
Happy reading....
Hari ini Rey pulang lebih awal, sebab hatinya sedang kacau. Dia bukanlah tipekal pria yang jika ada masalah lari ke klub malam, meminum minuman yang berbau alkohol.
Walau pergaulan Rey dikelilingi oleh pergaulan yang sangat bebas, tapi tidak menjadikannya pria yang suka mabuk-mabukan, karena Rey memang tidak suka meminum minuman yang seperti itu.
Dia berpikir, jika ada masalah berlari pada minuman yang seperti itu hanya akan membuat dirinya malah semakin terpuruk. Karena bukan menghilangkan beban, namun malah menambah. Walau untuk sejenak Iya, pikirannya akan tenang, tapi setelah efek dari minuman itu hilang, dia malah akan ketagihan.
Mobil terparkir di halaman depan, Rey langsung turun dari mobilnya. Dia berjalan untuk masuk ke dalam rumah, tapi tiba-tiba saja sesuatu yang basah menyiram dirinya.
BYUR.
"Hei! Hei hentikan!" teriak Rey sambil menyilangkan tangannya di depan wajah.
Wanita yang sedang memegang selang seketika terlonjak kaget, saat dia tidak sengaja mengarahkan air yang ada di selang tersebut ke arah Rey.
Wanita itu langsung mencopot headset yang ada di telinganya, kemudian dia mematikan keran air, lalu berjalan ke arah Rey yang sedang membersihkan jasnya yang basah.
"Ma-maaf Tuan, sa-ya tidak se-ngaja," ucap wanita itu dengan gugup sambil menundukkan kepalanya.
Rey yang sedang kesal, melihat kejadian itu bertambah emosi. Kemudian dia mencengkram lengan wanita tersebut sampai membuatnya meringis kesakitan.
__ADS_1
"Aawh! Sakit Tuan."
"Apa kau tidak punya mata, hah! Kau disini kerja dibayar. Apa matamu ditaruh di kaki? Apa kau pikir, aku ini pohon? Tanaman? Sampai kau harus menyiramku seperti ini!" bentak Rey dengan suara yang tinggi.
Tante Mega yang akan ke taman seketika melihat putranya pulang dengan keadaan yang basah kuyup, namun juga marah-marah kepada pelayannya.
"Hei, Nak. Ini ada apa? Kok kamu marah-marah sama dia?" tanya Tante Mega saat sudah berada di hadapan Rey.
"Gimana aku nggak marah-marah Mah. Nih, lihat! Baju aku sampai basah kuyup kayak gini, gara-gara pelayan ini nih. Masa dia nyiram aku sih? Emangnya dia pikir aku ini tanaman?" kesal Rey sambil menatap sinis ke arah wanita yang tengah menunjukkan wajahnya.
"Maafkan saya Tuan, Nyonya. Saya tadi tidak melihat jika ada Tuan Rey pulang. Tadi saya sedang mendengarkan musik, saking senangnya saya tidak sengaja memutar tubuh dan selangnya malah mengarah ke Tuan Rey," jelas wanita itu.
Rey menganga mendengar penjelasan dari wanita yang dia perkirakan masih sangat muda. "Apa kau bilang! Mendengarkan musik? Kau mendengarkan musik apa? Dungdat, sampai kau berjoget? Kerjakan tugasmu dengan baik! Kau di sini dibayar. Apakah dengan mendengarkan musik, kau dibayar, hah!"
"Hey Rey, tenanglah jangan marah-marah. Dia kan sudah minta maaf, sudah yuk masuk! Ada yang mau mama bicarakan sama kamu. Dan kamu Silvia, terus kan menyiramnya ya!"
"Baik Nyonya."
Akhirnya Rey pun masuk ke dalam. Dia membuka jasnya dan melempar ke arah pelayan itu yang bernama Silvia.
BUK!
__ADS_1
"Cuci bajuku! Dasar gadis ceroboh!" titah Rey dengan sinis.
"Baik Tuan," jawab Silvia.
Setelah kepergian Rey dan juga Tante Mega masuk ke dalam rumah, Silvia pun menggerutu dengan kesal karena melihat sikap dari pria tersebut.
"Dasar tuan muda arogan, macam di novel-novel aja, sinis banget. Memangnya kenapa kalau aku pelayan? Kalau aku dengerin dangdut? Emangnya nggak boleh. Yang penting aku happy, kebahagiaan itu tidak bisa dibeli kali! Lagian nyebut dangdut aja salah!" gerutu Silvia sambil memayunkan bibirnya.
Silvia awalnya menganggap Rey itu pria yang baik, karena dari pelayan-pelayan lain dia dengar bahwa Rey orang yang sangat dingin dan juga irit bicara, namun juga sangat tegas.
Sementara Rey merasa heran, sebab baru pertama kali dia melihat pelayan tersebut.
"Mah, pelayan tadi siapa sih? Kok aku baru lihat?" tanya Rey saat sudah berada di ruang tamu.
"Itu namanya Silvia. Dia membantu ibunya di sini, karena kebetulan wanita itu juga dari kampung dan mencari pekerjaan. Jadi tidak ada salahnya jika dia di sini bekerja."
"Oh." Rey hanya menjawab dengan singkat, kemudian dia pamit untuk ke kamar.
"Tunggu Rey! Ada yang mau mama bicarakan."
"Nanti aja ya Mah, aku mau mandi dulu, gerah. Nanti kita bicara di samping rumah dekat kolam." Rey pun beranjak dari duduknya, kemudian masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri dan juga merefreshkan otaknya yang terasa panas, sebab hari ini terasa begitu berat baginya.
__ADS_1
BERSAMBUNG....