
Happy reading.....
''Maaf Rey, untuk kali ini kamu tidak bisa menolak permintaan Papa. Setuju tidak setuju, dan mau tidak mau, kamu akan tetap menikahi Silvia. Dan kalian akan tetap menikah!'' ucap Om Bima dengan tegas.
Silvia dan juga Rey menatap ke arahnya, "Tapi Pah ..." protes Rey.
"Keputusan Papa sudah final, tidak bisa diganggu gugat!"
"Yax tapi kasih Rey alasannya dong, kenapa harus menikah dengan dia? Rey masih bisa cari sendiri Pah, calon istri, tidak usah dijodohkan seperti itu. Kesannya Rey tidak laku sekali." Pria itu menekuk wajahnya dengan kesal.
Terlihat Om Baim membuang nafas dengan kasar, dia seperti menyimpan sesuatu yang berat di dalam hatinya.
"Kamu mau tahu alasannya kenapa, Papa menikah kamu dengan Silvia?" Ret yang mendengar itu segera menganggukkan kepalanya.
"Ya. Aku mau tahu," jawab Rey dengan yakin.
Sedangkan Silvia juga hanya terdiam untuk menyimak pembicaraan dari anak dan juga Papanya itu, sebab ia juga sangat penasaran apa penyebab dari Om Baim yang begitu ngotot untuk menjodohkan dia dengan anaknya.
"Sebenarnya Papa menjodohkan mu dengan Silvia, karena hutang budi." Terlihat wajah Om Baim begitu sendu, sementara Tante Mega hanya mengusap pundak suaminya.
"Hutang budi? Maksudnya?" bingung Rey.
__ADS_1
"Sejujurnya dulu ayahnya Silvia adalah sahabatnya papa, kami bersahabat sejak SMA, sampai kami kuliah. Namun, waktu itu perusahaan Papa hampir saja bangkrut, dan Papanya Silvia lah yang membantu papa sampai dia harus menjual mobilnya. Jika tidak ada pertolongan darinya, mungkin kita tak akan hidup begini. Itu kenapa Papa ingin menjodohkan kamu dengan Silvia."
Mendengar penjelasan dari Papanya, Rehly seketika menatap ke arah Silvia, yang di mana wanita itu juga terbengong saat mendengar fakta yang baru saja ia ketahui.
Kemudian Silvia menatap ke arah Ibunya, dan wanita itu pun menganggukkan kepalanya. "Iya Nak, apa yang dikatakan oleh Tuan Baim itu benar. Ayahmu dan juga Tuan Baim bersahabat, itu kenapa ibu juga bekerja di sini."
Silvia hanya menganga saja saat mendengar penjelasan sang Ibu, dia tidak menyangka jika dunia begitu sempit, bahkan cerita hidup keluarganya menyambung satu sama lain.
"Pernikahan kalian juga satu bulan lagi akan dilaksanakan, jadi tidak ada penolakan! Dan Papa mau ke kamar dulu." Om Baim bangkit dari duduknya, kemudian dia meninggalkan Rey dan juga Silvia.
"APA! 1 bulan lagi!" kaget Silvia dan Rey bersamaan.
Tante Mega menatap ke arah 2 orang itu. "Kalian ini sepertinya memang jodoh."
"Eh gadis Alien. Ngapain sih ngikutin mulu?" kesal Rey sambil menatap ke arah Silvi.
"Yyeey! Terong gandul. Siapa juga yang ngikutin Pede gile!" jawab Silvi tak kalah nyolot.
"Ibu juga mau ke belakang dulu ya, masih ada kerjaan." Bu Sari meninggalkan putrinya, karena dia ingin Rey dan juga Silvia mengenal satu sama lain.
Tidak ada pembicaraan, hanya ada keheningan untuk beberapa saat. Rey dan Silvia bahkan menatap satu sama lain, seperti mereka sedang berperang dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
"Aku." Keduanya berkata dengan nada bersamaan.
"Kamu dulu," ucap Rey.
"Tidak. Tuan dulu saja," Jawab Silvia.
"Seperti apa yang kau dengar tadi dari Papa jika ini adalah Perjodohan yang dipaksakan. Walaupun apa itu motifnya, tentang balas budi antara orang tua kita, tetap aku tidak mencintaimu. Dan setelah menikah nanti, aku hanya ingin menegaskan kepadamu, jangan pernah berharap lebih dariku! Karena aku tidak bisa membuka hati untukmu, paham!" Reily berkata dengan tatapan yang lurus.
Silvia yang mendengar itu pun tersenyum miring, "Anda tenang saja Tuan. Saya juga tidak sudi untuk membuka hati pada pria arogan seperti Anda. Dan asal Anda tahu ya! Bahkan pria idaman dan kriteria yang saya mau, tidak ada dalam diri Anda, Tuan Reyhan Wiratama." Silvia berkata dengan nada menekan.
Membuat Rey seketika membulat dan menatap tajam ke arahnya, tapi wanita itu hanya mengedipkan kedua bahunya saja.
Kemudian Silvia bangkit dari duduknya, namun saat dia sampai di pintu wanita itu pun berbalik kembali menatap ke arah Rey.
"Saya juga ingin mengingatkan kepada Tuan. Sebaiknya Tuan menjaga hati, karena bisa saja bukan saya yang jatuh cinta terlebih dahulu, tapi Tuan yang jatuh cinta pada saya. Karena cinta itu akan datang seiring berjalannya waktu, dan hati-hatilah dengan waktu itu Tuan!" Silvia kemudian keluar dari ruangan tersebut.
Sementara Rey menganga saat mendengar ucapan dari wanita itu. "Jangan pernah ngarep ya! Aku tidak akan pernah jatuh cinta kepada gadis alien seperti dirimu!" teriak Rey.
Namun Silvia tidak peduli, dia melenggang keluar menuju taman yang ada di samping rumah. Wanita itu ingin menatap langit malam yang begitu gelap ditaburi bintang-bintang yang bertaburan dengan Indah.
Hal yang selalu ia lakukan saat hatinya sedang gelisah.
__ADS_1
'Kenapa sih aku harus menikah dengan pria seperti dia? Aku juga ingin punya pasangan seperti idolaku, Lee Min Ho, tampan dan rupawan. Walaupun tidak kupungkiri, Tuan Ret juga tampan, tapi sayang dia bukan selera aku.' batin Silvia sambil memanyunkan bibirnya.
BERSAMBUNG.....