
Happy reading....
Tepat jam setengah enam sore, Rey sudah pulang ke rumah. Dia sedikit kelelahan karena hari ini membuatnya sedikit menguras tenaga dan juga otak.
Biasanya apa-apa Rey akan melimpahkan kepada sekretarisnya, namun kali ini dia ingin menyibukkan diri lewat pekerjaan untuk melupakan perasaannya kepada Nagita.
Saat pria itu selesai membersihkan diri, dia berjalan ke arah ruang ganti dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya, menutupi sesuatu yang sedang bergelantungan di bawah sana.
Pria itu mengambil baju di dalam lemari, dan dia tidak sadar jika ada seorang wanita yang tengah membereskan bajunya di lemari sebelah, karena tidak kelihatan sebab ketutup oleh pintu lemari yang terbuka.
Saat pintu itu tertutup, wanita yang berada di sana yang tak lain adalah Silvia menjerit sambil menutup kedua matanya, saat melihat Rey tak pakai baju dengan keadaan polos.
"Waaaa! Terong gandul!" teriak Silvia
"Aaaaa!" teriak Rey.
Dia juga sangat kaget saat melihat wanita itu, kemudian dia segera menutupi barang berharganya dan mengambil handuk yang terjatuh di lantai.
Sementara Silvia langsung membalikkan badan sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dadanya berdebar dengan kencang karena baru pertama kali dia melihat sesuatu yang tak pernah di lihat sebelumnya.
"Astaga! Mataku ternoda. Mataku yang suci ini sudah ternoda," gumam Silvia merutuki dirinya sendiri.
Rey yang sudah selesai memakai celana seketika menepuk pundak Silvia, tapi wanita itu menggeleng karena enggan untuk berbalik, dia takut jika Rehan belum berpakaian.
"Hei berbaliklah!" titah Rey, namun Silvia menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Apa Tuan sudah gila? Saya harus berbalik dan melihat terong gandul itu lagi? Tidak mau!" tolak Silvia dengan ketus.
Rey mengeraskan rahangnya, dia mencoba untuk bersabar menghadapi gadis seperti Silvia. Ksmudian dia membalik badan wanita itu dengan paksa.
"Aku sudah berpakaian, dasar gadis ceroboh! Apa kau tidak punya sopan santun? Masuk ke dalam kamar orang tanpa mengetuk pintu dulu, hah!" bentak Rey yang merasa kesal.
Silvia mengintip dari celah jari-jari tangannya, dan dia melihat jika Rehan memang sudah menggunakan celana, tapi pria itu masih belum menggunakan baju.
"Tuan, masih belum menggunakan baju. Pakai dulu bajunya!" ujar Silvia
__ADS_1
Rey melongo saat mendengar ucapan dari wanita itu. Baru pertama kali ada seorang wanita yang memerintah dirinya, karena biasanya dialah yang memerintah orang lain.
"Kau menyuruh diriku, hah!* bentak Rey yang tidak terima.
"Saya tidak memerintah Tuan, hanya saja apa Tuan tidak punya malu? Kenapa tidak pakai baju. Tuan ingin membuat mata saya semakin ternoda, hah?"
"Kau!" geram Rey sambil mengepalkan tangannya, kemudian dia menghembuskan nafas dengan kasar lalu mengambil baju dan memakainya.
"Aku sudah pakai baju, dan sekarang kau pergi dari sini! Lain kali kalau kau ingin masuk ke dalam kamar orang lain, ketuk pintu dulu! Apa kau ingin aku pecat berserta dengan ibumu, hah!"
Silvia yang mendengar ancaman dari Rey segera menggelengkan kepalanya, "Tidak Tuan. Tolong jangan. Tadi saya sudah mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban, jadi saya masuk saja karena saya juga membawa pakaian yang akan ditaruh di lemari. Saya pikir Tuan tidak ada di kamar. Kalau begitu saya pamit dulu, kalau nanti terong gandul itu copot bagaimana?" Setelah mengatakan itu Silvia langsung berlari keluar dari kamar Rey.
"Dasar kau gadis kurang obat!" teriak Rey yang tidak terima.
Kemudian dia memegang barang berharganya. "Enak saja dia menamai nagaku dengan terong gandul. Apa tidak ada nama yang lebih efisien?" gerutu Rey sambil berkaca.
.
.
Pria itu pun duduk di hadapan kedua orang tuanya, tapi yang membuatnya aneh adalah, di sana juga ada bi Sari, ibunya Silvia.
"Mah, Pah, kenapa di sini ada ..." Rey menggantung ucapannya sambil menatap ke arah bi Sari.
"Iya, sebab ini ada hubungannya dengan bi Sari," jawab Om Baim.
Pria tersebut menautkan kedua alisnya saat mendengar ucapan dari sang Papa, namun dia juga tidak ingin banyak bicara, karena jujur Rey juga sangat penasaran apa yang akan dibicarakan oleh kedua orang tuanya, dan kenapa berhubungan dengan pelayan.
Tak lama pintu ruangan keluarga itu pun terketuk, dan masuklah seorang gadis yang tak lain adalah Silvia. Rey yang melihat itu tentu saja sangat kesal, sebab setiap bertemu dengan Silvia dirinya akan selalu saja sial dan wanita itu selalu membuatnya kesal.
'Kenapa sih cewek ceroboh masuk ke sini sih? Ada apa sebenarnya? Kenapa perasaanku jadi tidak enak?' batin Rey bertanya-tanya.
"Maaf Tuan, Nyonya, apa Tuan dan Nyonya memanggil saya?" tanya Silvia sambil menundukkan kepalanya.
"Iya, duduklah Silvia!" pinta Tante Mega mempersilakan Silvia untuk duduk di samping ibunya.
__ADS_1
"Oke. Tanpa berbasa-basi, sepertinya kita langsung saja ya. Rey, sebenarnya papa meminta kamu untuk datang ke sini adalah karena ... Papa ingin menjodohkan kamu dengan Silvia, anaknya bi Sari."
"Apa! Dijodohkan!" kaget Silvia dan juga Rey serempak, kemudian mereka saling melirik satu sama lain dengan wajah yang sangat syok.
Om Baim dan juga Tante Mega mengangguk bersamaan, kemudian Rey pun berkata, "Tidak Pah, Mah. Apa-apaan ini? Kalian kalau lagi nge-prank aku jangan kayak gini dong! Kalian kan tahu, aku baru putus dari Nagita, masa iya dijodohin sama cewek ceroboh kayak gitu? Nggak mau!" tolak Rey dengan keras.
"Rey, dengerin dulu penjelasan papa dulu!"
"Maaf Pah, tapi kali ini Rey tidak bisa. Masa iya sih Rey bersanding dengan cewek ceroboh kayak gitu?" Ray menatap sini ke arah Silvia.
Melihat itu Silvia pun merasa tak terima, "Emangnya Tuan pikir, saya mau dijodohkan dengan orang seperti Tuan? Udah sombong, arogan, punya terong gandul juga besar. Iiish! Nggak banget."
Mendengar itu Rey membulatkan matanya dengan tajam, pipinya seketika bersemu merah saat mendengar penuturan dari gadis itu.
"Terong gandul?" ucap Om Baim Tante Mega dan juga bi Sari bersamaan dengan bingung.
"Iya Bu, Nyonya, Tuan, itu .... euumph!" Rey membekap mulut Silvia sambil menatapnya dengan tajam, karena kebetulan gadis itu duduk tak jauh darinya.
Dia tidak mau jika nanti kedua orang tuanya mengetahui apa yang terjadi tadi di kamarnya.
"Jika kau berani membicarakan kepada kedua orang tuaku, akan kupotong dua gunungmu dan kukasih kepada kanibal, mau!" ancam Rey.
Silvia menggeleng sambil meneguk ludahnya dengan kasar. Kemudian menginjak kaki Rey, sehingga membuat pria itu meringis kesakitan. Sementara Tante Mega, Om Baim dan juga bi Sari menatap mereka berdua dengan heran.
"Pokoknya aku nggak mau ya Pah, dijodohin sama dia!" tolak Rey dengan keras
"Emang Tuan pikir, saya juga mau dijodohin dengan Tuan? Jangan karena tampang Tuan itu keren ganteng, semua wanita mau gitu? Iiihh, ogah!" Silvia melengos sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Sementara Rey dibuat melongo dengan jawaban dari wanita itu, karena baru pertama kalinya dia ditolak mentah-mentah oleh seorang wanita. Biasanya dia malah dikejar-kejar, tapi sekarang di hadapan kexua orang tuanya, malah pamor dari seorang Rehan Wiratama jatuh.
'Gadis ini benar-benar membuatku sangat kesal! Dasar gadis alien!' Rey menggerutu dalam hati.
'Dasar Tuan terong.' batin Silvia tak kalah kesal.
BERSAMBUNG....
__ADS_1