
Happy reading....
Pagi ini Rey sudah siap dengan setelan joggingnya, karena dia akan berlari pagi. Sudah lama sekali pria itu tidak melakukan hal tersebut, karena biasanya pagi-pagi Rey langsung video call bersama dengan Nagita, tapi sekarang hal itu tidak akan ia lakukan, makanya Rey mengambil kegiatan yang positif.
Dia turun ke lantai bawah memasang headset di telinganya dan mulai berlari keluar dari rumah, mengelilingi Komplek perumahannya.
Tepat jam 07.00 pagi Rey sudah pulang, keringat membasahi bajunya yang berwarna putih, menampilkan dada bidang serta roti sobeknya.
Saat Rey berjalan sambil mengelap wajahnya yang bercucuran keringat, tiba-tiba saja tubuhnya menabrak seseorang, dan orang itu hampir saja jatuh ke lantai. Melihat itu, dengan sigap Rey menangkap pinggangnya, sehingga tatapan mereka beradu untuk beberapa detik.
Rey yang tersadar pun segera melepaskan pelukannya, hingga membuat wanita itu jatuh yang tak lain adalah Silvia.
"Aawwh! Aduh bokong ku!" ringis Silvia sambil mengusap bokongnya yang terasa begitu sakit.
Kemudian dia berdiri dan menatap Rey dengan tajam. "Anda ini niat menolong apa tidak sih? Sakit tau nggak! Nanti kalau bokong saya pindah ke depan, bagaimana?" kesal Silvia dengan bibir cemberut.
Mendengar ucapan dari gadis somplak yang berada di hadapannya, Rey mengerutkan dahi. "Heh! Gadis somplak. Kalau ngomong itu yang bener. Mana bisa pantat pindah ke depan? Ada-ada saja. Yang ada kamu nyungsep mempunyai 4 gunung di bagian depan." Rehan pun memutar bola matanya, kemudian dia pergi meninggalkan Silvia yang masih saja meringis.
"Tuan tunggu dulu! Tanggung jawab dong, saya sakit ini!" Silvia menarik tangan pria tersebut.
__ADS_1
Melihat tangannya dipegang oleh wanita yang tak ia kenal, Rey langsung menghempaskannya, membuat Silvia cukup kaget dengan sikap pria itu.
"Tanggung jawab? Memangnya saya apain kamu? Lagi pula, kalau jalan itu pakai mata!" ketus Rey.
"Apa? Hello! Sejak kapan Tuan, jalan itu pakai mata? Yang ada jalan pakai kaki, kalau matanya di bawah terus wajahnya ada di mana?" Silvia terkekeh.
Rey yang baru saja capek habis jogging, dan kini dia berdebat dengan Silvia, membuat dirinya seketika merasa kesal. Kemudian dia membuang nafasnya dengan kasar, lalu meninggalkan Silvia karena tidak ingin berdebat.
"Tuan! Anda ini mau ke mana? Bukannya minta maaf!" teriak Silvia yang tak terima karena melihat Rey pergi begitu saja.
Pria tersebut menghentikan langkahnya, rahangnya mengeras dengan gigi mengerat, kemudian dia berbalik ke arah Silvia dan menatapnya dengan tajam, membuat wanita itu seketika bergidik saat melihat tatapan dari Rey.
Satu tangan Rey menempel di dinding, mengungkung tubuh wanita itu. Sementara Silvia memejamkan matanya, karena jarak wajah Rey dengannya sangat dekat, hingga hembusan nafas berbau mint dari pria tersebut menguar dengan jelas ke Indra penciumannya.
"Kau dengar ya! Di sini kau adalah pelayan, dan aku adalah bosnya. Seharusnya kau mempunyai tata krama dan sopan santun, jangan berlaku kurang ajar, paham! Dasar gadis udik," ucap Rey dengan nada dingin namun terkesan tajam.
Dia pergi meninggalkan Silvia yang masih terbengong saat mendengar ucapan yang begitu sarkas dari mulutnya.
"Dih! Dasar tuan muda songong. Pantesan aja diputusin, ternyata wataknya tidak sebaik yang pelayan lain bilang. Dari mana baiknya? Jcapannya aja pedes melebihi lambe turah emak-emak komplek yang lagi pengajian!" gerutu Silvia sambil komat-kamit.
__ADS_1
Dia kembali meneruskan langkahnya menuju taman depan untuk menyiram tanaman, namun bibirnya terus saja menggerutu dengan sikap Rey.
.
.
Semua sudah berkumpul di meja makan, dan di sana juga ada Silvia beserta dengan ibunya yang sedang berdiri berjajar dengan pelayan yang lain.
"Rey ingat ya, nanti kamu pulangnya jangan malam-malam, karena ada hal penting yang akan dibicarakan oleh papa!" ucap Om Baim.
"Memangnya apa sih, Pa? Kenapa tidak sekarang saja," jawab Rey sambil mengunyah makanannya.
"Sekarang kan kamu lagi ada meeting. Sudah nanti malam saja, pokoknya jangan telat pulang ya! Jika ada lembur, serahkan dulu sama asistenmu!"
Rey hanya bisa menganggukan kepalanya saat mendengar perintah dari sang Papa. Sejujurnya ia sangat penasaran, karena terlihat dari raut wajah Papanya hal yang akan disampaikan nanti malam itu begitu penting.
Setelah sarapan dia bangkit dari duduknya hendak pergi ke kantor, namun tatapannya seketika beradu dengan Silvia. Dan Rey hanya tersenyum miring lalu melewati Silvi begitu saja.
'Dasar tuan muda sombong. Ku sumpahin kamu jadi jomblo akut.' batin Silvia menggerutu, karena masih kesal dengan sikap Rey tadi pagi.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....