
Happy reading....
Rey mengikuti ke mana Silvia menarik dirinya, dan saat wanita itu melihat rerumputan dia segera menarik Rey untuk bersembunyi di sana.
"Sebenarnya ada ap--" ucapan Rey terhenti saat Silvia menaruh jari telunjuknya di bibir pria tampan tersebut. Membuat Rey seketika terpaku.
Terdengar derap langkah yang semakin mendekat, dan berhenti di dekat tempat mereka bersembunyi. Jantung Silvia berdegup kencang, wajahnya bahkan terlihat ketakutan.
"Ke mana mereka? Sial! Kita kehilangan jejak wanita itu. Ayo kita cari lagi!" ucap salah satu pria yang mengejar Silvia dengan geram.
Terlihat Silvia bernafas dengan lega, sedangkan sedari tadi Rey terus saja melihat ke arahnya tanpa berkedip.
'Jika dilihat dari dekat, dia memang sangat cantik,' batin Rei, 'Tapi sayang, menyebalkan dan selalu membuatku sial.'
Silvia menatap ke arah Rey, dan saat tatapan mereka bertabrakan keduanya pun terdiam, hingga tiba-tiba saja Rey merasakan sesuatu yang jatuh di atas kepalanya.
PUK!
Kemudian dia memegang sesuatu itu, dan saat dilihat ternyata itu adalah kotoran burung, di mana ada burung di atas pohon yang tengah hinggap dan menjatuhkan kotorannya tepat mengenai kepala Rey.
"Oh Shiit! bmBurung sialan! Kenapa kau malah buang kotoran di kepalaku hah!" kesal Rey sambil mengibaskan tangannya karena dia merasa jijik.
"Huwweek! Mana bau banget lagi." Rey menutup hidungnya saat dia mencium bau yang begitu tidak enak dari sebelah tangannya.
__ADS_1
Sementara Silvia sedari tadi menahan tawa, hingga mereka berdiri. Lalu Rey menatapnya dengan tajam, karena secara tidak langsung dia kejatuhan kotoran burung karena Silvia.
"Apa kau tertawa hah! Ini semua gara-gara kamu ya. Coba saja kamu tidak menarikku ke sini, rambutku ini masih bersih dan wangi. Sekarang lihat! Iiiuh ... kotor banget, mana bau!" gerutu Rey dengan kesal.
"Yey, situ yang kena kotoran burung, kok saya yang disalahin sih?" jawab Silvia dengan ketus
"Jelas ini adalah salahmu. Lihat! Aku selalu sial kalau berada di dekatmu, dasar kau wanita pembawa sial!" gertak Rey dengan kesal, kemudian dia pergi meninggalkan Silvia menuju mobil.
Setelah berjalan beberapa langkah, Rey tidak menemukan adanya Silvia yang mengikuti langkahnya. Pria itu pun membuang nafas dengan kasar, kemudian dia memutar bola matanya dengan malas.
"Gadis ini benar-benar membuatku sangat marah!" kesal Rey sambil kembali berjalan ke tempat di mana dia tadi bersembunyi dengan Silvia.
Saat sampai di sana, Ret melihat wajah Silvia yang begitu sedih. Dia pun berdecak,nkemudian menarik tangan Silvia namun langsung dihempaskan oleh wanita itu.
"Lepaskan saya, Tuan!" pinta Silvia.
"Kalau memang saya wanita pembawa sial, ya sudah, Tuan tinggalkan saja saya di sini. Saya bisa kok pulang sendiri." Silvia berkata dengan nada tak kalah tinggi.
Kemudian dia meninggalkan Rey, dan melihat itu Rey pun merasa geram. "Oke, kau pulanglah sendiri. Aku mau ke kantor!" Setelah berkata seperti itu Rey pergi dari sana meninggalkan Silvia.
Mereka berjalan berlawanan arah, Rey masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan tempat itu. Dia tidak peduli dengan keadaan Silvia, karena pria itu sangat yakin jika Silvia bisa pulang ke rumah.
Sementara Silvia ingin menenangkan dirinya dulu, entah kenapa hatinya merasa sakit saat Rey mengatakan jika ia wanita pembawa sial.
__ADS_1
Wanita itu pun duduk di kursi yang ada di taman sambil menangis. Dia tidak menyangka jika sebentar lagi akan menikah dengan pria yang begitu arogan, bahkan tidak pernah menghargainya.
"Iya aku tahu, aku ini adalah seorang pelayan. Mana ada seorang majikan yang mau dan rela menikah dengan wanita seperti diriku? Tapi tidak sepatutnya dia mengatakan hal yang begitu membuatku hancur. Memangnya ada manusia yang ingin membawa sial untuk orang lain?" ucap Silvia dengan lirih sambil menghapus air matanya.
Sementara Rey baru saja sampai di kantor, dia langsung masuk ke dalam lift, tidak menghiraukan tatapan heran semua karyawannya saat melihat keadaan Rey yang kacau, apalagi dengan bau yang menyengat.
"Nando, tunda 30 menit lagi meetingnya! Aku akan membersihkan diri dulu," ucap Rey saat melewati ruangan Nando.
"Baik Tuan," jawab Nando dengan sedikit kebingungan. Karena melihat penampilan Rey yang begitu kacau, apalagi dengan kotoran burung yang berada di kepala pria tampan tersebut.
'Tuan Rey habis dari mana? Kenapa di kepalanya ada kotoran? Apakah dia habis ke kebun binatang?' batin Nando sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
Sementara di tempat lain, Silvia masih menangis di taman kemudian dia menghapus air matanya dan beranjak untuk pulang, tapi wanita itu lupa jika ia tidak membawa uang sepeserpun.
"Astaga! Bodoh sekali aku. Kenapa tidak membawa uang? Lalu aku jalan pakai apa? Mana jalanannya gak hafal lagi!" gerutu Silvia sambil menepuk jidatnya.
Saat dia akan pergi dari sana, tiba-tiba tangannya dicekal oleh seseorang. "Nah! Ketemu kan kau. Sekarang tidak bisa lari lagi. Ayo ikut kami!" bentak pria tersebut yang tak lain adalah preman yang dari tadi mengejar Silvia.
Wanita itu terlihat panik dan ketakutan. "Tolong lepaskan saya, Pak! Saya benar-benar minta maaf, saya tidak bersalah."
"Halah! Jangan banyak bacot deh lo. Sekarang ikut sama kami!" kedua preman tersebut menarik tangan Silvia dan membawanya dengan sedikit menyeret.
Silvia memberontak, dia tidak mau sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian wanita itu pun berteriak, namun akhirnya pundak Silvia dipukul hingga membuat wanita itu tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Merepotkan saja;" geram preman tersebut sambil menggendong tubuh Silvia bak karung beras.
BERSAMBUNG.....