuhkan.
tiba di lokasi Adam sudah melihat Bram dan anak buahnya, sudah memborgol orang-orang tuan Stef, Adam berlari mendorong pintu yang hanya tertutup separuh.
"Bram!!, tolong panggil Ambulans"
Adam melihat istrinya tergeletak dilantai tidak sadarkan diri, banyak cairan bening yang sebagian sudah tercampur dengan darah, menggenang ditubuh bagian bawah sang istri.
"sayang, maafkan mas, tolong jangan tinggalkan mas, sayang bertahanlah"
Adam memangku sang istri, Bram yang diluar mendengar teriakkan tuan mudanya, meminta memanggil ambulans, tanpa bertanya lagi langsung menghubungi dokter dirumah sakit terdekat, untuk menyambut kedatangan mereka.
__ADS_1
"mari tuan muda, kita bawa non Aruni kerumah sakit terdekat"
Adam membopong sang istri yang dibantu Bram, salah satu anak buahnya sudah menyalakan mesin mobil, bersiap mengantar mereka kerumah sakit terdekat.