
Happy reading....
Setelah membersihkan dirinya, Rey menuruni tangga menuju tempat di mana sang mama sudah menunggu. Sebab mereka sudah berjanji akan berbicara.
Sebenarnya Rey itu penasaran apa yang akan dibacakan oleh mamanya, sebab terlihat dari raut wajah sang Mama jika hal itu sangat penting.
"Memangnya ada apa, Mah? Apa yang ingin Mama bicarakan sama aku?" tanya Rey saat sudah sampai di sana dan duduk di samping Tante Mega.
"Mama ingin bicara soal Nagita."
Mendengar nama itu, membuat amarah Rey kembali memuncak. Rasanya untuk mendengar namanya saja ia benar benar tak sudi.
"Tidak usah menyebut namanya lagi Mah! Dia sudah mati." Terlihat wajah Rey tidak suka saat Tante Mega menyebutkan nama Nagita.
Baginya nama itu sudah mati di dalam hidupnya maupun di dalam hatinya, karena yang ada sekarang adalah kebencian untuk Nagita.
Tante Mega merasa heran melihat reaksi Rey, sebab biasanya jika membicarakan tentang Nagita, Rey akan semangat dan juga antusias tapi ini malah kebalikannya.
Tante Mega berfikir, mungkin saja antara Rey dan juga Nagita sedang ada masalah.
"Apa kamu dan dia sedang bertengkar?" Tante Mega menatap heran ke arah putranya.
"Kami sudah putus. Mama benar, dia bukanlah wanita yang baik. Dia bahkan bermain api di belakangku, padahal apa kurangnya aku, Mah? Semua sudah kuberikan kepadanya, cinta, kasih sayang, apa yang dia mau kuberikan, kemewahan, semuanya aku kasih. Tapi apa balasannya untukku? Malah sebuah penghianatan. Benar-benar menjijikan! Untung saja aku dan dia baru bertunangan, coba kalau aku dan dia sudah menikah? Bisa-bisa ku gantung dia di Menara Eiffel!" geram Rey sambil mengepalkan tangannya.
Melihat kemarahan dari putranya, Tante Mega pun akhirnya mengerti. Kemudian dia menggenggam tangan Rey dan mengusap pundak pria itu dengan lembut.
"Setidaknya kamu sudah tahu kan, bahwa Nagita bukanlah wanita yang baik. Itu kenapa Mama tidak menyetujuinya. Untung kalian belum menikah, coba kalau sudah. Perceraian hanya akan membuat sakit lebih dalam."
Rey hanya membuang nafasnya dengan kasar sambil menundukkan kepala, dan tak lama seorang pelayan yang tak lain adalah Silvia datang membawakan minuman.
__ADS_1
"Maaf Nyonya, Tuan, ini minumnya," ucap Silvia sambil menaruhnya di atas meja.
"Makasih ya Silvia."
"Sama-sama Nyonya, ada yang dibutuhkan lagi?"
"Tidak ada."
"Baik, kalau begitu saya permisi ke belakang dulu."
"Tunggu Silvia!" Tante Mega menahan tangan Silvia, membuat Gadis itu merasa canggung.
"Iya Nyonya, ada apa?"
Kemudian Tante Mega meminta Silvia untuk duduk. "Duduklah! Ada yang ingin saya tanyakan sama kamu."
"Maaf Nyonya, ada apa ya?" tanya Silvia yang merasa takut jika ia telah melakukan kesalahan.
"Saya ingin bertanya, umur kamu berapa?"
"Oh, umur saya baru 20 tahun, Nyonya."
"Kamu lulusan apa?"
"Saya lulusan SMA, Nyonya."
"Kenapa tidak kuliah?"
Sejenak Silvia terdiam, karena dia merasa heran sebab Tante Mega memberuntun dia dengan berbagai pertanyaan. Namun Silvia merasa jika itu adalah hal yang wajar, yang ditanyakan oleh majikannya.
__ADS_1
"Mah, ngapain sih nanya-nanya?" Rey menatap ke arah mamanya dengan bingung.
"Memangnya kenapa? Kan mama cuma ingin bertanya. Mama ingin mengenal pelayan semua di sini dengan baik, dan mama harus tahu dong seluk-beluk dan juga babat, bibit dan bebet nya," jawab santai tante Mega, dan Rey hanya bisa diam.
"Saya tidak kuliah Nyonya, soalnya tidak ada biaya. Lagi pun kuliah biayanya sangat besar, saya tidak mau memberatkan kedua orang tua saya. Jadi lebih baik saya kerja mencari uang dan membantu mereka," jawab Silvia.
Tante Mega benar-benar kagum pada wanita itu.
"Tante benar-benar kagum sama kamu. Kamu mau bekerja di usia kamu yang masih muda, di mana semua orang saat ini sudah kuliah dan sebentar lagi akan lulus."
Silvia hanya tersenyum saja, kemudian dia pun pamit kembali sebab masih ada pekerjaan yang harus ia kerjakan.
Sementara Rey menatap heran ke arah sang mama, di mana wanita itu terlihat mengetuk-ngetuk jarinya di kursi seperti memikirkan sesuatu.
"Mah, kenapa sih nanyain dia kayak gitu? Mau dia kuliah kek, mau nggak, itu bukan urusan kita. Dia di sini kerja, ya kita bayar."
Tante Mega menatap ke arah Rey, kemudian dia beranjak dari kursinya. "Jangan terlalu tidak suka sama dia. Nanti kamu jatuh cinta loh. Dia kan cantik, muda lagi," kekeh Tante Mega.
Mendengar ucapan sang Mama, Rey malah ketawa.
"Apa! Jatuh cinta sama dia? Seorang pelayan? Yang bener aja Mah. Lagian ya, cewek ceroboh kayak gitu mana selevel sama aku? Mamah kan tahu, aku nggak suka cewek yang ceroboh. Udah ah, aku mau masuk dulu, masih ada kerjaa." Rey melenggang masuk sambil menggelengkan kepalanya.
Dia tidak habis pikir, apa yang dipikirkan oleh mamanya sampai berbicara seperti itu. Mana mungkin dia jatuh cinta kepada seorang pelayan walaupun Silvia sangat cantik, Rey tidak mungkin jatuh cinta kepadanya.
Apalagi pertemuan pertama mereka membuat Rey tidak suka kepada Silvia, dan sudah pasti kedepannya juga Reg masih tidak akan pernah menyukainya. Karena bagi dia, Silvia sudah diberi cap sebagai gadis ceroboh.
Sementara Tante Mega hanya tersenyum miring saat melihat tanggapan dari putranya. 'Kita lihat saja. Apakah kamu akan menjilat ludah mu sendiri?' batin Tante Mega.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1